Jumat, 29 Januari 2016

konsep kebenaran (filsafat ilmu)

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Mengawali sebuah pembahasan yang tidak bertepi, saya ingin membuat ilustrasi kepemilikan sebuah kamar. Kamar saudara berbeda dengan kamar yang saya miliki, bagaimana anda mengetahui bahwa kamar saya lebih baik dari pada kamar anda sementara anda tidak pernah mengunjungi kamar saya. Begitu juga sebaliknya, saya tidak bisa mengatakan bahwa kamar saya lebih baik jika saya belum pernah mengunjungi kamar anda. Maka cobalah kita saling berkunjung agar kita tau kekurangan dan kelebihan kamar masing-masing. Ruang lingkup hunian bukan sebatas ada kamar-kamar saja tetapi scope yang lebih besar ada rumah, lingkungan dan seterusnya. Berbicara tentang kebenaran pun demikian, karena wilayahnya tidak bertepi maka kekuatan dan barometer nya adalah sebuah bangunan argumentasi.
Terkadang pijakan sebuah kebenaran bagi sebagian agamawan tertentu terletak pada dalil-dalil yang terkandung di dalam kitab suci tetapi sebagian yang lain adalah bangunan rasional. Karena persoalan inilah maka muncul berbagai macam pandangan sehingga tidak sedikit berbagai pendapat tentang sebuah hakikat kebenaran. Kebenaran adalah sebuah nilai dalam kehidupan manusia sehingga keberadaan nya tidak dapat dipungkiri selalu menjadi tonggak perjalanan manusia di dalam mengawal kehidupan nya. Pada dasarnya, sifat alami manusia adalah mencintai kebenaran sehingga tatkala bertindakpun sesuai dengan nilai kebenaran namun dalam pelaksanaan nya terkadang manusia di hadapkan kepada nilai-nilai yang bertentangan dengan kebenaran.
Perjalanan manusia dalam menuju kepada sang hakikat kebenaran tidak semulus yang di bayangkan, onak dan duri serta jalan terjal dan panjang menjadi penghias perjalanan nya sehingga tidak sedikit manusia yang gagal, tersesat bahkan terlaknat. Inilah fungsi adanya seorang utusan dalam membawa risalah untuk di sampaikan kepada manusia sebagai petunjuk jalan menuju sang Hakikat kebenaran agar manusia selamat dari gangguan-gangguan dalam perjalanan nya sehingga sampai kepada sang Hakikat Kebenaran. Kebenaran dalam perspektif teologis tentu berbeda dengan perspektif filsafat karena bangunan yang ada di filsafat bersifat sistematis dan rasional. Tiga jenis kebenaran yang menjadi fokus pembahasan di dalam makalah ini adalah Tuhan dalam perspektif filsafat dan tasawuf.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan beberapa poin dari latar belakang diatas dapat diambil poin-poin yang menjadi topik  permasalahan
a.       Seperti apakah tingkatan-tingkatan kebenaran?
b.      Bagaimana teori kebenaran menurut filsafat?
c.       Apakah yang di maksud hakikat kebenaran?
C. TUJUAN PEMBAHASAN
Tujuan utama dari penulisan tugas makalah ini adalah untuk mengetahui :
a.       Mengetahui sebuah tingkatan dalam kebenaran.
b.      Mengkaji tentang teori-teori sebuah kebenaran dalam filsafat
c.       Untuk mengetahui siapa sesungguhnya hakikat kebenaran.

PEMBAHASAN
A.    TINGKATAN KEBENARAN.
1.      Kebenaran Indera
Tingkatan awal yang di alami oleh manusia. Indera bersifat tegas dan jelas karena bisa di pegang, di lihat dan di rasa. Mata kita melihat bintang kecil, pensil kalau di masukkan kedalam air maka akan bengkok, semua wajah jika kita raba maka akan sama jika mata kita tertutup.
2.      Kebenaran Akal.
Menurut Imam Ghazali di dalam kitab Al-Munqid Minaddholal bahwa kebenaran yang lebih tinggi tingkatan nya adalah kebenaran akal. Kebenaran empiris terkadang menipu. Tetapi rasional (akal) mampu membuktikan lebih benar dan lebih nyata. Bintang yang seolah kecil menurut mata kita ternyata lebih besar dari bumi menurut akal kita, pensil yang seolah bengkok ternyata tetap lurus menurut akal kita. Begitu juga dengan yang lain nya, indera kita terkadang menipu dari kebenaran yang sesungguhnya.
3.      Kebenaran Aksioma
Kebenaran aksioma adalah kebenaran yang bersifat umum, tidak perlu pembuktian karena bersifat badihiyyah haqiqotun muqorrorotun (kebenaran yang tidak perlu dibuktikan). Setengah lebih kecil dari pada satu, matahari terbit dari barat. Namun dalam perkembangan nya, ternyata ketidakmampuan dan keterbatasan nya ketika di hadapkan kepada hal-hal yang bersifat metafisika sehingga para pemikir meletakkan kebenaran aksioma masih bersifat relatif. Keberadaan kebenaran aksioma ini baik untuk menjelaskan hal-hal yang berkenaan dengan matematika, logika dan rasional tetapi tidak mampu pada ranah metafisika.
4.      Kebenaran Agama (Tasawwuf).
Untuk menemukan kebenaran agama juga masih membutuhkan tingkatan-tingkatan sebagaimana dibawah ini :
1.      Ilmu kalam (teologi).
Ilmu kalam atau biasa di sebut teologi didalam menemukan kebenaran selalu disandarkan kepada dalil. Dalil-dalil inilah yang menjadi argumentasi mereka didalam menentukan kebenaran sehingga dengan keterbatasan nya sering kita temukan adanya saling menyalahkan bahkan sampai pada tingkat kafir-mengkafirkan.
2.      Filsafat.
Filsafat mempunyai peran besar di dalam menopang kebenaran agama, keberadaan filosof-filosof muslim sangat membantu menjelaskan eksistensi Tuhan dalam perspektif Islam terutama mengahadapi kaum rasionalis dan liberalis barat yang menyerang Islam. Tetapi menurut Imam Ghazali ketika dalam proses pencarianya, filsafat ternyata tidak mampu memuaskan dirinya karena filsafat bersifat spekulatif yang isinya ngarang dan tentative.
3.      Tasawuf
Tasawuf adalah puncak dari kebenaran karena pada tingkat ini seseorang tidak lagi mencari kebenaran, tetapi bagaimana mengalami kebenaran. Mengalami kebenaran ini di dalam ilmu Tasawuf sering di sebut Kasy yang menurut Ibn Sina di sebut Tahaqquq. Seseorang tidak akan pernah tau manisnya teh jika hanya sebatas di jelaskan, karena bahasa tidak akan pernah mampu mennjelaskan lezatnya rasa teh. Yang menurut Syuhrawardi di sebut Hudhuri yaitu pengetahuan objek dan subyek menjadi satu.

B.     TEORI KEBENARAN DALAM FILSAFAT
Ada beberapa teori yang mendukung sebuah kebenaran dalam ilmu filsafat. Diantaranya
1.      Teori korespondensi
            Teori ini mengatakan bahwa sebuah kebenaran adalah kesesuaian antara apa yang di ucapkan dengan kenyataan yang terjadi. Menurut Aristoteles bahwa kebenaran adalah persesuaian antara apa yang dikatakan dengan kenyataan. Jadi suatu pernyataan dianggap benar jika apa yang dinyatakan memiliki keterkaitan (correspondence) dengan kenyataan yang diungkapkan dalam pernyataan itu. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya. Atau dapat pula dikatakan bahwa kebenaran terletak pada kesesuaian antara subjek dan objek, yaitu apa yang diketahui subjek dan realitas sebagaimana adanya. Kebenaran sebagai persesuaian juga disebut sebagai kebenaran empiris, karena kebenaran suatu pernyataan proposisi, atau teori, ditentukan oleh apakah pernyataan, proposisi atau teori didukung fakta atau tidak.
2.      Teori konsistensi
            Mencari dan mempertahankan kebenaran menuntut adanya konsistensi sikap, baik dalam upaya terus menerus mencari kebenaran maupun membangun argumen-argumen pengetahuan. Tanpa sikap konsisten dalam membangun argumentasi maka akan memperlihatkan adanya sikap yang tidak ilmiah bahkan tidak kritis. Penganut teori ini Spinoza, Descartes, Heggel dan masih banyak lagi nama besar yang mendukung teori ini. Tidak ada ilmu yang bisa menghancurkan dirinya sendiri kecuali filsafat, karena proses menghancurkan diri sendiri juga  bagian dari berfilsafat. Ini adalah contoh teori yang tidak konsisten dengan apa yang terjadi sebelumnya.
3.      Teori Pragmatis.
            Diantara penganut teori pragmatis ini adalah  Charles Sanders Pierce dan William James. Bagi kaum pragmatis, kebenaran sama artinya dengan kegunaan. Jadi sebuah ide, konsep, pernyataan, atau hipotesis yang benar adalah ide yang berguna. Ide yang benar adalah ide yang paling mampu memungkinkan seseorang (berdasarkan ide itu) melakukan sesuatu secara paling berhasil dan tepat guna. Dengan kata lain, berhasil dan berguna adalah kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide benar atau tidak. Contohnya, ide bahwa kemacetan di jalan-jalan besar di Jakarta disebabkan terlalu banyak kendaraan pribadi yang ditumpangi satu orang. Maka, konsep solusinya, “wajibkan kendaraan pribadi ditumpangi minimal oleh tiga penumpang”. Ide tersebut benar jika ide itu berguna atau berhasil memecahkan persoalan kemacetan.
            Menurut penganut pragmatis bahwa suatu ide yang benar adalah ide yang memungkinkan kita berhasil memperbaiki atau menciptakan sesuatu. Dalam hal ini, kaum pragmatis sesungguhnya tidak menolak teori kebenaran dari kaum rasionalis maupun teori kebenaran kaum empiris. Hanya saja, bagi mereka suatu kebenaran apriori hanya benar bila kalau kebenaran itu berguna dalam penerapannya yang memunginkan manusia bertindak secara efektif. Demikian pula, tolok ukur kebenaran suatu ide bukanlah realitas statis, melainkan realitas tindakan. Benar tidaknya suatu dalil atau teori tergantung kepada berfaedah tidaknya dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk kehidupannya. Kebenaran suatu pernyataan harus bersifat fungsional dalam kehidupan praktis.


C.     HAKIKAT KEBENARAN
                  Sebagaimana kita ketahui bahwa pembahasan di dunia tidak terlepas dari 3 hal, Alam, Manusia dan Tuhan. Jika manusia berada di dalam komponen alam maka pembahasan tersebut menjadi alam dan Tuhan. Karena alam adalah bagian dari wujud Tuhan maka semua tidak terlepas dari jangkauan Tuhan. Ketika kita berbicara tentang sang Hakikat kebenaran maka dalam bayangan kita yang muncul adalah redaksi Tuhan. Tuhan yang dalam bahasa filsafat selalu di sandarkan kepada kata Wujud. Di dalam perkembangan nya, kajian-kajian wujud telah banyak di kaji oleh para filosof muslim bahkan tidak sedikit filosof muslim yang berakhir menjadi sufi. Yang dengan bekal filsafat nya mampu menguak nilai-nilai spiritual/ hakikat sebuah rahasia yang ada pada diri sang Wujud. Menurut para Sufi/ Urafa’ bahwa wujud hanya memiliki satu objek di alam eksternal. Wujud hanya dinisbahkan kepada Al-Haqq secara zati. Realitas hakikat objektif di alam eksternal hanya wujud semata. Oleh karena itu jika wujud hanya satu maka meniscayakan tidak akan ada pluralitas dalam wujud. Walaupun demikian, urafa sama sekali tidak mengingkari adanya pluralitas. Urafa mengatakan bahwa selain wujud Al-Haqq, yang lain hanya merupakan manifestasi atau tajalli dari Al-Haqq. Dalam gradasi wujud dijelaskan bahwa wujud yang paling puncak adalah wujud Al-Haqq dan selain Al-Haqq dipredikatkan padanya wujud pantulan.
                  Dalam filsafat hikmah muta’aliyah yang di cetuskan Mulla Sadra dijelaskan bahwa wujud mengalami gradasi secara hakiki. Gradasi dalam hal ini terjadi dikarenakan adanya perbedaan pada nama-nama Al-Haqq.  Menurut Abdurrahman Jami bahwa tidak ada perbedaan dalam hakikat wujud akan tetapi perbedaan itu pada manifestai-manifestasinya;
ما في الوجود الّا عين واحدة هي عين الوجود الحقّ المطلق و حقيقته، و هو الموجود المشهود، لا غير. و لكنّ هذه الحقيقة الواحدة و العين الأحدية لها مراتب ظهور لا تتناهى أبدا في التعيّن و التشخّص

1.      Wujud
                        Wujud secara esensi (bi al-zat) adalah Al-Haqq dikarenakan Al-Haqq tidak terbatas dan bersifat mutlak. Sifat ketidakterbatasan dan kemutlakan ini meniscayakan penafian akan adanya wujud yang lain secara esensi. Persoalan wujud dalam kajian filsafat pada puncaknya adalah periode Mulla sadra. Karena pada era ini, dia mampu menjembatani kebuntuan yang di hadapi oleh dua bangunan besar yaitu filsafat dan tasawuf (irfan).
                        Sebagaimana di awal penulis sampaikan bahwa antara filsafat dan tasawuf berbeda dalam memahami hakikat kebenaran (Tuhan). Karena metode dalam menggali berbeda satu sama lain. Bagi para filosof Tuhan (Allah) adalah sumber asal (causa) sebab segala sesuatu itu muncul dari-Nya. Dia lah penyebab yang pertama dan yang terakhir. Sumber asal itu sendiri tidak tergantung dari suatu apapun, sumber dari segala kesempurnaan. Kemudian muncul kajian lain sebagai warna dalam belantika pemikiran yang dipercaya sebagai sumber dari substansi materi, tasawuf.
                        Pada awal-awal kemunculan tasawuf, bahasa yang digunakan sangat sederhana dan pada umumnya pengalaman tasawuf dituangkan dalam bentuk sastra. Tentunya hal ini sangat beralasan karena muatan irfan memang bersifat paradoks. Seperti kalimat berikut ini  zahir adalah batin dan batin adalah zahir. Awal adalah akhir dan akhir adalah awal. Bukan engkau yang melempar jika engkau melempar. Bagi sebagian Arif, pengalaman irfan ini paling sesuai dibahasakan dan diterjemahkan dalam bentuk sastra. Hal ini dikarenakan bahasa sastra menggunakan bahasa simbolik yang dapat menampung rahasia-rahasia dibalik kata-kata yang digunakan.
                        Kemudia muncullah seorang tokoh yang mampu menjelaskan pengalaman-pengalaman sufistik kedalam bahasa filsafat yang sistematis dan ilmiah. Dialah Ibn ‘Arabî pada abad ke-10 hijriyah yang memberikan warna lain dalam perkembangan Tasawuf. Bila dahulu masa sebelumnya, irfan dirumuskan dalam bentuk sastra, kemudian  pada periode Ibn ‘Arabî, membahasakan pengalaman irfan dengan kerangka filosofis dan terkadang meminjam istilah filsafat dalam membahasakan pengalaman irfan. Kemunculan Ibn ‘Arabî selanjutnya memberikan pengaruh yang besar pada priode-priode selanjutnya. Keberhasilan Ibn ‘Arabî ini melanggengkan pemikirannya ditopang oleh keberhasilan Ibn ‘Arabî dalam mendidik murid-muridnya. Qunawi adalah salah satu murid Ibn ‘Arabî yang berhasil menguasai pemikiran Ibn ‘Arabî. Qunawi dianggap sebagai salah satu kunci penting untuk memahami pemikiran Ibn ‘Arabî dan juga berhasil mendidik beberapa penerus pemikirannya yang juga memberikan sumbangsih besar dalam menyebarkan pemikiran Ibn ‘Arabî seperti Jandi, Farghani, Tilmisani, dan Fakhruddin ‘Iraqi.
                        Tantangan besar dalam irfan dan tasawuf yaitu tantangan dari para Filsuf yang menganggap irfan tidak dapat dirasionalkan atau berseberangan dengan logika. Ibn ‘Arabî mencoba memberikan formulasi penting mengenai hal tersebut yang selanjutnya memberikan ilham pemikiran kepada generasi urafâ selanjutnya. Salah satunya adalah karya monumental Ibn Turkah dalam bukunya Tamhidu al-QawâidBuku ini ditulis secara khusus hanya untuk menjawab pemikiran-pemikiran filsafat paripatetik. Namun sebagian filsuf belum menganggap Tamhid al-Qawâid ini berhasil menjawab kritikan dari filsuf paripatetik. Pada umumnya argumentasi yang dibangun oleh sebagian Arif ini terjebak di antara konsep dan mishdaq, khususnya dalam menjelaskan dan membuktikan konsep Wahdah al-Wujûd.

2.      Gradasi Wujud
       Prinsip gradasi wujud merupakan sebuah prinsip yang menjelaskan hubungan antara ketunggalan (wahdah) dan pluralitas (katsrah) wujud. Konsepsi tentang Wahdah al-Wujûd dalam pandangan Shadrâ sangat berkaitan dengan prinsip ini yang menjelaskan hubungan antara ketunggalan dan pluralitas.
       Jika hakikat realitas itu tunggal lalu mengapa terdapat beragam konsep dalam benak kita dan begitupun sebaliknya bahwa jika hakikat realitas itu plural lalu mengapa terdapat sebuah konsep yang bermakna umum yang dipahami melalui seluruh hakikat realitas tersebut.
a.              Premis pertama.
        Kita menyaksikan bahwa realitas eksternal terdiri dari beragam realitas eksistensi, dan hal ini tidak membutuhkan dalil karena diketahui secara aksioma (badihi).
b.              Premis kedua
        antara satu wujud dengan wujud lainnya secara esensi tidak memiliki perbedaan secara totalitas. Jika antara satu wujud dengan wujud lainnya terjadi perbedaan secara esensi maka akan meniscayakan konsep wujud yang tunggal diabstraksi dari beragam wujud tanpa adanya aspek kesamaan di antara beragam wujud tersebut, dan sebagaimana diketahui tidak mungkin mengabstraksikan sebuah konsep yang tunggal dari wujud-wujud yang beragam tanpa adanya aspek kesamaan di antaranya. Kesimpulannya bahwa realitas eksternal memiliki hakikat yang satu.
        Kita menyaksikan bahwa di antara realitas eksternal tersebut ada yang wujudnya lebih kuat seperti wujud sebab dan ada yang wujudnya lebih lemah seperti wujud akibat. Ada yang wujudnya lebih dahulu seperti wujud akal dan ada yang wujudnya lebih terakhir seperti wujud imajinal (mitsâlî) dan wujud materi. Kesimpulan dari ketiga premis di atas yakni realitas eksternal memiliki hakikat yang tunggal dan hakikat yang tunggal tersebut memiliki tingkatan yang berbeda-beda atau bergradasi; ada wujud yang kuat dan ada wujud yang lemah, ada wujud yang lebih dahulu dan ada wujud yang lebih akhir.
3.      Kopula Kausal (rabth ‘illî)
            Bangunan sistem alam ini biasanya dijelaskan dengan prinsip kausalitas dan begitu juga dengan fenomena-fenomena materi. Prinsip kopula kausal menjelaskan tentang  bentuk relasi sebab dan akibat. Salah satu pertanyaan penting dalam persoalan ini yaitu apa sebenarnya yang meniscayakan akibat bergantung kepada sebab. Sebagian mutakallim (teolog) menjelaskan bahwa yang meniscayakan akibat bergantung kepada sebabnya adalah sisi kebaruannya (huduts) dan sebagian filsuf menjelaskan bahwa akibat bergantung kepada sebabnya karena aspek mumkin (contingent) itu sendiri. Menurut Mullâ Shadrâ jika prinsip fundamental wujud diterima maka kita tidak bisa lagi mengatakan bahwa yang menjadi dasar kebergantungan akibat pada sebab adalah karena aspek mumkinnya karena konteks mumkin di sini lebih sesuai dengan prinsip fundamental quiditas (ishâlah al-mâhiyah). Oleh karena itu dasar kebergantungan akibat kepada sebab dikarenakan aspek kefaqiran wujudnya atau dalam istilah Mullâ Shadrâ disebut dengan mumkin faqri (imkân al- faqrî). Di sini Mullâ Shadrâ menjelaskan gagasannya yang sangat khas bahwa akibat adalah kopula itu sendiri kepada sebab (‘aîn al-rabth bi al-‘illah). Akibat bukanlah sesuatu dimana didalam dirinya ada zat dan kemudian akibat disifatkan pada zat tersebut, akan tetapi zat dirinya adalah akibat itu sendiri. Oleh karena itu antara zatnya dan sifat akibat tidak bisa mungkin terpisahkan.
            Wujud kopula tidak memiliki quiditas karena sesuatu yang memiliki quiditas berarti sesuatu tersebut bersifat independen sebab quiditas adalah jawaban terhadap pertanyaan tentang ke-apa-an sesuatu. Sedangkan wujud kopula adalah wujud yang bergantung pada kedua sisi yaitu subjek dan predikat sehingga dirinya tidak memiliki identitas independen kecuali sebagai wujud penghubung itu sendiri. Wujud kopula yang ada di alam mental mungkin mudah dipahami karena berfungsi dalam menjelaskan relasi antara subjek dan predikat.
            Dalam realitas eksternal terdapat wujud yang secara sepintas sama dengan wujud kopula yang dimaksud yaitu wujud aksiden. Wujud kopula dan wujud aksiden sama-sama bergantung pada sesuatu. Sebagaimana wujud kopula bergantung pada subjek dan predikat, wujud aksiden juga bergantung pada substansi. Mullâ Shadrâ tidak hanya meyakini bahwa wujud kopula ada di alam realitas eksternal; bahkan lebih dari itu, Mullâ Shadrâ meyakini bahwa segala sesuatu selain Tuhan adalah wujud kopula dan mereka ada dengan keberadaan Tuhan. Berikut ini argumentasi Mullâ Shadrâ dalam membuktikan hal tersebut:
a.              Premis pertama
Setelah meyakini bahwa yang menjadi dasar di alam eksternal adalah wujud (ishâlah wujud) maka baik sebab maupun akibat keduanya terjadi dalam hakikat realitas wujud.
b.              Premis kedua
Ke-akibat-an akibat adalah zat akibat itu sendiri. Sebab jika tidak demikian berarti ke-akibat-an merupakan sesuatu yang ditambahkan pada zat akibat dan hal ini akan meniscayakan akibat secara esensi tidak butuh pada sebab, karena zat akibat terpisah dengan sifat akibat, padahal akibat senantiasa bergantung pada sebab dan hal ini tidak akan terjadi kecuali dalam zat, akibat adalah akibat itu sendiri.
c.              Premis ketiga
Hakikat sebab adalah suatu entitas yang memberikan wujud. Suatu entitas disebut dengan sebab hakiki jika dirinya memberikan wujud kepada akibat, oleh karena itu kebergantungan akibat kepada sebab adalah kebergantungan eksistensial. 
        Oleh karena itu, akibat adalah kebergantungan dan kopula itu sendiri. Akibat bukan suatu zat yang memiliki wujud (wujud fî nafsih) di mana zat yang memiliki wujud tersebut bergantung pada yang lain. Oleh karena itu ke-akibat-an dengan zat akibat tidak mungkin terpisahkan. Sebenarnya dalam realitas eksternal hanya ada satu hakikat semata yaitu yang memberikan wujud dan juga yang diwujudkan dan sekaligus wujud itu sendiri. Dalam kata lain hubungan kausalitas, sebab sebagai pemberi wujud dan wujud akibat adalah dua pemahaman yang diabstraksi melalui satu hakikat.
        Kesimpulannya hakikat yang sederhana memiliki seluruh hakikat dan kesempurnaan wujud-wujud setelahnya dalam bentuknya yang paling sempurna dan tanpa rangkapan sama sekali. Oleh karena itu, ‘segala sesuatu’ hakikatnya ada dalam hakikat yang sederhana dan segala sesuatu merupakan pancaran dari hakikat yang sederhana. Hakikat yang sederhana terpancar dalam segala sesuatu. 



PENUTUP
           Untuk memahami konsep Tuhan (Hakikat Kebenaran) ternyata terdapat bangunan besar yang awalnya antara Filsafat dan Tasawuf terdapat jurang yang tidak mungkin bersatu, karena keterbatasan filsafat dalam memahami hal-hal yang masuk pada ranah metafisika. Tetapi ini tidak berlaku ketika muncul seorang pemikir yang bernama Shadruddin ataau sering di panggil Mullasadra. Beliau mampu menjembatani pemikiran-pemikiran Ibn Arabi yang memang berangkat dari Tasawuf sehingga dengan sumbangsihnya dalam menjelaskan eksistensi Tuhan maka tasawuf mampu di jelaskan secara filosofis. Berangkat dari kedua jurang tersebut berikut sedikit pemetaan antara filsafat dan tasawuf.
Perbedaan Irfan / Tasawuf dengan Filsafat
Irfan sebagaimana filsafat berusaha  menjelaskan tiga hal utama ; Tuhan, Alam, dan manusia. Akan tetapi masing-masing menjelaskan sesuai dengan pondasi bangunan pemikirannya. Berikut ini beberapa perbedaan tersebut:
1.      Metode
Metode yang digunakan dalam filsafat dalam menjelaskan hakekat yaitu melalui argumentasi. Filsafat  berangkat dalam menyelusuri hakekat melalui akalnya. Sedangkan dalam irfan metode yang digunakan adalah kasyf dan syuhud melalui qalbunya. Seluruh eksistensi dirinya berangkat menuju Tuhan. Dalam filsafat dengan ilmu hushuli, sedangkan irfan dengan ilmu hudhuri.
2.      Objek Pembahasan
          Objek pembahasan yang dibahas dalam filsafat adalah eksistensi qua eksistensi ‘wujud bima hua wujud’ atau wujud sebagaimana wujud itu sendiri. Maksudnya bahwa dalam filsafat, pluralitas eksistensi masih diakui walaupun wujud pada hakekatnya hanya satu (annal wujud fi wahdatihi ‘ainul katsrah wal katsrah ‘ainul wahddah = bahwa wujud dalam kesatuannya adalah pluralitas  dan pluralitas adalah kesatuannya itu sendiri). Sedangkan dalam irfan objek yang dibahas adalah Al-Haqq dimana Al-Haqq adalah wujud itu sendiri dan wujud adalah Al-Haqq. Irfan  menafikan adanya pluralitas dalam wujud. Al-wujud hanya dinisbahkan kepada Tuhan dan selain Tuhan adalah fatamorgana.
3.      Alam
     Filsafat menjelaskan bahwa alam ini adalah akibat dari Tuhan dimana Tuhan sebagai sebab sedangkan alam ini sebagai akibatnya. Filsafat dalam menjelaskan hirarki alam eksistensi masih menggunakan prinsip kausalitas dan dalam prinsip kausalitas ini meniscayakan adanya pluralitas wujud, paling minimal ada dua wujud. Wujud sebab yakni Tuhan dan wujud akibat yaitu selain Tuhan. Tapi dalam irfan hirarki alam semesta dijelaskan dengan pendekatan asmaulhusna, bahwa selain Tuhan hanyalah penampakan dari nama-namanya. Oleh karena itu dalam irfan wujud tidak memiliki gradasi akan tetapi yang bergradasi adalah nama-nama Tuhan. Dalam irfan segala persoalan diselesaikan dengan pendekatan asmaulhusna.

Dari perbedaan hal diatas kita bisa menyaksikan adanya perbedaan pandangan dunia yang cukup signifikan. Perbedaaan ini berasal dari perbedaan metodologi yang kemudian mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap segala sesuatu.





DAFTAR BACAAN
ü  Syam, Muhammad Noor. 1988. Filsafat Kependidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional
ü  Bertens, K. 1976. Ringkasan Sejarah Filsafat. Jakarta: Yayasan Krisius
ü  Sumantri Surya. 1994. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
ü  Jabir, Muhammad Nur, wahdatul wujud Ibn Arabi dan Filsafat Mulla sadra, Sadra press
ü  Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2012, Cet 11.
ü  Gazalba, Sidi, Sistematika Filsafat Pengantar kepada Teori Pengetahuan, Bulan Bintang, Jakarta, 1973.
ü  Jalaluddin dan Abdullah, Filsafat Pendidikan, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1997, cet-1.
ü  Salam, Burhanuddin, Pengantar Filsafat, Bina Aksara, Jakarta, 1988.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar