Jumat, 29 Januari 2016

Jalanku, Jalanmu, Jalan kita di abad Modern

Jalanku, Jalanmu, Jalan kita di abad Modern
Mas Punk
Disaat manusia semakin terpuruk dari sisi spiritual seperti sekarang ini, dibutuhkan sebuah makanan ruhani yang mampu mengenyangkan kegersangan yang semakin parah melanda jiwa. Berbagai metode dan doktrin menawarkan konsep untuk mengatasi sebuah permasalahan di era modern seperti saat ini, namun belum mampu memuaskan para manusia yang sedang dilanda penyakit ini. Dari sisi sudut pandang agama ternyata dibutuhkan aspek esoteris dan eksoteris sebagai sebuah kesempurnaan hidup dan kebahagiaan, baik kebahagiaan dunia maupun kebahagiaan yang bersifat hakiki yaitu kebahagiaan akhirat. Dunia dan akhirat secara substansial memang dua hal yang saling bertolak belakang, ibarat dua arah yang saling berlawanan. Jika anda pergi ke barat tentu anda akan menjauh ke timur, begitupun sebaliknya. Jika anda lebih berpihak kepada dunia maka baik secara langsung maupun tidak langsung akhirat akan di kesampingkan dan begitupun sebaliknya. Akan tetapi hukum tersebut tudak berlaku bagi orang-orang khusus yang telah mendapat predikat “khawash”
Dari sebuah konsep yang agama tawarkan, muncul banyak pendapat baik yang bersumber dari opini pribadi maupun dari Al-Qur’an dan Hadits. Diriwayatkan oleh At-Turmidzi dari Abu Umamah bahwa Rasulullah menceritakan pengalamannya bertemu dengan malaikat Jibril. Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah saw, “Wahai Muhammad, Sesungguhnya Allah SWT menyampaikan salam kepadamu. Dia berfirman : apakah engkau menginginkan jika Aku menjadikan gunung sebagai emas dan selalu bersamamu?’ Rasulullah menjawab,sesungguhnya dunia hanyalah kampung bagi orang yang tidak memiliki harta dan harta hanya dikumpulkan bagi orang-orang yang tidak mempunyai akal Jibril a.s berkata, “Wahai Muhammad, semoga Allah meneguhkan engkau dengan kalimat yang teguh (hikmah).
Hidup yang menekan kesenangan dunia (Zuhud) dalam konsep Islam banyak disalah artikan makna dan tujuanya sehingga penggambaran tentang konsep Zuhud banyak diselewengkan bagi sebagian praktisi tertentu, ini tentu harus diluruskan makna dan keotentikan dari definisi Zuhud tersebut. makna Zuhud menurut al-Ghunnimi al-Taftazani adalah pemahaman yang membuat para penganutnya mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi, dimana mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan kalbu mereka, serta tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya. Sedangkan menurut Imam Ghazali Zuhud adalah membenci dunia demi mencintai akherat. Zuhud bisa juga berarti membenci selain Allah demi mencintai Allah. Dikisahkan juga bahwa diantara para Nabi, karena tidak terhitungnya harta dan kekayaan Nabi Sulaiman menjadikan dirinya nabi paling akhir masuk surga. Disisi yang lain, kita juga tidak boleh mengesampingkan urusan-urusan dunia sebagaimana hadits nabi :
 “Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut di antaramu kepada Allah, dan orang yang paling takwa di antaramu kepadaNya. Tetapi aku berpuasa dan berbuka; aku shalat (malam) dan tidur; dan aku menikahi wanita-wanita. Barangsiapa membenci sunnahku (ajaranku), dia bukan dariku”.
Bahkan beliau membagi Zuhud menjadi tiga tingkatan, tingkatan pertama untuk pemula. Dia berusaha hidup Zuhud ( Mutazahid) namun nafsu dan kecenderunganya tetap besar karena tarik menarik antara keduanya sulit terhindarkan. Selalu latihan mengendalikan segala bentuk keinginan adalah solusi terbaik untuk tingkatan ini. Tingkatan kedua adalah sadar bahwa dunia hanyalah fatamorgana, keberadaanya hanyalah sebuah ilusi, menghibur dan tidak abadi. Orang pada tingkatan ini sudah mampu mengetahui hakikat hidup Zuhud, sehingga harta baginya hanyalah sebuah media untuk menghantarkan seseorang untuk mendapat kebaikan. Zuhud yang ketiga inilah sebenar-benarnya Zuhud. Imam Ghazali menggunakan istilah Zuhud dalam Zuhud. Bagi orang-orang yang sudah mencapai tingkatan (maqom) ini, dunia adalah sesuatu yang tidak berharga sehingga sejatinya manusia hidup di dunia adalah proses perjalanan kehidupan yang akan berakhir pada titik final yaitu akherat. Imam ghazali didalam bukunya mengatakan bahwa buah Zuhud adalah Itsar, yaitu tahap paling tinggi dalam kedermawanan (Sakha’), yaitu suatu upaya mengeluarkan kelebihan sesuatu yang tidak dibutuhkanya sebagai tanda adab yang baik (samhan) bukan untuk tujuan yang dilandasi pamrih (takallufan). Itsar sendiri adalah mengeluarkan sesuatu, meskipun itu dibutuhkanya, namun kecintaan kepada Allah lah menjadikan si hamba memilih jalanNya. Lantas dimana keberadaan dunia? Baginya dunia seperti seekor anjing yang berdiri didepan pintu, semakin kita kejar dunia tersebut maka anjing tersebut semakin menunjukkan kebuasanya sehingga semakin menyulitkan kita untuk memasuki pintu tersebut sebagai tujuan kita. Sebagaimana firman Allah dalam surat asy-Syura’ ayat 20 “Sesiapa yang menghendaki (dengan amal usahanya) mendapat faedah di akhirat, Kami akan memberinya mendapat tambahan pada faedah yang dikehendakinya dan sesiapa yang menghendaki (dengan amal usahanya) kebaikan di dunia semata-mata, Kami beri kepadanya dari kebaikan dunia itu (sekadar yang Kami tentukan), dan ia tidak akan beroleh sesuatu bagianpun di akhirat kelak (asy-Syura, 20).
Yang menarik dari aktualisasi Zuhud adalah bahwa Zuhud tidak hanya menghindarkan diri dari sesuatu yang diharamkan tetapi sesuatu yang dihalalkan juga menjadi perhatian bagi hamba-hamba yang sudah mendapat julukan Abdal (kepribadian spiritual yang tinggi tingkatanya), sebagai ilustrasi ada seorang pembuat kue yang dengan sengaja memberi racun saat dia membuat adonan kue. Sebagian manusia menyadari bahwa kue tersebut terdapat racun tetapi kebanyakan tidak menyadarinya, bagi yang mengetahui bahwa didalam kue tersebut terdapat racun maka dia akan bersifat Zuhud terhadap kue tersebut dan begitu sebaliknya.
Zuhud di era modern tentu dalam pelaksanaanya akan sangat berbeda penekananya jika dibanding seribu tahun lalu, karena tantangan zaman, peradaban yang selalu berubah maka sudah menjadi Sunnatullah bahwa zahid (pelaku zuhud)  harus pandai menimbang dan menakar kenikmatan-kenikmatan dunia dalam takaran keimananya. Karena bagi pelaku Zuhud, antara zahid satu dengan para zahid lainya akan sangat berbeda berat, ukuran dan kedalaman ujian yang Allah berikan kepadanya. Bisa jadi sebuah kemewahan yang Allah  berikan kepadanya justru menjadi media dakwah didalam mengenalkan agama Allah, sehingga makna Zuhud tidak selalu identik dengan kemiskinan dan kealpaan. Lebih dari itu, makna Zuhud lebih kepada sebuah tindakan yang mampu menahan segala keinginan yang tidak banyak membawa manfaat baik untuk dirinya maupun untuk agama Allah.
Seseorang yang mampu merasakan nikmatnya hidup zuhud biasanya mempunyai ciri-ciri tertentu, salah satu contoh adalah dia tidak merasa gembira terhadap sesuatu yang ada di depannya (harta dan sebagainya) dan tidak akan sedih jika sesuatu itu diambil oleh Allah, tidak risau jika dicela dan tidak berbangga hati jika dipuji. Semuanya pujian hanya milik Allah, makhluk tidak sedikitpun mempunyai hak untuk dipuji, merasa sangat cinta kepada Allah dan perasaan itu membuat ketaatannya menjadi sangat kuat. Sehingga segala perbuatan hanya disandarkan kepada Allah semata. Semoga kita semua Allah jadikan termasuk orang-orang yang mampu mengendalikan segala bentuk hawa nafsu yang mampu menyesatkan manusia dari jalan kebenaran Tuhan.

 Referensi
ü  Abu al-Wafar al-Ghunnimi al-Taftazani, 1985 : 54
ü  Abu Fajar al-Qalami, Ringkasan IHYA’ ULUMUDDIN (imam al-Ghazali) Surabaya : Gitamedia Press, 2003) hal 343.
ü  HR Bukhari, no. 5063; Muslim, no. 1401
ü  Imam Ghazali, Raudhah ath-Thalibin wa Umdah as-Salikin (Raudhah : Taman jiwa Kaum Sufi), 2005. Hal. 208

ü  Imam Ghazali, Minhajul Abidin, Jalan para ahli ibadah, khatulistiwa press, Hal. 64, 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar