Jumat, 29 Januari 2016

Hidup Mulia bersama Yatim

Hidup Mulia bersama anak Yatim
Mas Punk

Secara bahasa “yatim” berasal dari bahasa arab. Dari fi’il madli “yatama” mudlori’ “yaitamu”  dan mashdar ” yatmu” yang berarti : sedih atau bermakana : sendiri. Adapun menurut istilah syara’ yang dimaksud dengan anak yatim adalah anak yang ditinggal mati oleh ayahnya sebelum dia baligh. Batas seorang anak disebut yatim adalah ketika anak tersebut telah baligh dan dewasa, sebagaimana yang pernah dikatakan Ibn Abbas bahwa terputusnya predikat yatim itu, tatkala ia sudah baligh dan menjadi dewasa. Sedangkan kata piatu bukan berasal dari bahasa arab, kata ini dalam bahasa Indonesia dinisbatkan kepada anak yang ditinggal mati oleh Bapaknya, dan anak yatim-piatu : anak yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya.
Mengapa menghargai, merawat dan memperhatikan anak yatim menjadi urgent di dalam agama Islam? Bahkan antara Allah dan Rasulnya tidak ada pertentangan didalamnya, sebagaimana Allah mencela orang sholat “Tahukah kamu orang yang mendustakan Agama, itulah orang yang menghardik anak  yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin, celakalah orang yang sholat{QS. Al-Ma’un : 1-4}. Disisi yang lain Rasulullah juga pernah menyatakan bahwa “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah nya, serta agak merenggangkan keduanya. jika dicermati secara mendalam ternyata dibalik anjuran Tuhan dan Rasulnya ini tersimpan nilai-nilai kasih sayang antar sesama sebagai wujud Sifat dan Asma Nya. Semakin banyak seseorang mengumpulkan potensi Sifat-Sifat dan Asma-Asma Nya semakin dekat dirinya terhadap Tuhan.
Di dalam kitab Nashaihul Ibad karya Imam Nawawi Al-Bantani dikatakan bahwa Sayyidina Ali (ra) di dalam khutbahnya pernah membagi Sunnah menjadi tiga, Sunnah Allah, Sunnah Rasul dan Sunnah para Wali dan merugilah jika manusia yang didalamnya tidak memiliki salah satu dari Sunnah-Sunnah diatas. Kemudian para sahabat bertanya “apa yang dimaksud dengan Sunnah Allah?” maka Ali menjawab “Sunnah Allah adalah menjaga rahasia”. Ditanya lagi, “apa yang dimaksud dengan Sunnah Rasul?” Ali menjawab “bersikap baik terhadap sesama” lantas sahabat melanjutkan “apa yang dimaksud dengan Sunnah para wali?” Ali menjawab “Sunnah para wali adalah bersabar menghadapi perlakuan yang menyakitkan”. Dari riwayat yang disampaikan Ali diatas, ada benang merah yang perlu kita kaji lebih dalam makna Sunnah Rasul yang sesungguhnya. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa diturunkan nya Muhammad sebagai Rahmat untuk semesta alam adalah bukti bahwa Muhammad hadir sebagai manifestasi kebaikan ditengah umat. Maka berbuat baik antar sesama, tegur sapa dengan baik, tolong menolong, menyantuni anak yatim adalah nilai-nilai substansial yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW sehingga berbuat baik adalah sejatinya Sunnah Rasul.
Dari situlah, pimpinan Majelis Dzikir As-Samawaat Syaikh KH. Sa’adi Al-Batawi memahami betapa pentingnya arti membahagiakan anak yatim dan Faqir miskin dengan mengajarkan ratusan ribu muridnya untuk lebih dekat dengan Yatama dan Masakin. Bahkan sudah menjadi icon bahwa jamaah Majelis Dzikir As-Samawaat tidak bisa dipisahkan dengan Yatama dan Masakin, belum hilang ingatan kita beberapa bulan lalu jamaah dari distrik Tangerang mengadakan santunan 1.500 anak yatim, di lanjutkan 1.200 an di Banyumas, distrik Depok yang hampir tidak pernah sekalipun setiap bulan mengadakan santunan ratusan anak Yatim disela pengajian bulananya, dan kali ini dalam rangka menambah nilai-nilai spiritualitas di bulan Ramadhan kita dihantarkan ratusan anak yatim dari berbagai distrik untuk mengawal doa-doa, dzikir dan ibadah-ibadah lain dimalam Nuzulul Qur’an yang akan diadakan di Tanjung Burung, Tangerang.
Santunan yang dihadiri ratusan anak yatim tersebut diselenggarakan di Majelis pusat, terdiri dari berbagai distrik yang ada di JABOTABEK. Acara diawali dengan pembacaan Yasin dan Tahlil yang dipandu oleh tim Asatidz dan dilanjutkan Tausiyah oleh Syaikh KH. Sa’adi Al-Batawi dan ditutup dengan pembagian souvenir dan sejumlah uang kepada setiap yatim yang hadir. Yang menarik dari acara tersebut adalah ditengah-tengah acara, Syaikh KH. Sa’adi Al-batawi menantang anak-anak yatim untuk menghapal beberapa surat. Belasan anak pun berdiri menyambut tantangan demi tantangan yang diberikan oleh Syaikh, setelah mereka menghapalkan surat-surat yang menjadi tantanganya seperti biasa Syaikh membagi-bagikan uang sebagai hadiah bagi mereka yang berani menerima tantangan tersebut. Di akhir tausiyahnya Syaikh melempar pertanyaan kepada anak-anak yatim adakah diantara kalian yang ibunya sedang sakit, maka ada beberapa anak yang maju untuk memenuhi panggilan dari Syaikh. Beberapa lembar pecahan ratusan ribu pun keluar dari kantong beliau untuk diberikan kepada anak-anak tersebut sembari menitipkan salam kepada ibu nya agar lekas sembuh. Sebuah pemandangan yang sering kita saksikan sebagai jamaah Majelis Dzikir As-Samawaat, beliau dengan tulus dan ikhlas membaktikan hidupnya untuk agama sehingga terkadang kita sebagai murid-murid nya merasa malu belum bisa meneladani apa yang beliau ajarkan.
Sebuah keteladanan yang beliau ajarkan bukanlah semata-mata bersifat temporer, tetapi betul-betul istiqamah memegang erat panji-panji agama sesuai yang Nabi Muhammad ajarkan. Beliau yang tidak pernah meminta upah ketika berdakwah bahkan dekat dengan Yatama dan Masakin bahkan tidak malu-malu berkeliling ke kampung-kampung untuk mencari janda-janda tua, fakir miskin dan orang-orang susah untuk beliau santuni. Ini sungguh pemandangan yang berbeda dimana semakin marak banyak da’i pasang tarif ketika menyampaikan ajaran agama, agama menjadi komoditi sebagian ulama untuk memperkaya diri bahkan memperjual belikan agama demi kepentingan pribadi. Pantas banyak da’i, ulama dan orang-orang yang mempermainkan agama lainya diakhir kehidupan nya Allah hinakan dirinya sebagai bukti bahwa agama bukanlah sebuah objek permainan.
Masuk surga adalah kesuksesan paling tinggi yang ingin diraih oleh orang-orang yang beriman, tetapi bagaimana pula dengan menemani Rasulullah didalamnya? Itu adalah derajat yang akan diraih oleh orang-orang yang menyantuni anak yatim. Sebagaimana sabdanya bahwa dia akan bersama orang-orang yang menyantuni anak Yatim di surga nya Allah SWT. Imam Ibnu Bathal berkata: “Orang yang mendengar hadis ini wajib melaksanakannya, agar ia bisa menjadi sahabat Rasulullah di surga. Karena di akhirat, tidak ada kedudukan yang lebih utama dari itu.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata tentang hadits nabi yang berkaitan dengan bersamanya seorang penyantun anak yatim dengan Nabi didalam surga bahwa “isyarat itu cukup untuk menegaskan kedekatan kedudukan pemberi santunan kepada anak yatim dan kedudukan Nabi, karena tidak ada jari yang memisahkan jari telunjuk dengan jari tengah.”
Menurut Syaikh KH. Sa’adi Al-Batawi, banyak manusia mulia atau terhina disebabkan yatim karena betapa pedulinya Allah terhadap anak-anak yatim sehingga Allah membuat banyak ayat yang berbicara tentangnya. Jika kita mengeluhkan hati kita yang keras, maka menyantuni anak yatim merupakan sarana yang bisa menjadikan hati lunak. Ia adalah obat yang diwasiatkan oleh Rasulullah yang telah diutus dengan membawa petunjuk dengan kebenaran. Diriwayatkan oleh Abu Darda’ yang berkata: “Ada seorang laki-laki yang datang kepada nabi mengeluhkan kekerasan hatinya. Nabi pun bertanya: sukakah kamu, jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi? Kasihilah anak yatim, usaplah mukanya, dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi.” [HR. Thabrani, Targhib, Al Albaniy: 254]. Sesungguhnya, mengasihi anak yatim merupakan sarana untuk melunakkan hati dan mengupayakan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan. Sebab, orang yang mengasihi anak yatim telah memposisikan diri seperti ayahnya. Seorang ayah, secara naluriyah memiliki karakter sayang dan mengasihi anak-anaknya. Adapun orang yang mengasihi anak yatim memiki satu sifat lain, yaitu mengasihi anak yang bukan anak kandungnya. Barang siapa keadaannya seperti itu maka dihatinya terhimpun sarana-sarana yang bisa melembutkan hatinya, sekalipun sebelumya merupakan hati yang keras. Rasulullah bersabda: “Orang-orang yang pengasih, akan dikasihi oleh Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) Tabaaroka wa ta’ala. Kasihilah siapa yang ada dibumi niscaya engkau dikasihi oleh yang di langit.” (HR. Abu dawud, Tirmidzi dan lain-lain. As silsilatu Shahihah: 925).
Tidak diragukan lagi ini merupakan obat yang mujarab. Kita tidak akan pernah mendapati orang yang menyantuni anak yatim, kecuali pasti memiliki hati yang pengasih, penebar kasih sayang diantara sesama dan begitu sebaliknya, kita tidak akan menjumpai seorang pun yang tidak mengasihi anak yatim, kecuali ia memiliki hati yang keras dan berakhlak buruk. Manfaat lain dari tindakan mengasihi anak yatim yang telah dikabarkan oleh Rasulullah kepada seorang yang bertanya kepada beliau adalah: bahwa meyantuni anak yatim merupakan sarana terpenuhimya kebutuhan dan terwujudnya apa yang dicari. Karena ketika anak yatim mengangkat kedua tanganya, mengaminkan doa kita maka amin nya yatim seperti pengawal yang mampu mengantarkan segala hajat kita menuju Allah SWT.
Banyak cara untuk membahagiakan anak yatim, diantaranya memberinya makan dan pakaian, serta menanggung kebutuhan-kebutuhan pokoknya, mengusap kepalanya serta menunjukkan kasih sayang kepadanya, membiayai sekolahnya, sebagaimana seseorang ingin menyekolahkan anaknya, mendidiknya dengan ikhlas, dan masih banyak lagi cara untuk membahagiakan nya. Inilah beberapa gambaran tentang cara berbuat baik kepada anak yatim.

Jika Allah mengetahui ketulusan niat seorang hamba, niscaya Dia akan membantunya dalam melaksanakan perbuatan baik. Maka, hendaklah kita memperkuat keinginan untuk melaksanakan amal-amal shalih, walaupun baru sekedar berniat di hati sampai suatu saat Allah memberikan kesempatan kita untuk melakukan amal shalih. Karena sungguh, tidak ada orang yang lebih lemah daripada orag yang tidak mampu menyelinapkan niat di hatinya untuk melasanakan amal-amal shalih. Semoga dibulan yang penuh dengan ampunan ini, dimana umat Islam berlomba-lomba ingin mendapatkan malam kemuliaan di sisi Nya maka doa-doa anak-anak yatim kita mampu menggetarkan Arsy Allah sehingga Allah mengabulkan segala hajat yang kita munajatkan kepadaNya. Amin ya Rabbal Alamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar