PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kepemimpinan
yang dalam bahasa Inggris di sebut leadership terjadi ketika berjumlah lebih
dari satu orang. Kepemimpinan terjadi dari zaman dulu hingga sekarang dan terus
mengalami perkembangan sesuai kebutuhan zaman. Kepemimpinan adalah rangkaian
kegiatan yang bisa mempengaruhi sebuah kelompok dalam rangka mensukseskan
sebuah tujuan. Pemimpin yanng baik adalah pemimpin yang mampu merubah keadaan
menjadi lebih baik tanpa menimbulkan permasalah yang baru. Karena tidak jarang
saat merubah keadaan harus mengorbankan sisi lain, keberhasilan nya diatas
kegagalan orang lain.
Salah
satu pemimpin ideal yang menjadi panutan umat manusia dan role model adalah
Rasulullah SAW. Beliau begitu piawai di dalam membangun bangsa dan negara
sesuai dengan azas-azas keadilan bersosial
sehingga mampu meminimalisir adanya pertikaian antara satu dengan
lainya, karena pola kepemimpinaan nya di dasari dengan iman dan taqwa kepada Allah SWT melalui akhlaqul karimah. Bahkan
menurutnya, semua atas diri kita adalah seorang pemimpin, dan setiap pemimpin
akan di mintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan nya “kullukum raa’in wakullukum mas’uulun
an ra’iyyati” sehingga kalau kita menyadari bahwa setiap diri kita adalah
pemimpin maka tiada lagi yang bisa di lakukan kecuali terus belajar menjadi
pemimpin yang baik minimal untuk dirinya sendiri.
Di
dalam sebuah komunitas baik skala kecil maupun besar, kepemimpinan yang baik
harus di landasi etika. Kepemimpinan yang di landasi dengan etika akan terhindar
dari perseteruan baik bersifat vertikal maupun horisontal karena jalinan
kerjasama di bangun atas dasar kenyamanan, sopan santun dan saling menghargai
antara satu dengan yang lain.[1]
Perbedaan pendapat di dalam proses kepemimpinan adalah sesuatu yang sudah
biasa, bahkan dengan adanya perbedaan pendapat itulah semakin mewarnai khazanah
kepemimpinan yang sedang berlangsung. Pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang
berani meminta pendapat (mufakat) dari orang-orang yang di pimpin dalam
memutuskan sebuah kebijakan, karena bagaimanapun kebijakan di buat untuk di
jalankan oleh setiap unsur yang ada di dalam sebuah komunitas tersebut.
Pemimpin
yang memiliki etika menurut Gini (1998), yang di kutip dari Gary Yukl bahwa
pada dasarnya permasalah utamanya adalah bukan para pemimpin yang berkuasa
dapat menggunakan kekuasaanya tetapi apakah mereka akan menggunakan
kepemimpinan nya dengan bijaksana dan baik.[2]
Semakin jelas bahwa kepemimpinan yang di dasari dengan etika, moral dan akhlaq
yang baik sangat menentukan nilai-nilai kesuksesan nya dalam memimpin sebuah
lembaga baik dalam skala kecil maupun besar. Karena sebagaimana menjadi rahasia
umum bahwa, konsumen akan selalu mencari sebuah institusi yang di dalam nya
terdapat dua hal, pertama siapakah figur nya (pemimpin) dan bagaimana sistem
yang di ciptakan nya. Semakin di kenal
figur tersebut, semakin lebih cepat dan mudah untuk berkembang dan begitu pula
dengan sistem nya.
Dari
beberapa pemaparan di atas, kita semakin mengetahui bahwa etika dalam konsep
kepemimpinan memiliki peranan penting dalam mewujudkan sebuah tujuan utama
dalam sebuah instutusi. Karena sebagai negara timur ada nilai-nilai yang selalu
di kedepankan saat proses interaksi itu berlangsung. Dan salah satunya adalah
nilai-nilai kepemimpinan. Untuk itu, kami berusaha menulis sebuah makalah
dengan judul “kepemimpinan yang beretika dalam pendidikan” sebagai salah satu
syarat mata kuliah “Kepemimpinan Islam dalam Pendidikan” yang di bimbing oleh Bapak
JM, Muslimin, P.hD.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu kepemimpinan Islam?
2. Bagaimana menerapkan etika dalam
kepemimpinan?
3. Etika kepemimpinan dalam lembaga
pendidikan?
C. TUJUAN PEMBAHASAN
1. Untuk mengetahui hakikat
kepemimpinan dalam Islam
2. Untuk menggali lebih jauh
penerapan etika dalam sebuah kepemimpinan
3. Untuk mempelajari etika
kepemimpinan dalam lembaga pendidikan.
II. PEMBAHASAN
A. Kepemimpinan Islam
Islam
hadir adalah untuk menjadi pembeda, penyempurna dan mampu menjadi Rahmat untuk
semua. Kehadiran nya membawa sistem yang didalam nya mampu mengatur seluruh
kegiatan manusia mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali dan bahkan tidur
nya pun ikut dalam sebuah aturan nya. Aturan-aturan ini terangkum lengkap dalam
perjalanan seorang manusia yang berbudi pekerti luhur sebagai pembawa risalah
kenabian yaitu Muhammad SAW yang menjadi barometer kebaikan atau keburukan,
selamat atau tidak selamat, bahagia atau sengsara.
Islam
mengajarkan kepada pemeluknya bahwa setiap diri kita adalah seorang pemimpin
dan setiap pemimpin akan di mintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan nya
“kullukum ra’in wakullukum mas’ulun an raiyyati”. Karena setiap manusia di
bekali potensi dalam dirinya berupa akal maka beban dan tanggung jawab yang di
berikan kepadanya sangatlah wajar. Baik saat memimpin dirinya sendiri
lebih-lebih saat memimpin orang lain. Pemimpin yang dalam istilah Arab di sebut
Khalifah, adalah orang yang di harapkan mampu membawa kepada satu tujuan.[3]
Menurut Nandang Najmul Munir bahwa penciptaan manusia di alam semesta
hakikatnya adalah mempunyai misi, sebagaimana yang termaktub dalam surat
al-baqarah ayat 30 yang berbunyi : “ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada
para Malaikat, “ sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi”, mereka bertanya “ mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan
berfirman “ sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Dari
ayat tersebut bisa di ambil pemahaman bahwa ketika Tuhan menciptakan makhluq
yang bernama manusia maka sudah tentu Tuhan mempunyai tujuan, sebuah misi dan misi tersebut adalah menjadi Rahmat
untuk sekalian alam.[4]
Maka,
jika diantara manusia yang kehadiran nya di muka bumi ini selalu menebar
petaka, fitnah dan membuat kerusakan sejatinya patut kita pertanyakan siapakah
sesungguhnya dirinya manusia atau Iblis yang berjubah manusia. Karena jika
manusia maka sudah pasti menyadari tugas dan kwajiban dirinya di ciptakan oleh
Allah SWT.
Konsep
kepemimpinan Islam yang di prakarsai oleh Nabi Muhammad tentu memiliki akar
dari pendahulunya, manusia yang mendapat gelar Khalilullah yang membawa
agama Hanif yang didalam nya
mengajarkan nilai-nilai dasar kepemimpinan dalam Islam. Beliau adalah Ibrahim
AS. Di dalam membentuk karakternya, Allah SWT memberikan sesuatu yang lebih
diantara manusia yang lain pada saat itu. Nilai-nilai critical thinking yang
Ibrahim miliki menjadikan dirinya mencari dan mengamati proses kejadian alam
yang dengan karunia akal yang di berikan oleh Allah, dirinya berfikir bahwa
bintang, matahari dan yang lain di anggap sebagai Tuhan. Proses pencarian Tuhan
ini di abadikan di dalam surat al-an’am ayat 75 – 79. Di ayat ke 79 tersebut
sebagai kesimpulan atas pencarianya Ibrahim berkata: “sesungguhnya aku menghadapkan
diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada
agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan
Tuhan”. Ayat tersebut di abadikan dalam setiap ibadah sholat kita berupa
do’a Iftitah.
Nabi
Muhammad di perintahkan mengikuti ajaran Nabi Ibrahim bukan hanya persoalan
risalah tetapi semua yang tercakup di dalam nya termasuk persoalan yang
berkaitan dengan kepemimpinan[5].
Karena kesempurnaan sebuah ajaran di buktikan dengan adanya keberhasilan di
semua lini kehidupan. Termasuk pola mempengaruhi orang lain yang di kemas
dengan konsep kepemimpinan. Sebagaimana firman Allah:
ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ
اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (١٢٣)
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim
seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan
Tuhan.” (QS: 16: 123).
Menurut
Anderson, yang penulis kutip dari Nandang Najmulmunir dalam bukunya Umrah, Haji
dan komitmen pembaruan Bangsa bab
tentang kepemimpinan bahwa “leadership using power to influence the thoughts
and actions of other in such a way that achieve high prformance”. Jika di
artikan secara bebas bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah kemampuan untuk
mempengaruhi suatu kelompok ke arah tercapainya tujuan. Ibarat sebuah turbin
yang menggerakkan tenaga air yang bersifat potensial lalu di ubah menjadi
energi listrik yang dapat di gunakan untuk modal pembangunan.[6]
Islam
mengajarkan kepada pemeluknya bahwa kepemimpinan seseorang berawal dari satu
titik yaitu jiwa atau locus of souverighnity sebagai mesin kepemimpinan. Di
pusat inilah, seluruh manusia mengawali kepemimpinan nya sehingga seluruh unsur
badani yang melekat dalam raga di kendalikan oleh satu komando. Jika semua
unsur ini dapat bersinergi maka akan terjadi hubungan yang harmonis antara jiwa
dan raga. Untuk itulah di butuhkan jiwa yang baik, hati yang bersih dan fikiran
yang positif agar tercipta tindakan yang baik. Proses kepemimpinan biasanya di
mulai dari sesuatu yang paling kecil, pertama pada tingkat individu, keluarga
dan masyarakat atau negara.
1. Individu
Hal
mendasar yang harus seseorang lakukan dalam hal kepemimpinan adalah dia mampu
memimpin dirinya sendiri. Dengan hatinya dia mampu mengendalikan tangan, mata,
telinga dan seluruh indera yang melekat dalam dirinya. Ketika seseorang sudah
mampu memimpin seluruh anggota badan nya maka dengan sendirinya tercermin
akhlaqul karimah.
2. Keluarga
Kepemimpinan
dalam keluarga seyogyanya mampu membawa keluarga tersebut bertawajjuh kepada
Allah SWT. Seorang suami bertanggung jawab atas keluarga, anak istri dan semua
yang ada di dalam keluarga tersebut termasuk dirinya sendiri. Untuk itulah di
butuhkan model kepemimpinan yang bersifat transformatif, artinya seorang suami
mampu mentransfer nilai-nilai kepemimpinan nya kepada keluarga yang di pimpin
nya sebagaimana yang termaktub dalam surat At-Taubah ayat 24 yang berbunyi “katakanlah
jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugianya,
dan tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan
RasulNya serta dari pada berjihad di jalan Nya maka tunggulaah sampai Allah
mendatangkan keputusan Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yaang fasik”.
3. Komunitas atau negara
Dalam
sebuah komunitas, seseorang dapat menjadi seorang pemimpin manakala memiliki
karakter kuat untuk memimpin dan ini di buktikan dengan track record yang baik.
Sehingga sikap keteladanan, kebijaksanaan dan sosok yang bisa di figurkan
menjadi sangat penting di dalam kepemimpinan nya guna dapat mencapai tujuan
yang di cita-cita kan nya. Abdurrahman Wahid atau yang sering di panggil Gus
Dur pernah menyampaikan terkait dengan kepemimpinan negara, menurutnya “Adagium itu adalah “Tiada Islam tanpa kelompok, tiada kelompok tanpa
kepemimpinan, dan tiada kepemimpinan tanpa ketundukan” (La
Islama Illa bi Jama’ah wala Jama’ata Illa bi Imarah wala Imarata Illa Bi Tha’ah).
Di sini tampak jelas, arti seorang pemimpin bagi Islam, ia adalah pejabat yang
bertanggung jawab tentang penegakan perintah – perintah Islam dan pencegah
larangan – laranganNya (amar ma’rûf nahi munkar).[7]
B. Menerapkan Etika
dalam Kepemimpinan.
Etika adalah perilaku berstandar normatif
berupa nilai-nilai moral, norma dan hal-hal yang mencirikan kebaikan. Etika
juga sebagai alat yang mampu membimbing manusia kepada kehidupan yang
berperadaban dan lebih baik. Karena dengan etika pula manusia lebih memahami dan
menghormati manusia lain atau dengan kata lain di sebut memanusiakan manusia. Etika menjadi sangat penting ketika
manusia memahami secara penuh arti kehidupan ini. Karena dengan nya manusia
menjadi terbedakan dengan hewan maupun makhluk lain. Pada dasarnya jiwa kepemimpinan
dimilki oleh setiap diri manusia (self leadership), setidaknya dirasakan manakala
seseorang melewati suatu proses merencanakan dan menetapkan suatu keputusan
guna merealisasikan tujuan hidupnya, namun dalam mengaktualisasikan
kepemimpinan itu sendiri sering sekali manusia dihadapkan pada berbagai
problematika hidup silih berganti, tidak sedikit persoalan muncul hanya
disebabkan kesalahan dalam bertindak dan keliru mempersepsikan sesuatu, untuk
menghindarinya menjadi penting faktor pengendali diri, salah satunya adalah
dengan mempedomani nilai-nilai etika dan moralitas dalam kehidupan, jadi
kepemimpinan dengan etika dan moralitas merupakan satu kesatuan yang sangat
erat.
Menurut Murtadha
Mutahhari bahwa moralitas atau etika selalu identik dengan perbuatan yang di
dasari atas dasar nilai-nilai agung ketuhanan. Maka konsekuensinya adalah ketika perbuatan yang
dilakukan bukan berlandaskan agama maka perbuatan tersebut bukan termasuk
etika.[8]
Di dalam menjalankan tugas nya, Siapapun pasti tidak ingin
disebut sebagai pemimpin tanpa etika. Namun, terkadang kekuasaan dan kekuatan
di cengkraman diri akan menggoda untuk mempermainkan kekuasaan dan kekuatan
sesuai nafsu dan ego diri. Padahal kekuasaan dan kekuatan itu ada karena
titipan dari orang-orang yang percaya pada integritas pemimpin. Oleh karena
itu, pemimpin tidak boleh lupa untuk menjalani kekuasaan dan kekuatan dengan
panduan etika dan moralitas yang tinggi. Seorang
pemimpin yang beretika pasti memiliki kepercayaan diri yang kuat sehingga mampu
menggoreskan rasa bangga yang diikuti dengan sikap rendah hati kepada orang
yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang memiliki etika juga memiliki kesabaran
yang akan mampu menolongnya untuk tetap konsisten terhadap pilihannya dan
menunggu hasilnya dengan usaha yang maksimal. Sehingga orang yang dipimpinnya
merasa bahwa pemimpin seperti itu patut dijadikan teladan bagi dirinya.
Pada hakikatnya
setiap pribadi manusia adalah pemimpin yang mempunyai tujuan untuk dicapai.
Setidaknya setiap pribadi adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Jika ia telah
mampu untuk memimpin dirinya sendiri maka barulah ia akan mampu untuk memimpin
orang lain serta membimbing mereka mencapai tujuan. Seorang pemimpin tentunya
memiliki tanggung jawab terhadap sesuatu yang menjadi kewajiban atau tugasnya
dan juga harus bertanggungjawab atas kepemimpinannya secara penuh keasadaran.[9]
Pemimpin
yang beretika akan berusaha merangkul
seluruh komponen yang terlibat dalam kepemimpinan nya, bukan menjatuhkan bahkan
mempidanakan salah satu dari orang yang di pimpin nya. Diantara hal terpenting
lain nya dalam konsep kepemimpinan adalah membangun kesadaran bahwa tugas pokok
menjadi unsur adalah sangat penting. Karena ketika itu telah terbangun maka
sifat kepemilikan dalam sebuah lembaga atau institusi akan mengakar ke dalam
dirinya. Dan begitu sebaliknya, Kepemimpinan yang tanpa di dasari dengan etika
akan menjadi malapetaka karena dapat menimbulkan ketidakstabilan dan
kehancuran. Seorang pemimpin wajib untuk memimpin dengan berpondasikan etika
yang kuat dan santun. Sebab, tanpa etika kepemimpinan, maka pemimpin tidak akan
pernah mampu menyentuh hati terdalam dari para pengikut. Dan dia juga akan
menjadi yang gampang untuk diolok-olok oleh lawan dan kawan. Bila lawan, kawan,
dan bawahan sudah suka memperolok-olokan pemimpin, maka malapetaka akan menjadi
sahabat kepemimpinan tersebut. Seorang pemimpin yang memiliki etika dan
tanggung jawab akan mampu membawa organisasi yang dipimpinnya sampai ke puncak
keberhasilan dengan memanfaatkan semua potensi yang ada pada semua anggota
organisasi yang dipimpin. Seorang pemimpin menjadikan etika sebagai dasar untuk
mengoptimalkan semua bakat dan potensi sumber daya manusia dan meningkatkan
nilai dari semua sumber daya yang dimiliki oleh organisasi serta menghargai
semua kualitas dan kompetensi sumber daya manusia. Dan bukan seorang pemimpin
yang menciptakan jarak antara mimpi dan realitas. Tetapi dia seorang pemimpin
beretika yang membantu semua mimpi pengikutnya menjadi kenyataan dalam
kebahagiaan.
Kepemimpinan
beretika akan selalu meningkatkan interaksi antara dirinya dengan semua orang
yang terlibat bersamanya dalam sebuah tugas ataupun pekerjaan. Interaksi
menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa semua orang yang terlibat bersama
sang pemimpin tidak tersingkir oleh jarak komunikasi. Tetapi semua orang dapat
mengerjakan tugas dan tanggung jawab masing-masing dalam etika yang membangun
kerjasama dan keyakinan dalam kepercayaan diri yang tinggi. Pemimpin yang
beretika tidak akan pernah punya niat untuk menyingkirkan bakat-bakat hebat
yang menjanjikan masa depan cerah. Dia akan mengilhami semua orang dengan
motivasi dan keteladanan untuk mampu mencapai keunggulan, dan merangsang semua
orang untuk berpikir positif dan bekerja efektif. Seorang
pemimpin harus mengawali dengan membangun kesadaran dirinya bahwa kepadanya ada
pertanggung jawaban atas kepemimpinan nya. Penanggungjawaban kepemimpinan
menjelaskan bahwa pemimpin telah diakui serta dipercayai sehingga ia menjadi
pemimpin. Penanggungjawaban
kepemimpinan ini juga menjelaskan bahwa pemimpin memiliki tugas, kewenangan,
hak, kewajiban, tanggung jawab, dan pertanggungjawaban menyeluruh atas segala
dan semua dalam kepemimpinannya. Penanggungjawaban
kepemimpinan yang ada pada seorang pemimpin menjelaskan bahwa ia sepenuhnya
bertanggungjawab atas jatuh-bangunnya kepemimpinan yang dipercayakan kepadanya.
Dalam kaitan ini, keberhasilan atau pun kegagalan kepemimpinan tergantung dan
bergantung sepenuhnya pada sang pemimpin.
Seorang
pemimpin yang bijak dan bertanggung jawab pasti memiliki kiat untuk menghindari
sekaligus mengatasi tabrakan antara kepentingan pribadi dengan etika dan
moralitas kehidupan serta memiliki hati nurani untuk hidup dalam etika yang
tidak melecehkan semua kepercayaan dari para stakeholdersnya. Pemimpin yang
bijak tahu bahwa kekuasaan dan kekuatan tidak akan berjalan sempurna tanpa
panduan etika dan moralitas kepemimpinan. Penaggungjawaban kepemimpinan yang
ada pada seorang pemimpin menjelaskan bahwa ia sepenuhnya bertanggungjawab atas
jatuh-bangunnya kepemimpinan yang dipercayakan kepadanya. Dalam kaitan ini,
keberhasilan atau pun kegagalan kepemimpinan tergantung dan bergantung
sepenuhnya pada sang pemimpin
Pemimpin
bertanggung jawab atas semua yang dilihatnya. Itu berarti, dia juga bertanggung
jawab atas apa yang dilihat oleh organisasinya serta tim yang dipimpinnya. Dia
bertanggung jawab atas hasil-hasil yang dicapainya, baik hasil yang baik maupun
hasil yang buruk. Pemimpin bertanggung
jawab untuk memulai komunikasi secara proaktif. Ketika kesalahpahaman terjadi
dan gossip timbul, pemimpin bertanggung jawab untuk meluruskan dan membangun
komunikasi agar kesalah pahaman tidak muncul lagi.
Pemimpin
bertanggung jawab untuk memberi contoh sikap baik dengan berdasarkan etika
seorang pemimpin serta menjadi agen perubahan. Pemimpin mengerti bahwa apa yang
dilakukannya akan ditiru dan diperbesarnya oleh orang yang dipimpinnya, dan
karenanya mereka harus mengenakan standar yang tinggi pada dirinya. Menjadi
pemimpin adalah menjadi orang yang bisa jadi panutan, baik dalam kinerja maupun
integritas. Ia harus hidup sesuai dengan nilai-nilai etika baik yang
dianutnya.
C. Etika kepemimpinan dalam lembaga
pendidikan
Sebagaimana
kita tahu bersama bahwa sebuah lembaga akan tetap eksis atau akan hancur
tergantung kepada dua hal. Pemimpin yang mampu memimpin dengan baik dan sebuah
sistem yang mampu mempola sebuah lembaga menjadi lembaga yang mampu bersaing
dengan lembaga-lembaga lain. Diantara perubahan sistem yang di lakukan
pemerintah untuk mengembangkan dan memberikan seluas-luasnya kesempatan kepada
setiap lembaga dalam rangka bersaing memajukan lembaga masing-masing adalah
dengan cara menerapkan sistem desentralisasi pendidikan.
Etika
dan Moralitas Pemimpin Pendidikan sangat berpengaruh
pada efisinsi dan efektifitas kinerja lembaga pendidikan yang
dipimpinnya. Kepala sekolah yang menjaga etika dan moralitas yang baik akan
menciptakan iklim sekolah yang kondusif dan nyaman, selanjutnya keadaan seperti
ini akan menunjang terciptanya kondisi pembelajaran yang efisien dan efektif. Efektif berarti berhasil guna, sedangkan efisien
berarti berdaya guna. Efektif berarti segala kegiatan yang dilakukan oleh
sekolah lebih fokus pada pencapaian tujuan, sedangkan efisien lebih ditekankan
pada penghematan biaya. Sesuatu yang efektif belum tentu efisien dan sesuatu yang
efisien belum tentu efektif.[10]
Menurut Onisimus Amtu di dalam
bukunya yang berjudul “Manajemen Pendidikan di era Otonomi Daerah” mengatakan
bahwa desentralilasi pendidikan menyerahkan kewenangan dan tugas pemerintah
pusat kepada pemerintah daerah untuk di kelola sesuai kemampuan dan potensi
yang di miliki untuk meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di
daerah namun tetap dalam pengawasan pemerintah pusat.[11]
Sehingga lembaga-lembaga pendidikan melalui pembinaan pemerintah daerah
memiliki keleluasaan dalam meningkatkan mutu pendidikan sesuai kemampuan
lembaga masing-masing. Di sinilah di perlukan Kepala Yayasan atau Kepala
Sekolah yang betul-betul mampu memimpin lembaga masing-masing dengan pola yang
maksimal. Berikut adalah beberapa hal yang harus di penuhi seorang pemimpin
dalam memimpin sebuah lembaga adalah bertanggung jawab. Untuk menjadi pemimpin yang
beretika, pertama yang harus di miliki adalah sikap tanggung jawab. Pemimpin
yang baik adalah pemimpin yang berani di depan saat terjadi hal-hal yang
membutuhkan keputusan penting, berani mengambil kebijakan saat di butuhkan.
Sehingga bawahan merasa di ayomi, di lindungi dan di perhatikan oleh pimpinan
dengan cara melibatkan semua komponen saat mengambil keputusan. Bertanggung
jawab juga menjadi point mark bagi seorang pemimpin yang memiliki etika, karena
bisa saja jika pemimpin tersebut tidak memiliki etika akan kabur saat keadaan
menjadi kacau dan membutuhkan nya.
Ada
beberapa nilai kepemimpinan yang perlu dimiliki seorang
pemimpin antara lain adalah:
1.
Integritas
dan moralitas.
Integritas menyangkut mutu, sifat dan keadaan yang
menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang
memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Moralitas menyangkut akhlak, budi
pekerti, susila, ajaran tentang baik dan buruk, segala sesuatu yang berhubungan
dengan etika, adat dan sopan santun.
2.
Visi
Kepemimpinan seorang pemimpin nyaris identik dengan
visi kepemimpinannya. Visi adalah arah ke mana organisasi dan orang-orang yang
dipimpin akan dibawa oleh seorang pemimpin. Pemimpin ibarat seorang nakhoda
yang harus menentukan ke arah mana kapal dengan penumpangnya akan di arahkan.
3.
Kebijaksanaan
Kebijaksanaan (wisdom) yaitu kearifan
seorang pemimpin dalam memutuskan sesuatu sehingga keputusannya adil dan
bijaksana. Kebijaksanaan memiliki makna lebih dari kepandaian atau kecerdasan.
Pemimpin setiap saat dihadapkan kepada situasi yang rumit dan sulit untuk
mengambil keputusan karena terdapat perbedaan kepentingan antar kelompok
masyarakat dan mereka yang akan terkena dampak keputusannya.
4.
Keteladanan.
Keteladanan seorang pemimpin adalah sikap dan tingkah
laku yang dapat menjadi contoh bagi orang-orang yang dipimpinnya. Keteladanan
berkaitan erat dengan kehormatan, integritas dan moralitas pemimpin.
Keteladanan yang dibuat-buat atau semu dan direkayasa tidak akan langgeng.
5.
Menjaga
Kehormatan.
Seorang pemimpin harus menjaga kehormatan dengan tidak
melakukan perbuatan tercela karena semua perbuatannya menjadi contoh bagi
bawahan dan orang-orang yang dipimpinnya.
6.
Beriman.
Beriman kepada Tuhan Yang Mahaesa sangat penting
karena pemimpin adalah manusia biasa dengan semua keterbatasannya secara fisik,
pikiran dan akal budi sehingga banyak masalah yang tidak akan mampu dipecahkan
dengan kemampuannya sendiri. Iman dapat menjembatani antara keterbatasan
manusia dengan kesempurnaan yang dimiliki Tuhan, agar kekurangan itu dapat
diatasi.
7.
Kemampuan
Berkomunikasi.
Suatu proses kepemimpinan pada hakikatnya mengandung
beberapa komponen yaitu, pemimpin, yang dipimpin, komunikasi dan interkasi
antara pemimpin dan yang dipimpin, serta lingkungan dari proses komunikasi
tersebut.
8.
Komitmen
Meningkatkan Kualitas SDM.
Sumber daya manusia (SDM) adalah faktor strategis dan
penentu dalam kemajuan organisasi, dan pemimpin harus memiliki komitmen kuat
untuk meningkatkan kualitas SDM. Bila pemimpin etik memiliki nilai-nilai etika
pribadi yang jelas dan nilai-nilai etika organisasi, maka perilaku etik adalah
apa yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai tersebut.
KESIMPULAN
Dari
pemaparan di atas dapat di simpulkan bahwa etika, moralitas, sopan santun atau
akhlaq al karimah dalam diri setiap manusia lebih-lebih dalam dunia pendidikan
memiliki sesuatu yang bersifat pokok, karena dengan etika akan menjadi nampak
perbedaan orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu. Etika kepemimpinan
dalam sebuah pendidikan tidak harus di miliki oleh kepala sekolah, semua unsur
yang ada di dalam nya juga harus memiliki sebagai asas keberhasilan dalam
mendidik siswa kepada sebuah keberhasilan. Kepemimpinan yang baik kemudian di
ikuti dengan sistem yang apik serta di tambah fasilitas yang memadahi akan
melahirkan sebuah dinamika positif untuk menuju perbaikan sebuah lembaga
pendidikan.
Karena etika dan moralitas Pemimpin Pendidikan sangat berpengaruh
pada efisinsi dan efektifitas kinerja lembaga pendidikan yang
dipimpinnya. Maka kepala sekolah yang menjaga etika dan moralitas yang baik harus
mampu menciptakan iklim sekolah yang kondusif dan nyaman, yang selanjutnya
keadaan seperti ini akan menunjang terciptanya kondisi pembelajaran yang
efisien dan efektif. Efektif
berarti berhasil guna, sedangkan efisien berarti berdaya guna. Efektif berarti
segala kegiatan yang dilakukan oleh sekolah lebih fokus pada pencapaian
tujuan, sedangkan efisien lebih ditekankan pada penghematan biaya. Sesuatu yang
efektif belum tentu efisien dan sesuatu yang efisien belum tentu efektif.
Demikian
makalah singkat ini kami buat untuk memenuhi tugas pada mata kuliah
kepemimpinan yang beretika dalam pendidikan yang di bimbing oleh bapak JM.
Muslimin, P.hD, mudah-mudah apa yang kami suguhkan semakin menambah khazanah
pemikiran khususnya dalam bidang etika pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Yukl Gary, kepemimpinan dalam organisasi, prentice hall.
2001. Hal. 480.
Najmulmunir Nandang, Al-Batawi Sa’adi, Dahsyatnya umrah dan Haji
Mabrur, Saluni, 2013
Najmulmunir Nandang, Al-Batawi Sa’adi, Umrah, haji dan Komitmen
pembaruan bangsa, saluni, 2014. Hal. 49
Muthahhari Murtadha Ayatullah, Dasar-dasar epistemologi
pendidikan Islam, Sadra press, 2001. Hal. 99
Amtu Onisimus, Manajemen Pendidikan di Era Otonomi Daerah,
Alfabeta, Bandung, 2011. Hal. 98.
http://najasmileforyou.blogspot.co.id/2013/04/kepemimpinan-pendidikan-nilai-dan-etika.html
https://ressay.wordpress.com/2007/07/28/kepemimpinan-dalam-masyarakat-islam/
http://my-bukukuning.blogspot.co.id/2012/09/teladan-dari-kepemimpinan-nabi-ibrahim.html#.VkmN5NIrJdj
http://santrigusdur.com/2015/06/negara-dan-kepemimpinan-dalam-islam/
http://www.kalogistics.co.id/news/detail/etika_dan_tanggung_jawab_seorang_pemimpin_bag_2
https://ariefjuli.wordpress.com/2013/04/17/etika-dan-moralitas-pemimpin-pendidikan/
[1]
http://najasmileforyou.blogspot.co.id/2013/04/kepemimpinan-pendidikan-nilai-dan-etika.html
[2] Yukl Gary, kepemimpinan
dalam organisasi, prentice hall. 2001. Hal. 480.
[3]
https://ressay.wordpress.com/2007/07/28/kepemimpinan-dalam-masyarakat-islam/
[4] Najmulmunir
Nandang, Al-Batawi Sa’adi, Dahsyatnya umrah dan Haji Mabrur, Saluni,
2013
[5]
http://my-bukukuning.blogspot.co.id/2012/09/teladan-dari-kepemimpinan-nabi-ibrahim.html#.VkmN5NIrJdj
[6] Najmulmunir
Nandang, Al-Batawi Sa’adi, Umrah, haji dan Komitmen pembaruan bangsa,
saluni, 2014. Hal. 49
[7]
http://santrigusdur.com/2015/06/negara-dan-kepemimpinan-dalam-islam/
[8] Muthahhari
Murtadha Ayatullah, Dasar-dasar epistemologi pendidikan Islam, Sadra press,
2001. Hal. 99
[9]
http://www.kalogistics.co.id/news/detail/etika_dan_tanggung_jawab_seorang_pemimpin_bag_2
[10]
https://ariefjuli.wordpress.com/2013/04/17/etika-dan-moralitas-pemimpin-pendidikan/
[11] Amtu Onisimus,
Manajemen Pendidikan di Era Otonomi Daerah, Alfabeta, Bandung, 2011.
Hal. 98
Tidak ada komentar:
Posting Komentar