Hidup
Mulia bersama anak Yatim
Mas Punk
Secara bahasa “yatim” berasal
dari bahasa arab. Dari fi’il madli “yatama” mudlori’ “yaitamu” dan
mashdar ” yatmu” yang berarti : sedih atau bermakana : sendiri. Adapun menurut
istilah syara’ yang dimaksud dengan anak yatim adalah anak yang ditinggal mati
oleh ayahnya sebelum dia baligh. Batas seorang anak disebut yatim adalah ketika
anak tersebut telah baligh dan dewasa, sebagaimana yang pernah dikatakan Ibn
Abbas bahwa terputusnya predikat yatim itu, tatkala ia sudah baligh dan menjadi
dewasa. Sedangkan kata piatu bukan berasal dari bahasa arab, kata ini dalam
bahasa Indonesia dinisbatkan kepada anak yang ditinggal mati oleh Bapaknya, dan
anak yatim-piatu : anak yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya.
Mengapa menghargai, merawat dan
memperhatikan anak yatim menjadi urgent di dalam agama Islam? Bahkan antara
Allah dan Rasulnya tidak ada pertentangan didalamnya, sebagaimana Allah mencela
orang sholat “Tahukah kamu orang yang mendustakan Agama, itulah orang yang
menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang
miskin, celakalah orang yang sholat“ {QS. Al-Ma’un : 1-4}. Disisi yang lain
Rasulullah juga pernah menyatakan bahwa “Aku dan orang
yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari
tengah nya, serta agak merenggangkan keduanya. jika dicermati secara
mendalam ternyata dibalik anjuran Tuhan dan Rasulnya ini tersimpan nilai-nilai
kasih sayang antar sesama sebagai wujud Sifat dan Asma Nya. Semakin banyak
seseorang mengumpulkan potensi Sifat-Sifat dan Asma-Asma Nya semakin dekat
dirinya terhadap Tuhan.
Di dalam kitab Nashaihul Ibad
karya Imam Nawawi Al-Bantani dikatakan bahwa Sayyidina Ali (ra) di dalam
khutbahnya pernah membagi Sunnah menjadi tiga, Sunnah Allah, Sunnah Rasul dan
Sunnah para Wali dan merugilah jika manusia yang didalamnya tidak memiliki
salah satu dari Sunnah-Sunnah diatas. Kemudian para sahabat bertanya “apa yang
dimaksud dengan Sunnah Allah?” maka Ali menjawab “Sunnah Allah adalah menjaga
rahasia”. Ditanya lagi, “apa yang dimaksud dengan Sunnah Rasul?” Ali menjawab
“bersikap baik terhadap sesama” lantas sahabat melanjutkan “apa yang dimaksud
dengan Sunnah para wali?” Ali menjawab “Sunnah para wali adalah bersabar menghadapi
perlakuan yang menyakitkan”. Dari riwayat yang disampaikan Ali diatas, ada
benang merah yang perlu kita kaji lebih dalam makna Sunnah Rasul yang
sesungguhnya. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa diturunkan nya
Muhammad sebagai Rahmat untuk semesta alam adalah bukti bahwa Muhammad hadir
sebagai manifestasi kebaikan ditengah umat. Maka berbuat baik antar sesama,
tegur sapa dengan baik, tolong menolong, menyantuni anak yatim adalah
nilai-nilai substansial yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW sehingga berbuat
baik adalah sejatinya Sunnah Rasul.
Dari situlah, pimpinan Majelis
Dzikir As-Samawaat Syaikh KH. Sa’adi Al-Batawi memahami betapa pentingnya arti
membahagiakan anak yatim dan Faqir miskin dengan mengajarkan ratusan ribu
muridnya untuk lebih dekat dengan Yatama dan Masakin. Bahkan sudah menjadi icon
bahwa jamaah Majelis Dzikir As-Samawaat tidak bisa dipisahkan dengan Yatama dan
Masakin, belum hilang ingatan kita beberapa bulan lalu jamaah dari distrik
Tangerang mengadakan santunan 1.500 anak yatim, di lanjutkan 1.200 an di Banyumas,
distrik Depok yang hampir tidak pernah sekalipun setiap bulan mengadakan santunan
ratusan anak Yatim disela pengajian bulananya, dan kali ini dalam rangka menambah
nilai-nilai spiritualitas di bulan Ramadhan kita dihantarkan ratusan anak yatim
dari berbagai distrik untuk mengawal doa-doa, dzikir dan ibadah-ibadah lain
dimalam Nuzulul Qur’an yang akan diadakan di Tanjung Burung, Tangerang.
Santunan yang dihadiri ratusan
anak yatim tersebut diselenggarakan di Majelis pusat, terdiri dari berbagai
distrik yang ada di JABOTABEK. Acara diawali dengan pembacaan Yasin dan Tahlil
yang dipandu oleh tim Asatidz dan dilanjutkan Tausiyah oleh Syaikh KH. Sa’adi
Al-Batawi dan ditutup dengan pembagian souvenir dan sejumlah uang kepada setiap
yatim yang hadir. Yang menarik dari acara tersebut adalah ditengah-tengah
acara, Syaikh KH. Sa’adi Al-batawi menantang anak-anak yatim untuk menghapal
beberapa surat. Belasan anak pun berdiri menyambut tantangan demi tantangan
yang diberikan oleh Syaikh, setelah mereka menghapalkan surat-surat yang
menjadi tantanganya seperti biasa Syaikh membagi-bagikan uang sebagai hadiah
bagi mereka yang berani menerima tantangan tersebut. Di akhir tausiyahnya
Syaikh melempar pertanyaan kepada anak-anak yatim adakah diantara kalian yang
ibunya sedang sakit, maka ada beberapa anak yang maju untuk memenuhi panggilan
dari Syaikh. Beberapa lembar pecahan ratusan ribu pun keluar dari kantong
beliau untuk diberikan kepada anak-anak tersebut sembari menitipkan salam
kepada ibu nya agar lekas sembuh. Sebuah pemandangan yang sering kita saksikan
sebagai jamaah Majelis Dzikir As-Samawaat, beliau dengan tulus dan ikhlas
membaktikan hidupnya untuk agama sehingga terkadang kita sebagai murid-murid
nya merasa malu belum bisa meneladani apa yang beliau ajarkan.
Sebuah keteladanan yang beliau
ajarkan bukanlah semata-mata bersifat temporer, tetapi betul-betul istiqamah
memegang erat panji-panji agama sesuai yang Nabi Muhammad ajarkan. Beliau yang
tidak pernah meminta upah ketika berdakwah bahkan dekat dengan Yatama dan
Masakin bahkan tidak malu-malu berkeliling ke kampung-kampung untuk mencari
janda-janda tua, fakir miskin dan orang-orang susah untuk beliau santuni. Ini sungguh
pemandangan yang berbeda dimana semakin marak banyak da’i pasang tarif ketika
menyampaikan ajaran agama, agama menjadi komoditi sebagian ulama untuk
memperkaya diri bahkan memperjual belikan agama demi kepentingan pribadi.
Pantas banyak da’i, ulama dan orang-orang yang mempermainkan agama lainya diakhir
kehidupan nya Allah hinakan dirinya sebagai bukti bahwa agama bukanlah sebuah
objek permainan.
Masuk surga adalah kesuksesan
paling tinggi yang ingin diraih oleh orang-orang yang beriman, tetapi bagaimana
pula dengan menemani Rasulullah didalamnya? Itu adalah derajat yang akan diraih
oleh orang-orang yang menyantuni anak yatim. Sebagaimana sabdanya bahwa dia
akan bersama orang-orang yang menyantuni anak Yatim di surga nya Allah SWT. Imam
Ibnu Bathal berkata: “Orang yang mendengar hadis ini wajib melaksanakannya,
agar ia bisa menjadi sahabat Rasulullah di surga. Karena di akhirat, tidak ada
kedudukan yang lebih utama dari itu.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata tentang
hadits nabi yang berkaitan dengan bersamanya seorang penyantun anak yatim
dengan Nabi didalam surga bahwa “isyarat itu cukup untuk menegaskan kedekatan
kedudukan pemberi santunan kepada anak yatim dan kedudukan Nabi, karena tidak
ada jari yang memisahkan jari telunjuk dengan jari tengah.”
Menurut Syaikh KH. Sa’adi Al-Batawi, banyak manusia
mulia atau terhina disebabkan yatim karena betapa pedulinya Allah terhadap
anak-anak yatim sehingga Allah membuat banyak ayat yang berbicara tentangnya. Jika
kita mengeluhkan hati kita yang keras, maka menyantuni anak yatim merupakan
sarana yang bisa menjadikan hati lunak. Ia adalah obat yang diwasiatkan oleh
Rasulullah yang telah diutus dengan membawa petunjuk dengan kebenaran. Diriwayatkan oleh Abu Darda’ yang
berkata: “Ada seorang laki-laki yang datang kepada nabi mengeluhkan kekerasan
hatinya. Nabi pun bertanya: “sukakah kamu, jika hatimu menjadi
lunak dan kebutuhanmu terpenuhi? Kasihilah anak yatim, usaplah mukanya, dan
berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan
terpenuhi.” [HR. Thabrani, Targhib, Al Albaniy: 254]. Sesungguhnya, mengasihi anak yatim merupakan sarana untuk
melunakkan hati dan mengupayakan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan. Sebab, orang
yang mengasihi anak yatim telah memposisikan diri seperti ayahnya. Seorang
ayah, secara naluriyah memiliki karakter sayang dan mengasihi anak-anaknya.
Adapun orang yang mengasihi anak yatim memiki satu sifat lain, yaitu mengasihi
anak yang bukan anak kandungnya. Barang
siapa keadaannya seperti itu maka dihatinya terhimpun sarana-sarana yang bisa
melembutkan hatinya, sekalipun sebelumya merupakan hati yang keras. Rasulullah bersabda: “Orang-orang
yang pengasih, akan dikasihi oleh Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) Tabaaroka wa
ta’ala. Kasihilah siapa yang ada dibumi niscaya engkau dikasihi oleh yang di
langit.” (HR. Abu dawud, Tirmidzi dan lain-lain. As silsilatu Shahihah: 925).
Tidak
diragukan lagi ini merupakan obat yang mujarab. Kita tidak akan pernah
mendapati orang yang menyantuni anak yatim, kecuali pasti memiliki hati yang
pengasih, penebar kasih sayang diantara sesama dan begitu sebaliknya, kita
tidak akan menjumpai seorang pun yang tidak mengasihi anak yatim, kecuali ia
memiliki hati yang keras dan berakhlak buruk. Manfaat lain dari tindakan
mengasihi anak yatim yang telah dikabarkan oleh Rasulullah kepada seorang yang
bertanya kepada beliau adalah: bahwa meyantuni anak yatim merupakan sarana
terpenuhimya kebutuhan dan terwujudnya apa yang dicari. Karena ketika anak
yatim mengangkat kedua tanganya, mengaminkan doa kita maka amin nya yatim
seperti pengawal yang mampu mengantarkan segala hajat kita menuju Allah SWT.
Banyak
cara untuk membahagiakan anak yatim, diantaranya memberinya makan dan pakaian,
serta menanggung kebutuhan-kebutuhan pokoknya, mengusap kepalanya serta menunjukkan
kasih sayang kepadanya, membiayai sekolahnya, sebagaimana seseorang ingin
menyekolahkan anaknya, mendidiknya dengan ikhlas, dan masih banyak lagi cara
untuk membahagiakan nya. Inilah beberapa gambaran tentang cara berbuat baik
kepada anak yatim.
Jika
Allah mengetahui ketulusan niat seorang hamba, niscaya Dia akan membantunya
dalam melaksanakan perbuatan baik. Maka, hendaklah kita memperkuat keinginan
untuk melaksanakan amal-amal shalih, walaupun baru sekedar berniat di hati
sampai suatu saat Allah memberikan kesempatan kita untuk melakukan amal shalih.
Karena sungguh, tidak ada orang yang lebih lemah daripada orag yang tidak mampu
menyelinapkan niat di hatinya untuk melasanakan amal-amal shalih. Semoga
dibulan yang penuh dengan ampunan ini, dimana umat Islam berlomba-lomba ingin
mendapatkan malam kemuliaan di sisi Nya maka doa-doa anak-anak yatim kita mampu
menggetarkan Arsy Allah sehingga Allah mengabulkan segala hajat yang kita
munajatkan kepadaNya. Amin ya Rabbal Alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar