AQIDAH & AKHLAQ
Mas Punk
UNDERSTANDING THE PILLAR OF IHSAN
(PENGERTIAN IHSAN)
Sebagaimana
yang tertera di dalam Hadits nabi bahwa yang dimaksud Ihsan adalah “an
ta’budallah ka annaka taraa hu, fa in lam takun taraa hu fainnahu yaraaka”
artinya bahwa ketika kita beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat Allah
dan jika kita tidak melihat Allah maka kita harus yakin bahwa Allah pasti
melihat kita. Cara beribadah pada tingkatan ini mengalami sebuah totalitas,
tidak ada unsur kepentingan selain dari menuju Ridho Allah SWT. Karena pada
tingkatan ini seseorang sudah mendapat predikat Siddiqiin yang dengan Siddiqiin
tersebut Allah beri sebuah karunia berupa Musyahadah atau sebuah penyaksian
antara si hamba dan sang Khaliq.
Setiap manusia
pada dasarnya mempunyai potensi yang sama untuk bisa mendekat kepada Tuhan, karena
manusia dibekali oleh Tuhan dengan kapasitas yang sama hanya saja apakah
manusia mau untuk terus berusaha mewujudkan semua potensi yang ada dalam
dirinya. Ihsan adalah puncak dari semua tangga pendakian di dalam mengenal
Allah, karena ketika seseorang sudah mendapat predikat Muhsin oleh Allah maka
tangga keislaman dan keimanan sudah pasti terlewati.
Ihsan mencakup
2 aspek, ihsan dalam beribadah kepada Allah dan Ihsan dalam menunaikan
kewajiban kepada sesama makhluq. Biasanya lebih akrab di sebut hablum
minallah dan habluminannas. Islam, Iman dan Ihsan ini biasanya ulama
menyamakan sebuah tingkatan Syariat, Tarekat dan Hakikat. Ketiga hal ini adalah
sebuah sebuah kesatuan yang seharusnya tidak boleh di pisahkab satu dengan
lainya karena sebuah kesempurnaan ibadah manakala sudah betul-betul memahami
konsep ihsan dalam dirinya sehingga akhir dari sebuah mengamalkan sebuah ajaran
adalah bagaimana kita berlaku ihsan baik kepada Allah maupun sesama manusia. Allah
SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah, 195 “Dan berbuat baiklah kalian,
karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”
Ihsan berasal
dari hasana yuhsinu, yang artinya berbuat baik. Sementara masdar nya ihsanan,
bermakna kebaikan. Kebaikan yang bermuara kepada semua aspek.
Aspek pokok dalam Ihsan
1.
Ibadah
kita
wajib berihsan dalam ibadah, yaitu dengan menjalankan semua perintah Allah dan
menjauhi segala larangan Allah, tentu ibadah ini harus sesuai syarat dan rukun
ibadah masing-masing sesuai ketentuan yang berlaku. Seperti ibadah sholat,
puasa dan lain-lain. Ibadah-ibadah tersebut harus betul-betul di jalankan
secara total untuk mengharap ridho Allah SWT. Ibadah yang sering kita lakukan
memang terkadang bersifat tendensius artinya segala apa yang kita lakukan tidak
murni mengharap ridho dari Allah SWT. Terkadang hanya karena takut neraka nya
Allah, hanya sekedar ingin masuk surga dan seterusnya padahal kemuliaan
tertinggi dalam ibadah adalah manakala kita ingin mengharap ridho dari Allah
SWT. Tentu ketika ibadah sudah mencapai tingkatan ini semua ritual yang di
jalankan betul-betul di iringi dengan cinta. Layaknya hamba yang sedang
mencinta, kerinduan kepada Tuhan selalu mengiringi setiap langkahnya.
2.
Muamalah
Muamalah
berasal dari kata aamala, yuamilu, muamalat yang bermakna tindakan terhadap
orang lain. Artinya ada sebuah hubungan antara manusia satu dengan lainya,
seperti perdagangan, kerjasama dalam bekerja dan lain-lain. Ketika seseorang sudah
betul-betul memahami ihsan tentu menjadikan kebaikan terhadap sesama manusia adalah
bagian dari ibadah kepada Allah. Karena semua aspek kehidupan ini akan terikat
dengan aturan yang telah dibuat oleh Allah SWT. Contoh perdagangan akan terikat
dengan fiqih jual beli, berapa persen dari hasil perdagangan yang mesti di
zakati dan seterusnya. Artinya antara ibadah kepada Allah dan berbuat baik
terhadap sesama harus seirama.
3.
Akhlaq.
Akhlaq
adalah sebuah sikap, moral, sopan santun yang harus dimiliki oleh setiap orang.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa manusia yang paling sempurna di dalam
mencontohkan akhlak nya adalah Rasulullah Muhammad SAW. Sesungguhnya dalam diri
Rasul terdapat suri tauladan yang sempurna.
Pembagian
akhlaq
a.
Akhlaq kepada Allah
Berakhlaq
kepada Allah dilakukan setiap saat, terutama saat kita beribadah kepada Nya
seperti menjalankan sholat. Sholat adalah sebuah upaya dialoq antara si hamba
dengan si Kholiq sehingga layaknya sebuah percakapan kita dengan Tuhan maka di
lakukan dengan serius mulai dari segi berpakaian maupun sikap kita saat sholat
di laksanakan.
b.
Akhlaq terhadap sesama
Bagaimana
kita berakhlaq terhadap orang tua, guru, tetangga bahka semua orang pun telah
di contohkan oleh Nabi sehingga tidak alasan bagi kita untuk berbuat sesuatu
yang dianggap tidak benar. Sebagaimana keharusan menghormati orang tua hingga
nabi mengatakan bahwa Ridho-Nya Allah terletak pada Ridho nya orang tua begitu
juga murka-Nya Allah tergantung kepada murka nya orang tua. Ternyata orang tua
mempunyai peranan penting didalam menggapai ridho Allah SWT.
c.
Akhlaq terhadap diri sendiri
Salah
satu contoh akhlaq terhadap diri sendiri adalah ketika kita dalam kesendirian.
Bagaimana bersikap saat di rumah, di kamar bahkan di kamar mandi pun sebaiknya
kita berusaha untuk menjaga diri dari hal-hal negative. Untuk itu Nabi selalu
mengajarkan untuk memulai segala aktifitas kita dengan doa-doa agar disamping
kita selamat juga selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT.
Apakah manusia biasa mencapai maqam Ihsan?
Seperti yang telah di jelaskan di awal bahwa semua manusia
mempunyai potensi yang sama di dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah
satu contoh tingkatan ihsan ini adalah adanya para Wali Allah, mereka di beri
karunia keistimewaan dari sisi Allah sesuai dengan tingkat kedekatan nya kepada
Allah. Biasanya Karamah-Karamah yang dimiliki hanya muncul saat dibutuhkan
untuk membuktikan kuasa Allah, bukan untuk hal-hal yang tidak perlu seperti
pamer dan lainya. Karena keberadaan dirinya beserta karamah nya tentu mempunyai
satu misi yaitu bagaimana mengesakan Allah, menyadarkan manusia bahwa hanya
Allah tempat bergantung.
Seorang yang
betul-betul berusaha menjadi manusia yang muqorribin (orang-orang yang dekat
kepada Allah) tentu harus berusaha meninggalkan hal-hal yang sia-sia. Jangan kan
sesuatu yang haram, yang halal pun terkadang mereka hindari. Salah satu contoh
adalah menikah lagi, memakan daging dan-lain. Kenapa menikah lagi tidak
dianjurkan bagi seorang yang ingin betul-betul ingin mendekat kepada Allah,
karena dengan menikah lagi konsentrasi akan berkurang, kemudian dirinya akan di
sibukkan dengan hal-hal yang berbau kesenangan yang semua itu akan memperlambat
jalan kepada Tuhan.
Latihan soal
1.
“An ta’budallah ka annaka taraa Hu, fa in lam takun taraa Hu
fainnaHu yaraaka”, apa maksud dari hadits di atas?
2.
Ihsan adalah sebuah tingkatan tertinggi dalam agama, apa yang
dimaksud dengan Ihsan?
3.
Mengapa kita harus berbuat ihsan dalam setiap lini?
4.
Apa yang kalian ketahui tentang wali-wali Allah?
5.
Sebutkan ciri-ciri seorang wali?
Referensi
Imam Ghazali, Mukhtasar Ihya’
Ulumuddin, Pustaka Amani Jakarta
Imam Ghazali, Raudhah (Taman
Jiwa Kaum Sufi) Risalah Gusti. Surabaya.
Sayyid bin Ibrahim al-Huwaithi,
Syarah Arbain An-Nawawi, Darul Haq. Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar