AQIDAH & AKHLAQ
Mas Punk
TAUHID
&
TAWAKKAL KEPADA ALLAH
Tauhid adalah sebuah upaya untuk mengesakan Allah, yaitu dengan cara
menegaskan Dzat Allah yang Qadim, Sifat-Sifat-Nya dan Asma-Nya. Dia tidak
menyerupai segala sesuatu “Laisa Kamistlihi Syaiun” tidak beranak dan di
peranakkan. Karena Dia bersifat laisa Kamitslihi Syaiun sehingga sebaik
dan sesempurna apapun manusia mencoba mendeskripsikan atau menggambarkan tentang
Dzat Allah maka tidak mungkin sama dengan Wujud Allah yang sesungguhnya.
Cara seseorang
beragama dengan menggunakan konsep Tauhid murni tentu berbeda dengan yang tidak
murni, diantara ciri-cirinya adalah :
1.
Orang bertauhid murni akan meniatkan segala aktifitasnya untuk
beribadah kepada Allah dan bukan untuk kepentingan yang lain termasuk
kepentingan diri sendiri.
2.
Orang yang bertauhid menjadikan Allah sebagai awal dan akhir
kehidupanya, memuji dan memuja hanya kepadaNya. Bahkan menjadikan Allah sebagai
subjek dalam beragamanya dan bukan objek karena terkadang manusia menjadikan
Allah sebagai objek kepentingannya.
3.
Orang yang bertauhid beranggapan bahwa mengenal Allah adalah tujuan
dia di ciptakanya sehingga setiap saat, mereka hanya berusaha mendekatkan diri
kepada Allah agar lebih mengenal tentang ilmu Allah.
Jadi bertauhid adalah menomorsatukan segala sendi kehidupan hanya
kepada Allah, baik niat, praktek sampai kepada harapan-harapan kebahagiaan
dunia dan akherat. Allah berfirman di dalam surat Al-Qashas 28 “ janganlah
kamu sembah di samping Allah, Tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan melainkan
Dia. Segala sesuatu bakal binasa, kecuali Allah saja. Bagi-Nya lah segala
penentuan dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan”.
Menurut Imam Ghazali, tauhid di bagi menjadi 4
1.
Tauhid nya manusia munafiq, mereka beriman tetapi keimanan mereka
hanyalah menipu, agar dikatakan sebagai manusia beriman maka berusaha membuat
citra baik terhadap dirinya diantara manusia sekelilingnya.
2.
Tauhid nya kaum muslimin pada umum nya. Tauhid manusia awam, yang
cara mengesakan Allah masih sebatas di mulut dan belum kepada tingkat khusus.
3.
Tauhid nya orang-orang khusus. Pada tingkat ini, manusia telah
diberi kelebihan berupa Kasyaf yaitu sebuah penyingkapan atas ilmu-ilmu Allah
sehingga dia mampu mengetahui rahasia-rahasia yang di miliki oleh Allah.
4.
Tauhid nya orang khawasul khawas, pada level ini si hamba lenyap
dalam tauhid. Dan pada tingkat ini pula, Allah memberi gelar kepada mereka
Siddiq. Memang untuk mencapai tingkatan ini tidak mudah tetapi jika di lakukan
dengan betul-betul mengharap ridho Allah
maka tidak ada yang sulit bagi Allah untuk memberikan karunia kepada
siapa saja yang di pilihnya.
Barang siapa yang meyakini bahwa ada
kekuatan lain selain dari Allah maka orang tersebut telah mendhalimi Allah dan
termasuk orang-orang yang Syirik kepada Allah. Siapa saja yang mendatangi
tempat-tempat keramat, dukun, peramal untuk menanyakan nasib bahkan meminta
kepada kuburan atas kesusksesan dunia maka semua ini adalah Syirik kepada Allah
karena Allah lah satu-satunya tempat meminta dan bergantung dari segala
sesuatu. Tidak ada yang bisa memberi rezeki, menolak bala’, menolong dari
kematian kecuali semua atas izin Allah. Semoga kita semua Allah selamatkan kita
dari hal-hal yang membuat kita syirik kepada Nya.
Tawakkal adalah sebuah upaya untuk menyerahkan segala urusan hanya
kepada Allah dan hanya mengharap pertolongan dari Allah. Salah satu contoh
bentuk tawakkal adalah persoalan rezeki manusia, karena hampir segala lini
permasalahan manusia selalu berkaitan dengan rezeki sehingga banyak manusia
kufur atau bersyukur disebabkan oleh rezeki. Bahkan diantara mereka terkadang
berbuat syirik kepada Allah karena terhimpit permasalahan rezeki. Sehingga
tidak sedikit diantara mereka yang hina disebabkan perbuatan mereka yang
menyimpang dari nilai-nilai ketuhanan.
Tawakkal adalah bergantung kepada
Allah setelah melakukan sebuah usaha secara maksimal berupa ikhtiyar untuk
mencapai sebuah tujuan tertentu. Allah SWT berfirman di dalam surat Al-Maidah
ayat 23, “dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu
benar-benar orang yang beriman” artinya bahwa Allah menyuruh
manusia-manusia yang mengaku beriman untuk betul-betul menyerahkan segala
urusan hanya kepada Allah. Karena tidak sedikit manusia yang mengaku beriman
tetapi terkadang masih bersikap sombong terhadap Allah, buktinya menganggap
bahwa keberhasilan dirinya tidak ada campur tangan dari Allah SWT bahkan dengan
bangganya mengatakan bahwa ini adalah hasil kerjanya. Manusia yang demikian
tentu bukan termasuk orang yang berserah diri kepada Allah.
Prinsip-prinsip Tawakkal
1.
Mujahadah
Bersungguh-sungguh
dalam melakukan pekerjaan, seperti seorang pelajar yang giat belajar untuk
mendapatkan ilmu dari guru-guru yang membimbingnya. Karena kesungguhanya dalam
menuntut ilmu akan menentukan sebanyak apa ilmu mampu untuk di kuasainya.
2.
Doa
Walalupun
kita sudah berupaya untuk mujahadah tetapi kita juga harus tetap berdoa memohon
kepada Allah atas apa yang kita lakukan karena kita yakin yang mampu mewujudkan
segala sesuatu pekerjaan kita hanyalah Allah SWT
3.
Syukur
Bersyukur
adalah cara saat kita memperoleh keberhasilan tersebut karena siapa saja yang
bersyukur maka Allah akan menambah kenikmatan yang diperoleh tersebut tetapi
barang siapa yang kufur maka sesungguhnya azab Allah di peruntukkan bagi mereka
yang kufur kepadaNya
4.
Sabar
Tetap
bersabar jika belum memperoleh keberhasilan karena bisa jadi ketidaktercapainya
sebuah tujuan adalah sebuah ujian dari Allah SWT dan itu lebih baik baginya.
Tidak sedikit sesuatu yang terkadang tidak baik menurut kita ternyata baik bagi
kita dan begitu sebaliknya. Itu adalah rahasia Allah untuk setiap hambanya,
tugas kita hanyalah selalu berserah diri dan berbaik sangka terhadap segala
ketentuan Allah. Sesuai dalam hadits Qudsi “Ana inda dhonni abdi” (aku sesuai
prasangka hambaKu).
Latihan soal
1.
Jelaskan pengertian Allah bersifat Laisa Kamitslihi Syaiun?
2.
Apa yang di maksud dengan “kita harus bertauhid”?
3.
Sebutkan prinsip-prinsip bertawakkal kepada Allah?
4.
Apa yang kalian ketahui tentang Siddiqiin?
5.
Buatlah sebuah contoh kasus bagaimana kita menggabungkan antara
konsep tauhid dan konsep tawakkal dalam kehidupan sehari-hari?
Referensi
Imam Ghazali, Mukhtasar Ihya’
Ulumuddin, Pustaka Amani Jakarta
Imam Ghazali, Raudhah (Taman
Jiwa Kaum Sufi) Risalah Gusti. Surabaya.
Falah-kharisma.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar