Jumat, 29 Januari 2016

Kepemimpinan dalam Pendidikan

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
            Kepemimpinan yang dalam bahasa Inggris di sebut leadership terjadi ketika berjumlah lebih dari satu orang. Kepemimpinan terjadi dari zaman dulu hingga sekarang dan terus mengalami perkembangan sesuai kebutuhan zaman. Kepemimpinan adalah rangkaian kegiatan yang bisa mempengaruhi sebuah kelompok dalam rangka mensukseskan sebuah tujuan. Pemimpin yanng baik adalah pemimpin yang mampu merubah keadaan menjadi lebih baik tanpa menimbulkan permasalah yang baru. Karena tidak jarang saat merubah keadaan harus mengorbankan sisi lain, keberhasilan nya diatas kegagalan orang lain.
            Salah satu pemimpin ideal yang menjadi panutan umat manusia dan role model adalah Rasulullah SAW. Beliau begitu piawai di dalam membangun bangsa dan negara sesuai dengan azas-azas keadilan bersosial  sehingga mampu meminimalisir adanya pertikaian antara satu dengan lainya, karena pola kepemimpinaan nya di dasari dengan iman dan taqwa  kepada Allah SWT melalui akhlaqul karimah. Bahkan menurutnya, semua atas diri kita adalah seorang pemimpin, dan setiap pemimpin akan di mintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan  nya “kullukum raa’in wakullukum mas’uulun an ra’iyyati” sehingga kalau kita menyadari bahwa setiap diri kita adalah pemimpin maka tiada lagi yang bisa di lakukan kecuali terus belajar menjadi pemimpin yang baik minimal untuk dirinya sendiri.
            Di dalam sebuah komunitas baik skala kecil maupun besar, kepemimpinan yang baik harus di landasi etika. Kepemimpinan yang di landasi dengan etika akan terhindar dari perseteruan baik bersifat vertikal maupun horisontal karena jalinan kerjasama di bangun atas dasar kenyamanan, sopan santun dan saling menghargai antara satu dengan yang lain.[1] Perbedaan pendapat di dalam proses kepemimpinan adalah sesuatu yang sudah biasa, bahkan dengan adanya perbedaan pendapat itulah semakin mewarnai khazanah kepemimpinan yang sedang berlangsung. Pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang berani meminta pendapat (mufakat) dari orang-orang yang di pimpin dalam memutuskan sebuah kebijakan, karena bagaimanapun kebijakan di buat untuk di jalankan oleh setiap unsur yang ada di dalam sebuah komunitas tersebut.
            Pemimpin yang memiliki etika menurut Gini (1998), yang di kutip dari Gary Yukl bahwa pada dasarnya permasalah utamanya adalah bukan para pemimpin yang berkuasa dapat menggunakan kekuasaanya tetapi apakah mereka akan menggunakan kepemimpinan nya dengan bijaksana dan baik.[2] Semakin jelas bahwa kepemimpinan yang di dasari dengan etika, moral dan akhlaq yang baik sangat menentukan nilai-nilai kesuksesan nya dalam memimpin sebuah lembaga baik dalam skala kecil maupun besar. Karena sebagaimana menjadi rahasia umum bahwa, konsumen akan selalu mencari sebuah institusi yang di dalam nya terdapat dua hal, pertama siapakah figur nya (pemimpin) dan bagaimana sistem yang di ciptakan  nya. Semakin di kenal figur tersebut, semakin lebih cepat dan mudah untuk berkembang dan begitu pula dengan sistem nya.
            Dari beberapa pemaparan di atas, kita semakin mengetahui bahwa etika dalam konsep kepemimpinan memiliki peranan penting dalam mewujudkan sebuah tujuan utama dalam sebuah instutusi. Karena sebagai negara timur ada nilai-nilai yang selalu di kedepankan saat proses interaksi itu berlangsung. Dan salah satunya adalah nilai-nilai kepemimpinan. Untuk itu, kami berusaha menulis sebuah makalah dengan judul “kepemimpinan yang beretika dalam pendidikan” sebagai salah satu syarat mata kuliah “Kepemimpinan Islam dalam Pendidikan” yang di bimbing oleh Bapak JM, Muslimin, P.hD.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa itu kepemimpinan Islam?
2.      Bagaimana menerapkan etika dalam kepemimpinan?
3.      Etika kepemimpinan dalam lembaga pendidikan?

C.     TUJUAN PEMBAHASAN
1.      Untuk mengetahui hakikat kepemimpinan dalam Islam
2.      Untuk menggali lebih jauh penerapan etika dalam sebuah kepemimpinan
3.      Untuk mempelajari etika kepemimpinan dalam lembaga pendidikan.



 II.     PEMBAHASAN
A.    Kepemimpinan Islam
          Islam hadir adalah untuk menjadi pembeda, penyempurna dan mampu menjadi Rahmat untuk semua. Kehadiran nya membawa sistem yang didalam nya mampu mengatur seluruh kegiatan manusia mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali dan bahkan tidur nya pun ikut dalam sebuah aturan nya. Aturan-aturan ini terangkum lengkap dalam perjalanan seorang manusia yang berbudi pekerti luhur sebagai pembawa risalah kenabian yaitu Muhammad SAW yang menjadi barometer kebaikan atau keburukan, selamat atau tidak selamat, bahagia atau sengsara.
          Islam mengajarkan kepada pemeluknya bahwa setiap diri kita adalah seorang pemimpin dan setiap pemimpin akan di mintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan nya “kullukum ra’in wakullukum mas’ulun an raiyyati”. Karena setiap manusia di bekali potensi dalam dirinya berupa akal maka beban dan tanggung jawab yang di berikan kepadanya sangatlah wajar. Baik saat memimpin dirinya sendiri lebih-lebih saat memimpin orang lain. Pemimpin yang dalam istilah Arab di sebut Khalifah, adalah orang yang di harapkan mampu membawa kepada satu tujuan.[3] Menurut Nandang Najmul Munir bahwa penciptaan manusia di alam semesta hakikatnya adalah mempunyai misi, sebagaimana yang termaktub dalam surat al-baqarah ayat 30 yang berbunyi : “ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “ sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”, mereka bertanya “ mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman “ sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Dari ayat tersebut bisa di ambil pemahaman bahwa ketika Tuhan menciptakan makhluq yang bernama manusia maka sudah tentu Tuhan mempunyai tujuan, sebuah  misi dan misi tersebut adalah menjadi Rahmat untuk sekalian alam.[4]
          Maka, jika diantara manusia yang kehadiran nya di muka bumi ini selalu menebar petaka, fitnah dan membuat kerusakan sejatinya patut kita pertanyakan siapakah sesungguhnya dirinya manusia atau Iblis yang berjubah manusia. Karena jika manusia maka sudah pasti menyadari tugas dan kwajiban dirinya di ciptakan oleh Allah SWT.
          Konsep kepemimpinan Islam yang di prakarsai oleh Nabi Muhammad tentu memiliki akar dari pendahulunya, manusia yang mendapat gelar Khalilullah yang membawa agama Hanif  yang didalam nya mengajarkan nilai-nilai dasar kepemimpinan dalam Islam. Beliau adalah Ibrahim AS. Di dalam membentuk karakternya, Allah SWT memberikan sesuatu yang lebih diantara manusia yang lain pada saat itu. Nilai-nilai critical thinking yang Ibrahim miliki menjadikan dirinya mencari dan mengamati proses kejadian alam yang dengan karunia akal yang di berikan oleh Allah, dirinya berfikir bahwa bintang, matahari dan yang lain di anggap sebagai Tuhan. Proses pencarian Tuhan ini di abadikan di dalam surat al-an’am ayat 75 – 79. Di ayat ke 79 tersebut sebagai kesimpulan atas pencarianya Ibrahim berkata: “sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. Ayat tersebut di abadikan dalam setiap ibadah sholat kita berupa do’a Iftitah.
          Nabi Muhammad di perintahkan mengikuti ajaran Nabi Ibrahim bukan hanya persoalan risalah tetapi semua yang tercakup di dalam nya termasuk persoalan yang berkaitan dengan kepemimpinan[5]. Karena kesempurnaan sebuah ajaran di buktikan dengan adanya keberhasilan di semua lini kehidupan. Termasuk pola mempengaruhi orang lain yang di kemas dengan konsep kepemimpinan. Sebagaimana firman Allah:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (١٢٣)
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS: 16: 123).
          Menurut Anderson, yang penulis kutip dari Nandang Najmulmunir dalam bukunya Umrah, Haji dan komitmen pembaruan Bangsa  bab tentang kepemimpinan bahwa “leadership using power to influence the thoughts and actions of other in such a way that achieve high prformance”. Jika di artikan secara bebas bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok ke arah tercapainya tujuan. Ibarat sebuah turbin yang menggerakkan tenaga air yang bersifat potensial lalu di ubah menjadi energi listrik yang dapat di gunakan untuk modal pembangunan.[6]
          Islam mengajarkan kepada pemeluknya bahwa kepemimpinan seseorang berawal dari satu titik yaitu jiwa atau locus of souverighnity sebagai mesin kepemimpinan. Di pusat inilah, seluruh manusia mengawali kepemimpinan nya sehingga seluruh unsur badani yang melekat dalam raga di kendalikan oleh satu komando. Jika semua unsur ini dapat bersinergi maka akan terjadi hubungan yang harmonis antara jiwa dan raga. Untuk itulah di butuhkan jiwa yang baik, hati yang bersih dan fikiran yang positif agar tercipta tindakan yang baik. Proses kepemimpinan biasanya di mulai dari sesuatu yang paling kecil, pertama pada tingkat individu, keluarga dan masyarakat atau negara.
1.      Individu
      Hal mendasar yang harus seseorang lakukan dalam hal kepemimpinan adalah dia mampu memimpin dirinya sendiri. Dengan hatinya dia mampu mengendalikan tangan, mata, telinga dan seluruh indera yang melekat dalam dirinya. Ketika seseorang sudah mampu memimpin seluruh anggota badan nya maka dengan sendirinya tercermin akhlaqul karimah.
2.      Keluarga
      Kepemimpinan dalam keluarga seyogyanya mampu membawa keluarga tersebut bertawajjuh kepada Allah SWT. Seorang suami bertanggung jawab atas keluarga, anak istri dan semua yang ada di dalam keluarga tersebut termasuk dirinya sendiri. Untuk itulah di butuhkan model kepemimpinan yang bersifat transformatif, artinya seorang suami mampu mentransfer nilai-nilai kepemimpinan nya kepada keluarga yang di pimpin nya sebagaimana yang termaktub dalam surat At-Taubah ayat 24 yang berbunyi “katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugianya, dan tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan RasulNya serta dari pada berjihad di jalan Nya maka tunggulaah sampai Allah mendatangkan keputusan Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yaang fasik”.
3.      Komunitas atau negara
      Dalam sebuah komunitas, seseorang dapat menjadi seorang pemimpin manakala memiliki karakter kuat untuk memimpin dan ini di buktikan dengan track record yang baik. Sehingga sikap keteladanan, kebijaksanaan dan sosok yang bisa di figurkan menjadi sangat penting di dalam kepemimpinan nya guna dapat mencapai tujuan yang di cita-cita kan nya. Abdurrahman Wahid atau yang sering di panggil Gus Dur pernah menyampaikan terkait dengan kepemimpinan  negara, menurutnya “Adagium itu adalah “Tiada Islam tanpa kelompok, tiada kelompok tanpa kepemimpinan, dan tiada kepemimpinan tanpa ketundukan” (La Islama Illa bi Jama’ah wala Jama’ata Illa bi Imarah wala Imarata Illa Bi Tha’ah). Di sini tampak jelas, arti seorang pemimpin bagi Islam, ia adalah pejabat yang bertanggung jawab tentang penegakan perintah – perintah Islam dan pencegah larangan – larangan­Nya (amar ma’rûf nahi munkar).[7]

B.     Menerapkan Etika dalam Kepemimpinan.
   Etika adalah perilaku berstandar normatif berupa nilai-nilai moral, norma dan hal-hal yang mencirikan kebaikan. Etika juga sebagai alat yang mampu membimbing manusia kepada kehidupan yang berperadaban dan lebih baik. Karena dengan etika pula manusia lebih memahami dan menghormati manusia lain atau dengan kata lain di sebut memanusiakan  manusia. Etika menjadi sangat penting ketika manusia memahami secara penuh arti kehidupan ini. Karena dengan nya manusia menjadi terbedakan dengan hewan maupun makhluk lain. Pada dasarnya jiwa kepemimpinan dimilki oleh setiap diri manusia (self leadership), setidaknya dirasakan manakala seseorang melewati suatu proses merencanakan dan menetapkan suatu keputusan guna merealisasikan tujuan hidupnya, namun dalam mengaktualisasikan kepemimpinan itu sendiri sering sekali manusia dihadapkan pada berbagai problematika hidup silih berganti, tidak sedikit persoalan muncul hanya disebabkan kesalahan dalam bertindak dan keliru mempersepsikan sesuatu, untuk menghindarinya menjadi penting faktor pengendali diri, salah satunya adalah dengan mempedomani nilai-nilai etika dan moralitas dalam kehidupan, jadi kepemimpinan dengan etika dan moralitas merupakan satu kesatuan yang sangat erat.
Menurut Murtadha Mutahhari bahwa moralitas atau etika selalu identik dengan perbuatan yang di dasari atas dasar nilai-nilai agung ketuhanan. Maka konsekuensinya adalah ketika perbuatan yang dilakukan bukan berlandaskan agama maka perbuatan tersebut bukan termasuk etika.[8] Di dalam menjalankan tugas nya, Siapapun pasti tidak ingin disebut sebagai pemimpin tanpa etika. Namun, terkadang kekuasaan dan kekuatan di cengkraman diri akan menggoda untuk mempermainkan kekuasaan dan kekuatan sesuai nafsu dan ego diri. Padahal kekuasaan dan kekuatan itu ada karena titipan dari orang-orang yang percaya pada integritas pemimpin. Oleh karena itu, pemimpin tidak boleh lupa untuk menjalani kekuasaan dan kekuatan dengan panduan etika dan moralitas yang tinggi. Seorang pemimpin yang beretika pasti memiliki kepercayaan diri yang kuat sehingga mampu menggoreskan rasa bangga yang diikuti dengan sikap rendah hati kepada orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang memiliki etika juga memiliki kesabaran yang akan mampu menolongnya untuk tetap konsisten terhadap pilihannya dan menunggu hasilnya dengan usaha yang maksimal. Sehingga orang yang dipimpinnya merasa bahwa pemimpin seperti itu patut dijadikan teladan bagi dirinya.
Pada hakikatnya setiap pribadi manusia adalah pemimpin yang mempunyai tujuan untuk dicapai. Setidaknya setiap pribadi adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Jika ia telah mampu untuk memimpin dirinya sendiri maka barulah ia akan mampu untuk memimpin orang lain serta membimbing mereka mencapai tujuan. Seorang pemimpin tentunya memiliki tanggung jawab terhadap sesuatu yang menjadi kewajiban atau tugasnya dan juga harus bertanggungjawab atas kepemimpinannya secara penuh keasadaran.[9]
Pemimpin yang  beretika akan berusaha merangkul seluruh komponen yang terlibat dalam kepemimpinan nya, bukan menjatuhkan bahkan mempidanakan salah satu dari orang yang di pimpin nya. Diantara hal terpenting lain nya dalam konsep kepemimpinan adalah membangun kesadaran bahwa tugas pokok menjadi unsur adalah sangat penting. Karena ketika itu telah terbangun maka sifat kepemilikan dalam sebuah lembaga atau institusi akan mengakar ke dalam dirinya. Dan begitu sebaliknya, Kepemimpinan yang tanpa di dasari dengan etika akan menjadi malapetaka karena dapat menimbulkan ketidakstabilan dan kehancuran. Seorang pemimpin wajib untuk memimpin dengan berpondasikan etika yang kuat dan santun. Sebab, tanpa etika kepemimpinan, maka pemimpin tidak akan pernah mampu menyentuh hati terdalam dari para pengikut. Dan dia juga akan menjadi yang gampang untuk diolok-olok oleh lawan dan kawan. Bila lawan, kawan, dan bawahan sudah suka memperolok-olokan pemimpin, maka malapetaka akan menjadi sahabat kepemimpinan tersebut. Seorang pemimpin yang memiliki etika dan tanggung jawab akan mampu membawa organisasi yang dipimpinnya sampai ke puncak keberhasilan dengan memanfaatkan semua potensi yang ada pada semua anggota organisasi yang dipimpin. Seorang pemimpin menjadikan etika sebagai dasar untuk mengoptimalkan semua bakat dan potensi sumber daya manusia dan meningkatkan nilai dari semua sumber daya yang dimiliki oleh organisasi serta menghargai semua kualitas dan kompetensi sumber daya manusia. Dan bukan seorang pemimpin yang menciptakan jarak antara mimpi dan realitas. Tetapi dia seorang pemimpin beretika yang membantu semua mimpi pengikutnya menjadi kenyataan dalam kebahagiaan.
Kepemimpinan beretika akan selalu meningkatkan interaksi antara dirinya dengan semua orang yang terlibat bersamanya dalam sebuah tugas ataupun pekerjaan. Interaksi menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa semua orang yang terlibat bersama sang pemimpin tidak tersingkir oleh jarak komunikasi. Tetapi semua orang dapat mengerjakan tugas dan tanggung jawab masing-masing dalam etika yang membangun kerjasama dan keyakinan dalam kepercayaan diri yang tinggi. Pemimpin yang beretika tidak akan pernah punya niat untuk menyingkirkan bakat-bakat hebat yang menjanjikan masa depan cerah. Dia akan mengilhami semua orang dengan motivasi dan keteladanan untuk mampu mencapai keunggulan, dan merangsang semua orang untuk berpikir positif dan bekerja efektif. Seorang pemimpin harus mengawali dengan membangun kesadaran dirinya bahwa kepadanya ada pertanggung jawaban atas kepemimpinan nya. Penanggungjawaban kepemimpinan menjelaskan bahwa pemimpin telah diakui serta dipercayai sehingga ia menjadi pemimpin. Penanggungjawaban kepemimpinan ini juga menjelaskan bahwa pemimpin memiliki tugas, kewenangan, hak, kewajiban, tanggung jawab, dan pertanggungjawaban menyeluruh atas segala dan semua dalam kepemimpinannya. Penanggungjawaban kepemimpinan yang ada pada seorang pemimpin menjelaskan bahwa ia sepenuhnya bertanggungjawab atas jatuh-bangunnya kepemimpinan yang dipercayakan kepadanya. Dalam kaitan ini, keberhasilan atau pun kegagalan kepemimpinan tergantung dan bergantung sepenuhnya pada sang pemimpin.
Seorang pemimpin yang bijak dan bertanggung jawab pasti memiliki kiat untuk menghindari sekaligus mengatasi tabrakan antara kepentingan pribadi dengan etika dan moralitas kehidupan serta memiliki hati nurani untuk hidup dalam etika yang tidak melecehkan semua kepercayaan dari para stakeholdersnya. Pemimpin yang bijak tahu bahwa kekuasaan dan kekuatan tidak akan berjalan sempurna tanpa panduan etika dan moralitas kepemimpinan. Penaggungjawaban kepemimpinan yang ada pada seorang pemimpin menjelaskan bahwa ia sepenuhnya bertanggungjawab atas jatuh-bangunnya kepemimpinan yang dipercayakan kepadanya. Dalam kaitan ini, keberhasilan atau pun kegagalan kepemimpinan tergantung dan bergantung sepenuhnya pada sang pemimpin
Pemimpin bertanggung jawab atas semua yang dilihatnya. Itu berarti, dia juga bertanggung jawab atas apa yang dilihat oleh organisasinya serta tim yang dipimpinnya. Dia bertanggung jawab atas hasil-hasil yang dicapainya, baik hasil yang baik maupun hasil yang buruk. Pemimpin bertanggung jawab untuk memulai komunikasi secara proaktif. Ketika kesalahpahaman terjadi dan gossip timbul, pemimpin bertanggung jawab untuk meluruskan dan membangun komunikasi agar kesalah pahaman tidak muncul lagi.
Pemimpin bertanggung jawab untuk memberi contoh sikap baik dengan berdasarkan etika seorang pemimpin serta menjadi agen perubahan. Pemimpin mengerti bahwa apa yang dilakukannya akan ditiru dan diperbesarnya oleh orang yang dipimpinnya, dan karenanya mereka harus mengenakan standar yang tinggi pada dirinya. Menjadi pemimpin adalah menjadi orang yang bisa jadi panutan, baik dalam kinerja maupun integritas. Ia harus hidup sesuai dengan nilai-nilai etika baik yang dianutnya. 

C.     Etika kepemimpinan dalam lembaga pendidikan
          Sebagaimana kita tahu bersama bahwa sebuah lembaga akan tetap eksis atau akan hancur tergantung kepada dua hal. Pemimpin yang mampu memimpin dengan baik dan sebuah sistem yang mampu mempola sebuah lembaga menjadi lembaga yang mampu bersaing dengan lembaga-lembaga lain. Diantara perubahan sistem yang di lakukan pemerintah untuk mengembangkan dan memberikan seluas-luasnya kesempatan kepada setiap lembaga dalam rangka bersaing memajukan lembaga masing-masing adalah dengan cara menerapkan sistem desentralisasi pendidikan.
          Etika dan Moralitas Pemimpin Pendidikan sangat berpengaruh pada efisinsi dan efektifitas  kinerja lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Kepala sekolah yang menjaga etika dan moralitas yang baik akan menciptakan iklim sekolah yang kondusif dan nyaman, selanjutnya keadaan seperti ini akan menunjang terciptanya kondisi pembelajaran yang efisien dan efektif. Efektif berarti berhasil guna, sedangkan efisien berarti berdaya guna. Efektif berarti segala kegiatan yang  dilakukan oleh sekolah lebih fokus pada pencapaian tujuan, sedangkan efisien lebih ditekankan pada penghematan biaya. Sesuatu yang efektif belum tentu efisien dan sesuatu yang efisien belum tentu efektif.[10]
          Menurut Onisimus Amtu di dalam bukunya yang berjudul “Manajemen Pendidikan di era Otonomi Daerah” mengatakan bahwa desentralilasi pendidikan menyerahkan kewenangan dan tugas pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk di kelola sesuai kemampuan dan potensi yang di miliki untuk meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di daerah namun tetap dalam pengawasan pemerintah pusat.[11] Sehingga lembaga-lembaga pendidikan melalui pembinaan pemerintah daerah memiliki keleluasaan dalam meningkatkan mutu pendidikan sesuai kemampuan lembaga masing-masing. Di sinilah di perlukan Kepala Yayasan atau Kepala Sekolah yang betul-betul mampu memimpin lembaga masing-masing dengan pola yang maksimal. Berikut adalah beberapa hal yang harus di penuhi seorang pemimpin dalam memimpin sebuah lembaga adalah bertanggung jawab. Untuk menjadi pemimpin yang beretika, pertama yang harus di miliki adalah sikap tanggung jawab. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berani di depan saat terjadi hal-hal yang membutuhkan keputusan penting, berani mengambil kebijakan saat di butuhkan. Sehingga bawahan merasa di ayomi, di lindungi dan di perhatikan oleh pimpinan dengan cara melibatkan semua komponen saat mengambil keputusan. Bertanggung jawab juga menjadi point mark bagi seorang pemimpin yang memiliki etika, karena bisa saja jika pemimpin tersebut tidak memiliki etika akan kabur saat keadaan menjadi kacau dan membutuhkan nya.
          Ada beberapa nilai kepemimpinan yang perlu dimiliki seorang pemimpin antara lain adalah:
1.    Integritas dan moralitas.
Integritas menyangkut mutu, sifat dan keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Moralitas menyangkut akhlak, budi pekerti, susila, ajaran tentang baik dan buruk, segala sesuatu yang berhubungan dengan etika, adat dan sopan santun.
2.    Visi
Kepemimpinan seorang pemimpin nyaris identik dengan visi kepemimpinannya. Visi adalah arah ke mana organisasi dan orang-orang yang dipimpin akan dibawa oleh seorang pemimpin. Pemimpin ibarat seorang nakhoda yang harus menentukan ke arah mana kapal dengan penumpangnya akan di arahkan.
3.    Kebijaksanaan
Kebijaksanaan (wisdom) yaitu kearifan seorang pemimpin dalam memutuskan sesuatu sehingga keputusannya adil dan bijaksana. Kebijaksanaan memiliki makna lebih dari kepandaian atau kecerdasan. Pemimpin setiap saat dihadapkan kepada situasi yang rumit dan sulit untuk mengambil keputusan karena terdapat perbedaan kepentingan antar kelompok masyarakat dan mereka yang akan terkena dampak keputusannya.
4.    Keteladanan.
Keteladanan seorang pemimpin adalah sikap dan tingkah laku yang dapat menjadi contoh bagi orang-orang yang dipimpinnya. Keteladanan berkaitan erat dengan kehormatan,  integritas dan moralitas pemimpin. Keteladanan yang dibuat-buat atau semu dan direkayasa tidak akan langgeng.
5.    Menjaga Kehormatan.
Seorang pemimpin harus menjaga kehormatan dengan tidak melakukan perbuatan tercela karena semua perbuatannya menjadi contoh bagi bawahan dan orang-orang yang dipimpinnya.
6.    Beriman.
Beriman kepada Tuhan Yang Mahaesa sangat penting karena pemimpin adalah manusia biasa dengan semua keterbatasannya secara fisik, pikiran dan akal budi sehingga banyak masalah yang tidak akan mampu dipecahkan dengan kemampuannya sendiri. Iman dapat menjembatani antara keterbatasan manusia dengan kesempurnaan yang dimiliki Tuhan, agar kekurangan itu dapat diatasi.
7.    Kemampuan Berkomunikasi.
Suatu proses kepemimpinan pada hakikatnya mengandung beberapa komponen yaitu, pemimpin, yang dipimpin, komunikasi dan interkasi antara pemimpin dan yang dipimpin, serta lingkungan dari proses komunikasi tersebut.
8.    Komitmen Meningkatkan Kualitas SDM.
Sumber daya manusia (SDM) adalah faktor strategis dan penentu dalam kemajuan organisasi, dan pemimpin harus memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan kualitas SDM. Bila pemimpin etik memiliki nilai-nilai etika pribadi yang jelas dan nilai-nilai etika organisasi, maka perilaku etik adalah apa yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai tersebut.
 KESIMPULAN
    Dari pemaparan di atas dapat di simpulkan bahwa etika, moralitas, sopan santun atau akhlaq al karimah dalam diri setiap manusia lebih-lebih dalam dunia pendidikan memiliki sesuatu yang bersifat pokok, karena dengan etika akan menjadi nampak perbedaan orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu. Etika kepemimpinan dalam sebuah pendidikan tidak harus di miliki oleh kepala sekolah, semua unsur yang ada di dalam nya juga harus memiliki sebagai asas keberhasilan dalam mendidik siswa kepada sebuah keberhasilan. Kepemimpinan yang baik kemudian di ikuti dengan sistem yang apik serta di tambah fasilitas yang memadahi akan melahirkan sebuah dinamika positif untuk menuju perbaikan sebuah lembaga pendidikan.
    Karena etika dan moralitas Pemimpin Pendidikan sangat berpengaruh pada efisinsi dan efektifitas  kinerja lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Maka kepala sekolah yang menjaga etika dan moralitas yang baik harus mampu menciptakan iklim sekolah yang kondusif dan nyaman, yang selanjutnya keadaan seperti ini akan menunjang terciptanya kondisi pembelajaran yang efisien dan efektif. Efektif berarti berhasil guna, sedangkan efisien berarti berdaya guna. Efektif berarti segala kegiatan yang  dilakukan oleh sekolah lebih fokus pada pencapaian tujuan, sedangkan efisien lebih ditekankan pada penghematan biaya. Sesuatu yang efektif belum tentu efisien dan sesuatu yang efisien belum tentu efektif.
    Demikian makalah singkat ini kami buat untuk memenuhi tugas pada mata kuliah kepemimpinan yang beretika dalam pendidikan yang di bimbing oleh bapak JM. Muslimin, P.hD, mudah-mudah apa yang kami suguhkan semakin menambah khazanah pemikiran khususnya dalam bidang etika pendidikan.

 DAFTAR PUSTAKA
Yukl Gary, kepemimpinan dalam organisasi, prentice hall. 2001. Hal. 480.
Najmulmunir Nandang, Al-Batawi Sa’adi, Dahsyatnya umrah dan Haji Mabrur, Saluni, 2013
Najmulmunir Nandang, Al-Batawi Sa’adi, Umrah, haji dan Komitmen pembaruan bangsa, saluni, 2014. Hal. 49
Muthahhari Murtadha Ayatullah, Dasar-dasar epistemologi pendidikan Islam, Sadra press, 2001. Hal. 99
Amtu Onisimus, Manajemen Pendidikan di Era Otonomi Daerah, Alfabeta, Bandung, 2011. Hal. 98.
http://najasmileforyou.blogspot.co.id/2013/04/kepemimpinan-pendidikan-nilai-dan-etika.html
https://ressay.wordpress.com/2007/07/28/kepemimpinan-dalam-masyarakat-islam/
http://my-bukukuning.blogspot.co.id/2012/09/teladan-dari-kepemimpinan-nabi-ibrahim.html#.VkmN5NIrJdj
http://santrigusdur.com/2015/06/negara-dan-kepemimpinan-dalam-islam/
http://www.kalogistics.co.id/news/detail/etika_dan_tanggung_jawab_seorang_pemimpin_bag_2
https://ariefjuli.wordpress.com/2013/04/17/etika-dan-moralitas-pemimpin-pendidikan/




[1] http://najasmileforyou.blogspot.co.id/2013/04/kepemimpinan-pendidikan-nilai-dan-etika.html
[2] Yukl Gary, kepemimpinan dalam organisasi, prentice hall. 2001. Hal. 480.
[3] https://ressay.wordpress.com/2007/07/28/kepemimpinan-dalam-masyarakat-islam/
[4] Najmulmunir Nandang, Al-Batawi Sa’adi, Dahsyatnya umrah dan Haji Mabrur, Saluni, 2013
[5] http://my-bukukuning.blogspot.co.id/2012/09/teladan-dari-kepemimpinan-nabi-ibrahim.html#.VkmN5NIrJdj
[6] Najmulmunir Nandang, Al-Batawi Sa’adi, Umrah, haji dan Komitmen pembaruan bangsa, saluni, 2014. Hal. 49
[7] http://santrigusdur.com/2015/06/negara-dan-kepemimpinan-dalam-islam/
[8] Muthahhari Murtadha Ayatullah, Dasar-dasar epistemologi pendidikan Islam, Sadra press, 2001. Hal. 99
[9] http://www.kalogistics.co.id/news/detail/etika_dan_tanggung_jawab_seorang_pemimpin_bag_2
[10] https://ariefjuli.wordpress.com/2013/04/17/etika-dan-moralitas-pemimpin-pendidikan/
[11] Amtu Onisimus, Manajemen Pendidikan di Era Otonomi Daerah, Alfabeta, Bandung, 2011. Hal. 98

Tidak ada komentar:

Posting Komentar