Jumat, 29 Januari 2016

Pengertian Ihsan

AQIDAH AKHLAQ
Mas Punk
UNDERSTANDING THE PILLAR OF IHSAN
(PENGERTIAN IHSAN)
Sebagaimana yang tertera di dalam Hadits nabi bahwa yang dimaksud Ihsan adalah “an ta’budallah ka annaka taraa hu, fa in lam takun taraa hu fainnahu yaraaka” artinya bahwa ketika kita beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat Allah dan jika kita tidak melihat Allah maka kita harus yakin bahwa Allah pasti melihat kita. Cara beribadah pada tingkatan ini mengalami sebuah totalitas, tidak ada unsur kepentingan selain dari menuju Ridho Allah SWT. Karena pada tingkatan ini seseorang sudah mendapat predikat Siddiqiin yang dengan Siddiqiin tersebut Allah beri sebuah karunia berupa Musyahadah atau sebuah penyaksian antara si hamba dan sang Khaliq.
Setiap manusia pada dasarnya mempunyai potensi yang sama untuk bisa mendekat kepada Tuhan, karena manusia dibekali oleh Tuhan dengan kapasitas yang sama hanya saja apakah manusia mau untuk terus berusaha mewujudkan semua potensi yang ada dalam dirinya. Ihsan adalah puncak dari semua tangga pendakian di dalam mengenal Allah, karena ketika seseorang sudah mendapat predikat Muhsin oleh Allah maka tangga keislaman dan keimanan sudah pasti terlewati.
Ihsan mencakup 2 aspek, ihsan dalam beribadah kepada Allah dan Ihsan dalam menunaikan kewajiban kepada sesama makhluq. Biasanya lebih akrab di sebut hablum minallah dan habluminannas. Islam, Iman dan Ihsan ini biasanya ulama menyamakan sebuah tingkatan Syariat, Tarekat dan Hakikat. Ketiga hal ini adalah sebuah sebuah kesatuan yang seharusnya tidak boleh di pisahkab satu dengan lainya karena sebuah kesempurnaan ibadah manakala sudah betul-betul memahami konsep ihsan dalam dirinya sehingga akhir dari sebuah mengamalkan sebuah ajaran adalah bagaimana kita berlaku ihsan baik kepada Allah maupun sesama manusia. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah, 195 “Dan berbuat baiklah kalian, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”
Ihsan berasal dari hasana yuhsinu, yang artinya berbuat baik. Sementara masdar nya ihsanan, bermakna kebaikan. Kebaikan yang bermuara kepada semua aspek.
Aspek pokok dalam Ihsan
1.      Ibadah
kita wajib berihsan dalam ibadah, yaitu dengan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah, tentu ibadah ini harus sesuai syarat dan rukun ibadah masing-masing sesuai ketentuan yang berlaku. Seperti ibadah sholat, puasa dan lain-lain. Ibadah-ibadah tersebut harus betul-betul di jalankan secara total untuk mengharap ridho Allah SWT. Ibadah yang sering kita lakukan memang terkadang bersifat tendensius artinya segala apa yang kita lakukan tidak murni mengharap ridho dari Allah SWT. Terkadang hanya karena takut neraka nya Allah, hanya sekedar ingin masuk surga dan seterusnya padahal kemuliaan tertinggi dalam ibadah adalah manakala kita ingin mengharap ridho dari Allah SWT. Tentu ketika ibadah sudah mencapai tingkatan ini semua ritual yang di jalankan betul-betul di iringi dengan cinta. Layaknya hamba yang sedang mencinta, kerinduan kepada Tuhan selalu mengiringi setiap langkahnya.
2.      Muamalah
Muamalah berasal dari kata aamala, yuamilu, muamalat yang bermakna tindakan terhadap orang lain. Artinya ada sebuah hubungan antara manusia satu dengan lainya, seperti perdagangan, kerjasama dalam bekerja dan lain-lain. Ketika seseorang sudah betul-betul memahami ihsan tentu menjadikan kebaikan terhadap sesama manusia adalah bagian dari ibadah kepada Allah. Karena semua aspek kehidupan ini akan terikat dengan aturan yang telah dibuat oleh Allah SWT. Contoh perdagangan akan terikat dengan fiqih jual beli, berapa persen dari hasil perdagangan yang mesti di zakati dan seterusnya. Artinya antara ibadah kepada Allah dan berbuat baik terhadap sesama harus seirama.
3.      Akhlaq.
Akhlaq adalah sebuah sikap, moral, sopan santun yang harus dimiliki oleh setiap orang. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa manusia yang paling sempurna di dalam mencontohkan akhlak nya adalah Rasulullah Muhammad SAW. Sesungguhnya dalam diri Rasul terdapat suri tauladan yang sempurna.
Pembagian akhlaq
a.      Akhlaq kepada Allah
Berakhlaq kepada Allah dilakukan setiap saat, terutama saat kita beribadah kepada Nya seperti menjalankan sholat. Sholat adalah sebuah upaya dialoq antara si hamba dengan si Kholiq sehingga layaknya sebuah percakapan kita dengan Tuhan maka di lakukan dengan serius mulai dari segi berpakaian maupun sikap kita saat sholat di laksanakan.
b.      Akhlaq terhadap sesama
Bagaimana kita berakhlaq terhadap orang tua, guru, tetangga bahka semua orang pun telah di contohkan oleh Nabi sehingga tidak alasan bagi kita untuk berbuat sesuatu yang dianggap tidak benar. Sebagaimana keharusan menghormati orang tua hingga nabi mengatakan bahwa Ridho-Nya Allah terletak pada Ridho nya orang tua begitu juga murka-Nya Allah tergantung kepada murka nya orang tua. Ternyata orang tua mempunyai peranan penting didalam menggapai ridho Allah SWT.


c.       Akhlaq terhadap diri sendiri
Salah satu contoh akhlaq terhadap diri sendiri adalah ketika kita dalam kesendirian. Bagaimana bersikap saat di rumah, di kamar bahkan di kamar mandi pun sebaiknya kita berusaha untuk menjaga diri dari hal-hal negative. Untuk itu Nabi selalu mengajarkan untuk memulai segala aktifitas kita dengan doa-doa agar disamping kita selamat juga selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT.
Apakah manusia biasa mencapai maqam Ihsan?
            Seperti yang telah di jelaskan di awal bahwa semua manusia mempunyai potensi yang sama di dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu contoh tingkatan ihsan ini adalah adanya para Wali Allah, mereka di beri karunia keistimewaan dari sisi Allah sesuai dengan tingkat kedekatan nya kepada Allah. Biasanya Karamah-Karamah yang dimiliki hanya muncul saat dibutuhkan untuk membuktikan kuasa Allah, bukan untuk hal-hal yang tidak perlu seperti pamer dan lainya. Karena keberadaan dirinya beserta karamah nya tentu mempunyai satu misi yaitu bagaimana mengesakan Allah, menyadarkan manusia bahwa hanya Allah tempat bergantung.
            Seorang yang betul-betul berusaha menjadi manusia yang muqorribin (orang-orang yang dekat kepada Allah) tentu harus berusaha meninggalkan hal-hal yang sia-sia. Jangan kan sesuatu yang haram, yang halal pun terkadang mereka hindari. Salah satu contoh adalah menikah lagi, memakan daging dan-lain. Kenapa menikah lagi tidak dianjurkan bagi seorang yang ingin betul-betul ingin mendekat kepada Allah, karena dengan menikah lagi konsentrasi akan berkurang, kemudian dirinya akan di sibukkan dengan hal-hal yang berbau kesenangan yang semua itu akan memperlambat jalan kepada Tuhan.


Latihan soal
1.      “An ta’budallah ka annaka taraa Hu, fa in lam takun taraa Hu fainnaHu yaraaka”, apa maksud dari hadits di atas?
2.      Ihsan adalah sebuah tingkatan tertinggi dalam agama, apa yang dimaksud dengan Ihsan?
3.      Mengapa kita harus berbuat ihsan dalam setiap lini?
4.      Apa yang kalian ketahui tentang wali-wali Allah?
5.      Sebutkan ciri-ciri seorang wali?




Referensi
Imam Ghazali, Mukhtasar Ihya’ Ulumuddin, Pustaka Amani Jakarta
Imam Ghazali, Raudhah (Taman Jiwa Kaum Sufi) Risalah Gusti. Surabaya.

Sayyid bin Ibrahim al-Huwaithi, Syarah Arbain An-Nawawi, Darul Haq. Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar