PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Mengawali sebuah pembahasan yang
tidak bertepi, saya ingin membuat ilustrasi kepemilikan sebuah kamar. Kamar
saudara berbeda dengan kamar yang saya miliki, bagaimana anda mengetahui bahwa
kamar saya lebih baik dari pada kamar anda sementara anda tidak pernah
mengunjungi kamar saya. Begitu juga sebaliknya, saya tidak bisa mengatakan
bahwa kamar saya lebih baik jika saya belum pernah mengunjungi kamar anda. Maka
cobalah kita saling berkunjung agar kita tau kekurangan dan kelebihan kamar
masing-masing. Ruang lingkup hunian bukan sebatas ada kamar-kamar saja tetapi
scope yang lebih besar ada rumah, lingkungan dan seterusnya. Berbicara tentang
kebenaran pun demikian, karena wilayahnya tidak bertepi maka kekuatan dan
barometer nya adalah sebuah bangunan argumentasi.
Terkadang pijakan sebuah kebenaran
bagi sebagian agamawan tertentu terletak pada dalil-dalil yang terkandung di
dalam kitab suci tetapi sebagian yang lain adalah bangunan rasional. Karena
persoalan inilah maka muncul berbagai macam pandangan sehingga tidak sedikit
berbagai pendapat tentang sebuah hakikat kebenaran. Kebenaran adalah sebuah
nilai dalam kehidupan manusia sehingga keberadaan nya tidak dapat dipungkiri
selalu menjadi tonggak perjalanan manusia di dalam mengawal kehidupan nya. Pada
dasarnya, sifat alami manusia adalah mencintai kebenaran sehingga tatkala
bertindakpun sesuai dengan nilai kebenaran namun dalam pelaksanaan nya
terkadang manusia di hadapkan kepada nilai-nilai yang bertentangan dengan
kebenaran.
Perjalanan manusia dalam menuju kepada
sang hakikat kebenaran tidak semulus yang di bayangkan, onak dan duri serta jalan
terjal dan panjang menjadi penghias perjalanan nya sehingga tidak sedikit
manusia yang gagal, tersesat bahkan terlaknat. Inilah fungsi adanya seorang
utusan dalam membawa risalah untuk di sampaikan kepada manusia sebagai petunjuk
jalan menuju sang Hakikat kebenaran agar manusia selamat dari gangguan-gangguan
dalam perjalanan nya sehingga sampai kepada sang Hakikat Kebenaran. Kebenaran
dalam perspektif teologis tentu berbeda dengan perspektif filsafat karena
bangunan yang ada di filsafat bersifat sistematis dan rasional. Tiga jenis
kebenaran yang menjadi fokus pembahasan di dalam makalah ini adalah Tuhan dalam
perspektif filsafat dan tasawuf.
B. RUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan
beberapa poin dari latar belakang diatas dapat diambil poin-poin yang menjadi
topik permasalahan
a. Seperti apakah tingkatan-tingkatan kebenaran?
b. Bagaimana teori kebenaran menurut filsafat?
c. Apakah yang di maksud hakikat kebenaran?
C. TUJUAN PEMBAHASAN
Tujuan utama dari penulisan tugas makalah ini adalah untuk
mengetahui :
a.
Mengetahui sebuah
tingkatan dalam kebenaran.
b.
Mengkaji tentang
teori-teori sebuah kebenaran dalam filsafat
c.
Untuk mengetahui
siapa sesungguhnya hakikat kebenaran.
PEMBAHASAN
A. TINGKATAN KEBENARAN.
1. Kebenaran Indera
Tingkatan awal yang di alami
oleh manusia. Indera bersifat tegas dan jelas karena bisa di pegang, di lihat
dan di rasa. Mata kita melihat bintang kecil, pensil kalau di masukkan kedalam
air maka akan bengkok, semua wajah jika kita raba maka akan sama jika mata kita
tertutup.
2. Kebenaran Akal.
Menurut Imam Ghazali di dalam
kitab Al-Munqid Minaddholal bahwa kebenaran yang lebih tinggi tingkatan nya
adalah kebenaran akal. Kebenaran empiris terkadang menipu. Tetapi rasional
(akal) mampu membuktikan lebih benar dan lebih nyata. Bintang yang seolah kecil
menurut mata kita ternyata lebih besar dari bumi menurut akal kita, pensil yang
seolah bengkok ternyata tetap lurus menurut akal kita. Begitu juga dengan yang lain
nya, indera kita terkadang menipu dari kebenaran yang sesungguhnya.
3. Kebenaran Aksioma
Kebenaran aksioma adalah
kebenaran yang bersifat umum, tidak perlu pembuktian karena bersifat badihiyyah
haqiqotun muqorrorotun (kebenaran yang tidak perlu dibuktikan). Setengah lebih
kecil dari pada satu, matahari terbit dari barat. Namun dalam perkembangan nya,
ternyata ketidakmampuan dan keterbatasan nya ketika di hadapkan kepada hal-hal
yang bersifat metafisika sehingga para pemikir meletakkan kebenaran aksioma masih
bersifat relatif. Keberadaan kebenaran aksioma ini baik untuk menjelaskan
hal-hal yang berkenaan dengan matematika, logika dan rasional tetapi tidak
mampu pada ranah metafisika.
4. Kebenaran Agama (Tasawwuf).
Untuk menemukan kebenaran
agama juga masih membutuhkan tingkatan-tingkatan sebagaimana dibawah ini :
1. Ilmu kalam (teologi).
Ilmu kalam atau biasa di sebut
teologi didalam menemukan kebenaran selalu disandarkan kepada dalil.
Dalil-dalil inilah yang menjadi argumentasi mereka didalam menentukan kebenaran
sehingga dengan keterbatasan nya sering kita temukan adanya saling menyalahkan
bahkan sampai pada tingkat kafir-mengkafirkan.
2. Filsafat.
Filsafat mempunyai peran besar
di dalam menopang kebenaran agama, keberadaan filosof-filosof muslim sangat
membantu menjelaskan eksistensi Tuhan dalam perspektif Islam terutama
mengahadapi kaum rasionalis dan liberalis barat yang menyerang Islam. Tetapi
menurut Imam Ghazali ketika dalam proses pencarianya, filsafat ternyata tidak
mampu memuaskan dirinya karena filsafat bersifat spekulatif yang isinya ngarang
dan tentative.
3. Tasawuf
Tasawuf adalah puncak dari
kebenaran karena pada tingkat ini seseorang tidak lagi mencari kebenaran, tetapi
bagaimana mengalami kebenaran. Mengalami kebenaran ini di dalam ilmu Tasawuf
sering di sebut Kasy yang menurut Ibn Sina di sebut Tahaqquq. Seseorang tidak
akan pernah tau manisnya teh jika hanya sebatas di jelaskan, karena bahasa tidak
akan pernah mampu mennjelaskan lezatnya rasa teh. Yang menurut Syuhrawardi di
sebut Hudhuri yaitu pengetahuan objek dan subyek menjadi satu.
B. TEORI KEBENARAN DALAM FILSAFAT
Ada beberapa teori
yang mendukung sebuah kebenaran dalam ilmu filsafat. Diantaranya
1. Teori
korespondensi
Teori ini mengatakan bahwa sebuah kebenaran adalah
kesesuaian antara apa yang di ucapkan dengan kenyataan yang terjadi. Menurut Aristoteles bahwa kebenaran adalah persesuaian antara
apa yang dikatakan dengan kenyataan. Jadi suatu pernyataan dianggap benar jika
apa yang dinyatakan memiliki keterkaitan (correspondence) dengan kenyataan yang
diungkapkan dalam pernyataan itu. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya
apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya. Atau dapat pula
dikatakan bahwa kebenaran terletak pada kesesuaian antara subjek dan objek,
yaitu apa yang diketahui subjek dan realitas sebagaimana adanya. Kebenaran
sebagai persesuaian juga disebut sebagai kebenaran empiris, karena kebenaran
suatu pernyataan proposisi, atau teori, ditentukan oleh apakah pernyataan,
proposisi atau teori didukung fakta atau tidak.
2. Teori
konsistensi
Mencari dan mempertahankan kebenaran menuntut adanya
konsistensi sikap, baik dalam upaya terus menerus mencari kebenaran maupun
membangun argumen-argumen pengetahuan. Tanpa sikap konsisten dalam membangun
argumentasi maka akan memperlihatkan adanya sikap yang tidak ilmiah bahkan tidak
kritis. Penganut teori ini Spinoza, Descartes, Heggel dan masih banyak lagi
nama besar yang mendukung teori ini. Tidak ada ilmu yang bisa menghancurkan
dirinya sendiri kecuali filsafat, karena proses menghancurkan diri sendiri
juga bagian dari berfilsafat. Ini adalah
contoh teori yang tidak konsisten dengan apa yang terjadi sebelumnya.
3. Teori
Pragmatis.
Diantara penganut teori pragmatis ini adalah Charles Sanders Pierce dan William James. Bagi
kaum pragmatis, kebenaran sama artinya dengan kegunaan. Jadi sebuah ide,
konsep, pernyataan, atau hipotesis yang benar adalah ide yang berguna. Ide yang
benar adalah ide yang paling mampu memungkinkan seseorang (berdasarkan ide itu)
melakukan sesuatu secara paling berhasil dan tepat guna. Dengan kata lain,
berhasil dan berguna adalah kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide
benar atau tidak. Contohnya, ide bahwa kemacetan di jalan-jalan besar di
Jakarta disebabkan terlalu banyak kendaraan pribadi yang ditumpangi satu orang.
Maka, konsep solusinya, “wajibkan kendaraan pribadi ditumpangi minimal oleh
tiga penumpang”. Ide tersebut benar jika ide itu berguna atau berhasil
memecahkan persoalan kemacetan.
Menurut penganut pragmatis bahwa suatu ide yang benar
adalah ide yang memungkinkan kita berhasil memperbaiki atau menciptakan
sesuatu. Dalam hal ini, kaum pragmatis sesungguhnya tidak menolak teori
kebenaran dari kaum rasionalis maupun teori kebenaran kaum empiris. Hanya saja,
bagi mereka suatu kebenaran apriori hanya benar bila kalau kebenaran itu
berguna dalam penerapannya yang memunginkan manusia bertindak secara efektif.
Demikian pula, tolok ukur kebenaran suatu ide bukanlah realitas statis,
melainkan realitas tindakan. Benar tidaknya suatu dalil atau teori tergantung
kepada berfaedah tidaknya dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk
kehidupannya. Kebenaran suatu pernyataan harus bersifat fungsional dalam kehidupan
praktis.
C. HAKIKAT
KEBENARAN
Sebagaimana kita ketahui bahwa pembahasan di dunia
tidak terlepas dari 3 hal, Alam, Manusia dan Tuhan. Jika manusia berada di
dalam komponen alam maka pembahasan tersebut menjadi alam dan Tuhan. Karena
alam adalah bagian dari wujud Tuhan maka semua tidak terlepas dari jangkauan
Tuhan. Ketika kita berbicara tentang sang Hakikat kebenaran maka dalam bayangan
kita yang muncul adalah redaksi Tuhan. Tuhan yang dalam bahasa filsafat selalu
di sandarkan kepada kata Wujud. Di dalam perkembangan nya, kajian-kajian wujud
telah banyak di kaji oleh para filosof muslim bahkan tidak sedikit filosof
muslim yang berakhir menjadi sufi. Yang dengan bekal filsafat nya mampu menguak
nilai-nilai spiritual/ hakikat sebuah rahasia yang ada pada diri sang Wujud.
Menurut para Sufi/ Urafa’ bahwa wujud hanya memiliki satu objek di alam
eksternal. Wujud hanya dinisbahkan kepada Al-Haqq secara zati. Realitas hakikat objektif di alam
eksternal hanya wujud semata. Oleh karena itu jika wujud hanya satu maka
meniscayakan tidak akan ada pluralitas dalam wujud. Walaupun demikian, urafa
sama sekali tidak mengingkari adanya pluralitas. Urafa mengatakan bahwa selain
wujud Al-Haqq, yang lain hanya merupakan
manifestasi atau tajalli dari Al-Haqq. Dalam gradasi wujud dijelaskan
bahwa wujud yang paling puncak adalah wujud Al-Haqq dan selain Al-Haqq dipredikatkan padanya wujud pantulan.
Dalam filsafat hikmah muta’aliyah yang di cetuskan
Mulla Sadra dijelaskan bahwa wujud mengalami gradasi secara hakiki. Gradasi dalam hal ini terjadi dikarenakan adanya
perbedaan pada nama-nama Al-Haqq. Menurut
Abdurrahman
Jami bahwa tidak ada perbedaan dalam hakikat wujud akan tetapi perbedaan itu
pada manifestai-manifestasinya;
ما
في الوجود الّا عين واحدة هي عين الوجود الحقّ المطلق و حقيقته، و هو الموجود
المشهود، لا غير. و لكنّ هذه الحقيقة الواحدة و العين الأحدية لها مراتب ظهور لا
تتناهى أبدا في التعيّن و التشخّص
1. Wujud
Wujud
secara esensi (bi al-zat) adalah Al-Haqq dikarenakan Al-Haqq tidak terbatas dan bersifat
mutlak. Sifat ketidakterbatasan dan kemutlakan ini meniscayakan penafian akan
adanya wujud yang lain secara esensi. Persoalan wujud dalam kajian filsafat
pada puncaknya adalah periode Mulla sadra. Karena pada era ini, dia mampu
menjembatani kebuntuan yang di hadapi oleh dua bangunan besar yaitu filsafat
dan tasawuf (irfan).
Sebagaimana
di awal penulis sampaikan bahwa antara filsafat dan tasawuf berbeda dalam
memahami hakikat kebenaran (Tuhan). Karena metode dalam menggali berbeda satu
sama lain. Bagi para filosof Tuhan (Allah) adalah sumber asal (causa) sebab segala
sesuatu itu muncul dari-Nya. Dia lah penyebab yang pertama dan yang terakhir.
Sumber asal itu sendiri tidak tergantung dari
suatu apapun, sumber dari segala kesempurnaan. Kemudian muncul kajian
lain sebagai warna dalam belantika pemikiran yang dipercaya sebagai sumber dari
substansi materi, tasawuf.
Pada
awal-awal kemunculan tasawuf, bahasa yang digunakan sangat sederhana dan pada
umumnya pengalaman tasawuf
dituangkan dalam bentuk sastra. Tentunya hal ini sangat beralasan karena muatan irfan memang bersifat paradoks. Seperti kalimat berikut
ini zahir adalah batin dan batin
adalah zahir. Awal adalah akhir dan akhir adalah awal. Bukan engkau yang
melempar jika engkau melempar. Bagi sebagian Arif, pengalaman irfan ini paling
sesuai dibahasakan dan diterjemahkan dalam bentuk sastra. Hal ini dikarenakan
bahasa sastra menggunakan bahasa simbolik yang dapat menampung rahasia-rahasia
dibalik kata-kata yang digunakan.
Kemudia
muncullah seorang tokoh yang mampu menjelaskan pengalaman-pengalaman sufistik
kedalam bahasa filsafat yang sistematis dan ilmiah. Dialah Ibn ‘Arabî pada abad
ke-10 hijriyah yang memberikan warna lain dalam perkembangan Tasawuf. Bila
dahulu masa sebelumnya, irfan dirumuskan dalam bentuk sastra, kemudian
pada periode Ibn ‘Arabî, membahasakan pengalaman irfan dengan kerangka
filosofis dan terkadang meminjam istilah filsafat dalam membahasakan pengalaman
irfan. Kemunculan Ibn ‘Arabî selanjutnya memberikan pengaruh yang besar pada
priode-priode selanjutnya. Keberhasilan Ibn ‘Arabî ini melanggengkan
pemikirannya ditopang oleh keberhasilan Ibn ‘Arabî dalam mendidik
murid-muridnya. Qunawi adalah salah satu murid Ibn ‘Arabî yang berhasil
menguasai pemikiran Ibn ‘Arabî. Qunawi dianggap sebagai salah satu kunci
penting untuk memahami pemikiran Ibn ‘Arabî dan juga berhasil mendidik beberapa
penerus pemikirannya yang juga memberikan sumbangsih besar dalam menyebarkan
pemikiran Ibn ‘Arabî seperti Jandi, Farghani, Tilmisani, dan Fakhruddin ‘Iraqi.
Tantangan
besar dalam irfan dan tasawuf yaitu tantangan dari para Filsuf yang menganggap
irfan tidak dapat dirasionalkan atau berseberangan dengan logika. Ibn ‘Arabî
mencoba memberikan formulasi penting mengenai hal tersebut yang selanjutnya
memberikan ilham pemikiran kepada generasi ‘urafâ selanjutnya.
Salah satunya adalah karya monumental Ibn Turkah dalam bukunya Tamhidu al-Qawâid. Buku ini ditulis secara khusus hanya untuk menjawab pemikiran-pemikiran
filsafat paripatetik. Namun sebagian
filsuf belum menganggap Tamhid al-Qawâid ini berhasil menjawab kritikan
dari filsuf paripatetik. Pada umumnya argumentasi yang dibangun oleh sebagian
Arif ini terjebak di antara konsep dan mishdaq, khususnya dalam menjelaskan dan
membuktikan konsep Wahdah al-Wujûd.
2.
Gradasi Wujud
Prinsip gradasi wujud merupakan sebuah prinsip yang
menjelaskan hubungan antara ketunggalan (wahdah) dan pluralitas (katsrah)
wujud. Konsepsi tentang Wahdah al-Wujûd dalam pandangan Shadrâ sangat berkaitan
dengan prinsip ini yang menjelaskan hubungan antara ketunggalan dan pluralitas.
Jika hakikat realitas itu tunggal lalu mengapa
terdapat beragam konsep dalam
benak kita dan begitupun sebaliknya bahwa jika hakikat realitas itu plural lalu
mengapa terdapat sebuah konsep yang bermakna umum yang dipahami melalui seluruh
hakikat realitas tersebut.
a.
Premis pertama.
Kita
menyaksikan bahwa realitas eksternal terdiri dari beragam realitas eksistensi, dan hal
ini tidak membutuhkan dalil karena diketahui secara aksioma (badihi).
b.
Premis kedua
antara
satu wujud dengan wujud lainnya secara esensi tidak memiliki perbedaan secara
totalitas. Jika antara satu wujud dengan wujud lainnya terjadi perbedaan secara
esensi maka akan meniscayakan konsep wujud yang tunggal diabstraksi dari
beragam wujud tanpa adanya aspek kesamaan di antara beragam wujud tersebut, dan
sebagaimana diketahui tidak mungkin mengabstraksikan sebuah konsep yang tunggal
dari wujud-wujud yang beragam tanpa adanya aspek kesamaan di antaranya.
Kesimpulannya bahwa realitas eksternal memiliki hakikat yang satu.
Kita
menyaksikan bahwa di antara realitas eksternal tersebut ada yang wujudnya lebih
kuat seperti wujud sebab dan ada yang wujudnya lebih lemah seperti wujud
akibat. Ada yang wujudnya lebih dahulu seperti wujud akal dan ada yang wujudnya
lebih terakhir seperti wujud imajinal (mitsâlî) dan wujud materi.
Kesimpulan dari ketiga premis di atas yakni realitas eksternal memiliki hakikat
yang tunggal dan hakikat yang tunggal tersebut memiliki tingkatan yang
berbeda-beda atau bergradasi; ada wujud yang kuat dan ada wujud yang lemah, ada
wujud yang lebih dahulu dan ada wujud yang lebih akhir.
3. Kopula Kausal
(rabth ‘illî)
Bangunan sistem alam ini biasanya
dijelaskan dengan prinsip kausalitas dan begitu juga dengan fenomena-fenomena
materi. Prinsip kopula kausal
menjelaskan tentang bentuk relasi sebab dan akibat. Salah satu pertanyaan
penting dalam persoalan ini yaitu apa sebenarnya yang meniscayakan akibat
bergantung kepada sebab. Sebagian mutakallim (teolog) menjelaskan bahwa yang
meniscayakan akibat bergantung kepada sebabnya adalah sisi kebaruannya (huduts)
dan sebagian filsuf menjelaskan bahwa akibat bergantung kepada sebabnya karena
aspek mumkin (contingent) itu sendiri. Menurut Mullâ Shadrâ jika prinsip
fundamental wujud diterima maka kita tidak bisa lagi mengatakan bahwa yang
menjadi dasar kebergantungan akibat pada sebab adalah karena aspek mumkinnya
karena konteks mumkin di sini lebih sesuai dengan prinsip fundamental quiditas
(ishâlah al-mâhiyah). Oleh karena itu dasar kebergantungan akibat kepada
sebab dikarenakan aspek kefaqiran wujudnya atau dalam istilah Mullâ Shadrâ
disebut dengan mumkin faqri (imkân al- faqrî). Di sini Mullâ Shadrâ
menjelaskan gagasannya yang sangat khas bahwa akibat adalah kopula itu sendiri
kepada sebab (‘aîn al-rabth bi al-‘illah). Akibat bukanlah sesuatu
dimana didalam dirinya ada zat dan kemudian akibat disifatkan pada zat
tersebut, akan tetapi zat dirinya adalah akibat itu sendiri. Oleh karena itu
antara zatnya dan sifat akibat tidak bisa mungkin terpisahkan.
Wujud kopula tidak memiliki quiditas
karena sesuatu yang memiliki quiditas berarti sesuatu tersebut bersifat
independen sebab quiditas adalah jawaban terhadap pertanyaan tentang ke-apa-an
sesuatu. Sedangkan wujud kopula adalah wujud yang bergantung pada kedua sisi
yaitu subjek dan predikat sehingga dirinya tidak memiliki identitas independen
kecuali sebagai wujud penghubung itu sendiri. Wujud kopula yang ada di alam
mental mungkin mudah dipahami karena berfungsi dalam menjelaskan relasi antara
subjek dan predikat.
Dalam realitas eksternal terdapat
wujud yang secara sepintas sama dengan wujud kopula yang dimaksud yaitu wujud
aksiden. Wujud kopula dan wujud aksiden sama-sama bergantung pada sesuatu.
Sebagaimana wujud kopula bergantung pada subjek dan predikat, wujud aksiden
juga bergantung pada substansi. Mullâ
Shadrâ tidak hanya meyakini bahwa wujud kopula ada di alam realitas eksternal;
bahkan lebih dari itu, Mullâ Shadrâ meyakini bahwa segala sesuatu selain Tuhan
adalah wujud kopula dan mereka ada dengan keberadaan Tuhan. Berikut ini
argumentasi Mullâ Shadrâ dalam membuktikan hal tersebut:
a.
Premis pertama
Setelah meyakini bahwa yang menjadi
dasar di alam eksternal adalah wujud (ishâlah wujud) maka baik sebab
maupun akibat keduanya terjadi dalam hakikat realitas wujud.
b.
Premis kedua
Ke-akibat-an akibat adalah zat akibat
itu sendiri. Sebab jika tidak demikian berarti ke-akibat-an merupakan sesuatu
yang ditambahkan pada zat akibat dan hal ini akan meniscayakan akibat secara
esensi tidak butuh pada sebab, karena zat akibat terpisah dengan sifat akibat, padahal
akibat senantiasa bergantung pada sebab dan hal ini tidak akan terjadi kecuali
dalam zat, akibat adalah akibat itu sendiri.
c.
Premis ketiga
Hakikat sebab adalah suatu entitas yang
memberikan wujud. Suatu entitas disebut dengan sebab hakiki jika dirinya
memberikan wujud kepada akibat, oleh karena itu kebergantungan akibat kepada
sebab adalah kebergantungan eksistensial.
Oleh
karena itu, akibat
adalah kebergantungan dan kopula itu sendiri. Akibat bukan suatu zat yang
memiliki wujud (wujud fî nafsih) di mana
zat yang memiliki wujud tersebut bergantung pada yang lain. Oleh karena itu
ke-akibat-an dengan zat akibat tidak mungkin terpisahkan. Sebenarnya dalam realitas eksternal
hanya ada satu hakikat semata yaitu yang memberikan wujud dan juga yang
diwujudkan dan sekaligus wujud itu sendiri. Dalam kata lain hubungan
kausalitas, sebab sebagai pemberi wujud dan wujud akibat adalah dua pemahaman
yang diabstraksi melalui satu hakikat.
Kesimpulannya
hakikat yang sederhana memiliki seluruh hakikat dan kesempurnaan wujud-wujud
setelahnya dalam bentuknya yang paling sempurna dan tanpa rangkapan sama
sekali. Oleh karena itu, ‘segala sesuatu’ hakikatnya ada dalam hakikat yang
sederhana dan segala sesuatu merupakan pancaran dari hakikat yang sederhana.
Hakikat yang sederhana terpancar dalam segala sesuatu.
PENUTUP
Untuk memahami konsep Tuhan (Hakikat
Kebenaran) ternyata terdapat bangunan besar yang awalnya antara Filsafat dan
Tasawuf terdapat jurang yang tidak mungkin bersatu, karena keterbatasan
filsafat dalam memahami hal-hal yang masuk pada ranah metafisika. Tetapi ini
tidak berlaku ketika muncul seorang pemikir yang bernama Shadruddin ataau
sering di panggil Mullasadra. Beliau mampu menjembatani pemikiran-pemikiran Ibn
Arabi yang memang berangkat dari Tasawuf sehingga dengan sumbangsihnya dalam
menjelaskan eksistensi Tuhan maka tasawuf mampu di jelaskan secara filosofis.
Berangkat dari kedua jurang tersebut berikut sedikit pemetaan antara filsafat
dan tasawuf.
Perbedaan
Irfan / Tasawuf dengan Filsafat
Irfan
sebagaimana filsafat berusaha menjelaskan tiga hal utama ; Tuhan, Alam,
dan manusia. Akan tetapi masing-masing menjelaskan sesuai dengan pondasi
bangunan pemikirannya. Berikut ini beberapa perbedaan tersebut:
1.
Metode
Metode yang
digunakan dalam filsafat dalam menjelaskan hakekat yaitu melalui argumentasi.
Filsafat berangkat dalam menyelusuri hakekat melalui akalnya.
Sedangkan dalam irfan metode yang digunakan adalah kasyf dan syuhud
melalui qalbunya. Seluruh eksistensi dirinya berangkat menuju
Tuhan. Dalam filsafat dengan ilmu hushuli, sedangkan irfan dengan ilmu hudhuri.
2.
Objek Pembahasan
Objek pembahasan yang
dibahas dalam filsafat adalah eksistensi qua eksistensi ‘wujud bima hua wujud’
atau wujud sebagaimana wujud itu sendiri. Maksudnya bahwa dalam filsafat,
pluralitas eksistensi masih diakui walaupun wujud pada hakekatnya hanya satu
(annal wujud fi wahdatihi ‘ainul katsrah wal katsrah ‘ainul wahddah = bahwa
wujud dalam kesatuannya adalah pluralitas dan pluralitas adalah
kesatuannya itu sendiri). Sedangkan dalam irfan objek yang dibahas adalah
Al-Haqq dimana Al-Haqq adalah wujud itu sendiri dan wujud adalah Al-Haqq.
Irfan menafikan adanya pluralitas dalam wujud. Al-wujud hanya
dinisbahkan kepada Tuhan dan selain Tuhan adalah fatamorgana.
3.
Alam
Filsafat menjelaskan bahwa alam
ini adalah akibat dari Tuhan dimana Tuhan sebagai sebab sedangkan alam ini
sebagai akibatnya. Filsafat dalam menjelaskan hirarki alam eksistensi masih
menggunakan prinsip kausalitas dan dalam prinsip kausalitas ini meniscayakan
adanya pluralitas wujud, paling minimal ada dua wujud. Wujud sebab yakni Tuhan
dan wujud akibat yaitu selain Tuhan. Tapi dalam irfan hirarki alam semesta
dijelaskan dengan pendekatan asmaulhusna, bahwa
selain Tuhan hanyalah penampakan dari nama-namanya. Oleh karena itu dalam irfan
wujud tidak memiliki gradasi akan tetapi yang bergradasi adalah nama-nama
Tuhan. Dalam irfan segala persoalan diselesaikan dengan pendekatan asmaulhusna.
Dari
perbedaan hal diatas kita bisa menyaksikan adanya perbedaan pandangan dunia
yang cukup signifikan. Perbedaaan ini berasal dari perbedaan metodologi yang
kemudian mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap segala sesuatu.
DAFTAR BACAAN
ü Syam, Muhammad Noor. 1988. Filsafat
Kependidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional
ü Bertens, K. 1976. Ringkasan
Sejarah Filsafat. Jakarta: Yayasan Krisius
ü Sumantri Surya. 1994. Filsafat
Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
ü Jabir, Muhammad Nur, wahdatul wujud Ibn Arabi dan Filsafat Mulla
sadra, Sadra press
ü Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2012,
Cet 11.
ü Gazalba,
Sidi, Sistematika Filsafat Pengantar kepada Teori Pengetahuan, Bulan
Bintang, Jakarta, 1973.
ü Jalaluddin
dan Abdullah, Filsafat Pendidikan, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1997,
cet-1.
ü Salam,
Burhanuddin, Pengantar Filsafat, Bina Aksara, Jakarta, 1988.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar