Jumat, 29 Januari 2016

Tauhid

AQIDAH AKHLAQ
Mas Punk 
TAUHID
&
TAWAKKAL  KEPADA  ALLAH

Tauhid adalah sebuah upaya untuk mengesakan Allah, yaitu dengan cara menegaskan Dzat Allah yang Qadim, Sifat-Sifat-Nya dan Asma-Nya. Dia tidak menyerupai segala sesuatu “Laisa Kamistlihi Syaiun” tidak beranak dan di peranakkan. Karena Dia bersifat laisa Kamitslihi Syaiun sehingga sebaik dan sesempurna apapun manusia mencoba mendeskripsikan atau menggambarkan tentang Dzat Allah maka tidak mungkin sama dengan Wujud Allah yang sesungguhnya.
Cara seseorang beragama dengan menggunakan konsep Tauhid murni tentu berbeda dengan yang tidak murni, diantara ciri-cirinya adalah :
1.      Orang bertauhid murni akan meniatkan segala aktifitasnya untuk beribadah kepada Allah dan bukan untuk kepentingan yang lain termasuk kepentingan diri sendiri.
2.      Orang yang bertauhid menjadikan Allah sebagai awal dan akhir kehidupanya, memuji dan memuja hanya kepadaNya. Bahkan menjadikan Allah sebagai subjek dalam beragamanya dan bukan objek karena terkadang manusia menjadikan Allah sebagai objek kepentingannya.
3.      Orang yang bertauhid beranggapan bahwa mengenal Allah adalah tujuan dia di ciptakanya sehingga setiap saat, mereka hanya berusaha mendekatkan diri kepada Allah agar lebih mengenal tentang ilmu Allah.
Jadi bertauhid adalah menomorsatukan segala sendi kehidupan hanya kepada Allah, baik niat, praktek sampai kepada harapan-harapan kebahagiaan dunia dan akherat. Allah berfirman di dalam surat Al-Qashas 28 “ janganlah kamu sembah di samping Allah, Tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Segala sesuatu bakal binasa, kecuali Allah saja. Bagi-Nya lah segala penentuan dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan”.
Menurut Imam Ghazali, tauhid di bagi menjadi 4
1.      Tauhid nya manusia munafiq, mereka beriman tetapi keimanan mereka hanyalah menipu, agar dikatakan sebagai manusia beriman maka berusaha membuat citra baik terhadap dirinya diantara manusia sekelilingnya.
2.      Tauhid nya kaum muslimin pada umum nya. Tauhid manusia awam, yang cara mengesakan Allah masih sebatas di mulut dan belum kepada tingkat khusus.
3.      Tauhid nya orang-orang khusus. Pada tingkat ini, manusia telah diberi kelebihan berupa Kasyaf yaitu sebuah penyingkapan atas ilmu-ilmu Allah sehingga dia mampu mengetahui rahasia-rahasia yang di miliki oleh Allah.
4.      Tauhid nya orang khawasul khawas, pada level ini si hamba lenyap dalam tauhid. Dan pada tingkat ini pula, Allah memberi gelar kepada mereka Siddiq. Memang untuk mencapai tingkatan ini tidak mudah tetapi jika di lakukan dengan betul-betul mengharap ridho Allah  maka tidak ada yang sulit bagi Allah untuk memberikan karunia kepada siapa saja yang di pilihnya.
Barang siapa yang meyakini bahwa ada kekuatan lain selain dari Allah maka orang tersebut telah mendhalimi Allah dan termasuk orang-orang yang Syirik kepada Allah. Siapa saja yang mendatangi tempat-tempat keramat, dukun, peramal untuk menanyakan nasib bahkan meminta kepada kuburan atas kesusksesan dunia maka semua ini adalah Syirik kepada Allah karena Allah lah satu-satunya tempat meminta dan bergantung dari segala sesuatu. Tidak ada yang bisa memberi rezeki, menolak bala’, menolong dari kematian kecuali semua atas izin Allah. Semoga kita semua Allah selamatkan kita dari hal-hal yang membuat kita syirik kepada Nya.
Tawakkal adalah sebuah upaya untuk menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah dan hanya mengharap pertolongan dari Allah. Salah satu contoh bentuk tawakkal adalah persoalan rezeki manusia, karena hampir segala lini permasalahan manusia selalu berkaitan dengan rezeki sehingga banyak manusia kufur atau bersyukur disebabkan oleh rezeki. Bahkan diantara mereka terkadang berbuat syirik kepada Allah karena terhimpit permasalahan rezeki. Sehingga tidak sedikit diantara mereka yang hina disebabkan perbuatan mereka yang menyimpang dari nilai-nilai ketuhanan.
Tawakkal adalah bergantung kepada Allah setelah melakukan sebuah usaha secara maksimal berupa ikhtiyar untuk mencapai sebuah tujuan tertentu. Allah SWT berfirman di dalam surat Al-Maidah ayat 23, “dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” artinya bahwa Allah menyuruh manusia-manusia yang mengaku beriman untuk betul-betul menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah. Karena tidak sedikit manusia yang mengaku beriman tetapi terkadang masih bersikap sombong terhadap Allah, buktinya menganggap bahwa keberhasilan dirinya tidak ada campur tangan dari Allah SWT bahkan dengan bangganya mengatakan bahwa ini adalah hasil kerjanya. Manusia yang demikian tentu bukan termasuk orang yang berserah diri kepada Allah.
Prinsip-prinsip Tawakkal
1.      Mujahadah
Bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan, seperti seorang pelajar yang giat belajar untuk mendapatkan ilmu dari guru-guru yang membimbingnya. Karena kesungguhanya dalam menuntut ilmu akan menentukan sebanyak apa ilmu mampu untuk di kuasainya.
2.      Doa
Walalupun kita sudah berupaya untuk mujahadah tetapi kita juga harus tetap berdoa memohon kepada Allah atas apa yang kita lakukan karena kita yakin yang mampu mewujudkan segala sesuatu pekerjaan kita hanyalah Allah SWT
3.      Syukur
Bersyukur adalah cara saat kita memperoleh keberhasilan tersebut karena siapa saja yang bersyukur maka Allah akan menambah kenikmatan yang diperoleh tersebut tetapi barang siapa yang kufur maka sesungguhnya azab Allah di peruntukkan bagi mereka yang kufur kepadaNya
4.      Sabar
Tetap bersabar jika belum memperoleh keberhasilan karena bisa jadi ketidaktercapainya sebuah tujuan adalah sebuah ujian dari Allah SWT dan itu lebih baik baginya. Tidak sedikit sesuatu yang terkadang tidak baik menurut kita ternyata baik bagi kita dan begitu sebaliknya. Itu adalah rahasia Allah untuk setiap hambanya, tugas kita hanyalah selalu berserah diri dan berbaik sangka terhadap segala ketentuan Allah. Sesuai dalam hadits Qudsi “Ana inda dhonni abdi” (aku sesuai prasangka hambaKu).
Latihan soal
1.      Jelaskan pengertian Allah bersifat Laisa Kamitslihi Syaiun?
2.      Apa yang di maksud dengan “kita harus bertauhid”?
3.      Sebutkan prinsip-prinsip bertawakkal kepada Allah?
4.      Apa yang kalian ketahui tentang Siddiqiin?
5.      Buatlah sebuah contoh kasus bagaimana kita menggabungkan antara konsep tauhid dan konsep tawakkal dalam kehidupan sehari-hari?










Referensi
Imam Ghazali, Mukhtasar Ihya’ Ulumuddin, Pustaka Amani Jakarta
Imam Ghazali, Raudhah (Taman Jiwa Kaum Sufi) Risalah Gusti. Surabaya.

Falah-kharisma.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar