Jalanku, Jalanmu, Jalan kita di abad Modern
Mas Punk
Disaat manusia
semakin terpuruk dari sisi spiritual seperti sekarang ini, dibutuhkan sebuah
makanan ruhani yang mampu mengenyangkan kegersangan yang semakin parah melanda
jiwa. Berbagai metode dan doktrin menawarkan konsep untuk mengatasi sebuah
permasalahan di era modern seperti saat ini, namun belum mampu memuaskan para manusia yang sedang dilanda
penyakit ini. Dari sisi sudut pandang agama ternyata
dibutuhkan aspek esoteris dan eksoteris sebagai sebuah kesempurnaan hidup dan kebahagiaan, baik
kebahagiaan dunia maupun kebahagiaan yang bersifat hakiki yaitu kebahagiaan
akhirat. Dunia dan akhirat secara substansial memang dua hal yang saling
bertolak belakang, ibarat dua arah yang saling berlawanan. Jika anda pergi ke
barat tentu anda akan menjauh ke timur, begitupun sebaliknya. Jika anda lebih
berpihak kepada dunia maka baik secara langsung maupun tidak langsung akhirat
akan di kesampingkan dan begitupun sebaliknya. Akan tetapi hukum tersebut tudak
berlaku bagi orang-orang khusus yang telah mendapat predikat “khawash”
Dari sebuah konsep yang agama tawarkan,
muncul banyak pendapat baik yang bersumber dari opini pribadi maupun dari
Al-Qur’an dan Hadits. Diriwayatkan oleh At-Turmidzi dari Abu Umamah bahwa
Rasulullah menceritakan pengalamannya bertemu dengan malaikat Jibril. Malaikat
Jibril berkata kepada Rasulullah saw, “Wahai Muhammad, Sesungguhnya Allah SWT
menyampaikan salam kepadamu. Dia berfirman : apakah engkau menginginkan jika
Aku menjadikan gunung sebagai emas dan selalu bersamamu?’ Rasulullah menjawab, “sesungguhnya dunia
hanyalah kampung bagi orang yang tidak memiliki harta dan harta hanya
dikumpulkan bagi orang-orang yang tidak mempunyai akal” Jibril a.s berkata, “Wahai
Muhammad, semoga Allah meneguhkan engkau dengan kalimat yang teguh (hikmah).
Hidup yang menekan kesenangan
dunia (Zuhud) dalam
konsep Islam banyak disalah artikan makna dan tujuanya sehingga penggambaran
tentang konsep Zuhud banyak diselewengkan bagi sebagian praktisi tertentu, ini
tentu harus diluruskan makna dan keotentikan dari definisi Zuhud tersebut.
makna Zuhud menurut al-Ghunnimi al-Taftazani adalah pemahaman yang membuat para
penganutnya mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi, dimana
mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak
menguasai kecenderungan kalbu mereka, serta tidak membuat mereka mengingkari
Tuhannya. Sedangkan menurut Imam Ghazali Zuhud adalah membenci dunia demi
mencintai akherat. Zuhud bisa juga berarti membenci selain Allah demi mencintai
Allah. Dikisahkan juga bahwa diantara para Nabi, karena tidak terhitungnya
harta dan kekayaan Nabi Sulaiman menjadikan dirinya nabi paling akhir masuk
surga. Disisi yang lain, kita juga tidak boleh mengesampingkan urusan-urusan
dunia sebagaimana hadits nabi :
“Ketahuilah,
demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut di antaramu kepada
Allah, dan orang yang paling takwa di antaramu kepadaNya. Tetapi aku berpuasa
dan berbuka; aku shalat (malam) dan tidur; dan aku menikahi wanita-wanita.
Barangsiapa membenci sunnahku (ajaranku), dia bukan dariku”.
Bahkan beliau membagi Zuhud
menjadi tiga tingkatan, tingkatan pertama untuk pemula. Dia berusaha hidup Zuhud
( Mutazahid) namun nafsu dan kecenderunganya tetap besar karena tarik menarik
antara keduanya sulit terhindarkan. Selalu latihan mengendalikan segala bentuk
keinginan adalah solusi terbaik untuk tingkatan ini. Tingkatan kedua adalah
sadar bahwa dunia hanyalah fatamorgana, keberadaanya hanyalah sebuah ilusi,
menghibur dan tidak abadi. Orang pada tingkatan ini sudah mampu mengetahui
hakikat hidup Zuhud, sehingga harta baginya hanyalah sebuah media untuk
menghantarkan seseorang untuk mendapat kebaikan. Zuhud yang ketiga inilah
sebenar-benarnya Zuhud. Imam Ghazali menggunakan istilah Zuhud dalam Zuhud.
Bagi orang-orang yang sudah mencapai tingkatan (maqom) ini, dunia adalah
sesuatu yang tidak berharga sehingga sejatinya manusia hidup di dunia adalah
proses perjalanan kehidupan yang akan berakhir pada titik final yaitu akherat. Imam
ghazali didalam bukunya mengatakan bahwa buah Zuhud adalah Itsar, yaitu tahap
paling tinggi dalam kedermawanan (Sakha’), yaitu suatu upaya mengeluarkan
kelebihan sesuatu yang tidak dibutuhkanya sebagai tanda adab yang baik (samhan)
bukan untuk tujuan yang dilandasi pamrih (takallufan). Itsar sendiri adalah
mengeluarkan sesuatu, meskipun itu dibutuhkanya, namun kecintaan kepada Allah
lah menjadikan si hamba memilih jalanNya. Lantas dimana keberadaan dunia?
Baginya dunia seperti seekor anjing yang berdiri didepan pintu, semakin kita
kejar dunia tersebut maka anjing tersebut semakin menunjukkan kebuasanya
sehingga semakin menyulitkan kita untuk memasuki pintu tersebut sebagai tujuan
kita. Sebagaimana firman Allah dalam surat asy-Syura’ ayat 20 “Sesiapa yang menghendaki (dengan amal usahanya)
mendapat faedah di akhirat, Kami akan memberinya mendapat tambahan pada faedah
yang dikehendakinya dan sesiapa yang menghendaki (dengan amal usahanya)
kebaikan di dunia semata-mata, Kami beri kepadanya dari kebaikan dunia itu
(sekadar yang Kami tentukan), dan ia tidak akan beroleh sesuatu bagianpun di
akhirat kelak (asy-Syura, 20).
Yang menarik dari aktualisasi Zuhud
adalah bahwa Zuhud tidak hanya menghindarkan diri dari sesuatu yang diharamkan
tetapi sesuatu yang dihalalkan juga menjadi perhatian bagi hamba-hamba yang
sudah mendapat julukan Abdal
(kepribadian spiritual yang tinggi tingkatanya), sebagai ilustrasi ada seorang
pembuat kue yang dengan sengaja memberi racun saat dia membuat adonan kue.
Sebagian manusia menyadari bahwa kue tersebut terdapat racun tetapi kebanyakan
tidak menyadarinya, bagi yang mengetahui bahwa didalam kue tersebut terdapat
racun maka dia akan bersifat Zuhud terhadap kue tersebut dan begitu sebaliknya.
Zuhud di era modern tentu dalam
pelaksanaanya akan sangat berbeda penekananya jika dibanding seribu tahun lalu,
karena tantangan zaman, peradaban yang selalu berubah maka sudah menjadi Sunnatullah
bahwa zahid (pelaku zuhud) harus pandai
menimbang dan menakar kenikmatan-kenikmatan dunia dalam takaran keimananya.
Karena bagi pelaku Zuhud, antara zahid satu dengan para zahid lainya akan
sangat berbeda berat, ukuran dan kedalaman ujian yang Allah berikan kepadanya.
Bisa jadi sebuah kemewahan yang Allah
berikan kepadanya justru menjadi media dakwah didalam mengenalkan agama
Allah, sehingga makna Zuhud tidak selalu identik dengan kemiskinan dan
kealpaan. Lebih dari itu, makna Zuhud lebih kepada sebuah tindakan yang mampu
menahan segala keinginan yang tidak banyak membawa manfaat baik untuk dirinya maupun
untuk agama Allah.
Seseorang yang mampu merasakan
nikmatnya hidup zuhud biasanya mempunyai ciri-ciri tertentu, salah satu contoh
adalah dia tidak merasa gembira terhadap sesuatu yang ada di depannya (harta
dan sebagainya) dan tidak akan sedih jika sesuatu itu diambil oleh Allah, tidak
risau jika dicela dan tidak berbangga hati jika dipuji. Semuanya pujian hanya milik Allah, makhluk
tidak sedikitpun mempunyai hak untuk dipuji, merasa sangat cinta kepada Allah dan perasaan itu membuat
ketaatannya menjadi sangat kuat. Sehingga segala perbuatan hanya disandarkan
kepada Allah semata. Semoga kita semua Allah jadikan termasuk orang-orang yang
mampu mengendalikan segala bentuk hawa nafsu yang mampu menyesatkan manusia
dari jalan kebenaran Tuhan.
ü
Abu al-Wafar al-Ghunnimi
al-Taftazani, 1985 : 54
ü
Abu Fajar al-Qalami, Ringkasan IHYA’ ULUMUDDIN (imam
al-Ghazali) Surabaya : Gitamedia Press, 2003) hal 343.
ü HR Bukhari, no. 5063; Muslim, no. 1401
ü Imam Ghazali,
Raudhah ath-Thalibin wa Umdah as-Salikin (Raudhah : Taman jiwa Kaum Sufi),
2005. Hal. 208
ü Imam Ghazali,
Minhajul Abidin, Jalan para ahli ibadah, khatulistiwa press, Hal. 64, 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar