AQIDAH & AKHLAQ
Mas Punk
UNDERSTANDING OF ISLAMIC SCIENCE
(PENGERTIAN ILMU MENURUT ISLAM)
Ilmu berasal dari bahasa Arab yaitu alima yang bermakna
mengetahui. Jadi sebuah proses untuk mengetahui sesuatu sesuai dengan kejadian
yang sebenarnya. Allah memposisikan ilmu di tempat yang lebih tinggi di banding
yang lain karena ilmu sebagai poros kehidupan yang mengatur benar salah nya
manusia saat bertindak. Allah SWT berfirman di dalam surat Al-Mujadalah 11 “Allah
mengangkat beberapa derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan”. Di dalam ayat ini dengan jelas Allah menjelaskan
bahwa Dia akan mengangkat derajat bagi manusia-manusia yang memiliki keimanan
dan ilmu pengetahuan, karena orang yang beriman dan orang berpengetahuan pada
dasarnya satu kesatuan. Seseorang tidak akan meyakini sesuatu jika tidak
memiliki pengetahuan tentangnya, maka dikatakan seseorang beriman jika dia
memiliki pengetahuan tentangnya.
Begitu mulia nya
posisi ilmu sehingga Rasulullah saw bersabda: “Sekiranya kamu keluar pada
waktu pagi untuk mempelajari satu bab dari ilmu adalah lebih baik dari kamu
sholat sunnah 100 rakaat” di salah satu kesempatan yang berbeda Rasul juga
pernah menyampaikan bahwa “tidak ada sesuatu yang lebih baik bagi Allah SWT
dari pada orang yang mempunyai ilmu, kemudian mengajarkannya kepada orang lain”.
Perbedaan ilmu menurut Barat dan Islam
Dalam
pengertian Barat modern, ilmu adalah sesuatu yang dapat di indera, fakta dan
rasional karena merujuk kepada perkara-perkara yang boleh dilihat dan dirasai
oleh panca indera lahir dan bersifat empiris. Jika menemukan di luar logika,
atau sesuatu yang tidak rasional maka dianggap bukan ilmu pengetahuan. Syarat
di katakana sebuah ilmu adalah mampu di buktikan secara empiris keberadaanya
sehingga sangat bersifat objektif. Sisi kelemahan nya adalah mereka tidak mampu
menggali nilai-nilai non empiris dari permasalahan-permasalahan yang ada di
masyarakat.
Sedangkan
pandangan Islam tentang ilmu adalah bagaimana menggabungkan antara sumber agama
dan ilmu pengetahuan itu sendiri. Justru di dalam Islam bahwa hal-hal yang
berkaitan dengan agama seperti fiqih, tauhid dan lain-lain adalah bagian dari
ilmu itu sendiri. Tidak hanya itu, hal-hal yang memang membutuhkan sebuah
keyakinan seperti mempercayai adanya alam Gaib juga termasuk ilmu pengetahuan
namun yang menjadi persoalan hal-hal yang demikian sulit untuk di buktikan
secara empiris karena ranah nya adalah di keyakinan. Namun sebuah keyakinan
tetaplah bagian dari ilmu.
Berdasarkan sumber nya, ilmu di bagi 2 :
1. Ilmu Husuli
Adalah ilmu
yang cara mendapatkanya melalui sebuah proses belajar, membaca, menganalisa,
meneliti dan mengkaji. Seperti kita sekarang yang sedang berproses untuk
mendapatkan ilmu yaitu dengan cara belajar setiap hari. Karena salah satu
syarat untuk mendapatkan ilmu adalah belajar dengan kurun waktu yang lama.
2. Ilmu Hudluri
Adalah ilmu
yang langsung dari Allah SWT, tanpa belajar. Sebuah anugerah dari Allah yang
hanya diberikan kepada siapa-siapa yang telah telah terbebas dari
kotoran-kotoran hati. Salah satu kisah
para wali Allah yang mendapatkan ilmu ini adalah kisah Nabi Musa dan Khidir,
dimana Khidir yang telah mendapatkan ilmu Hudluri mengajarkan Musa di dalam
banyak hal. Suatu ketika Allah menyuruh Musa untuk menemui seseorang dalam
rangka belajar, ketika Musa bertemu dengan Khidir maka Musa mengungkapkan bahwa
dirinya ingin belajar kepadanya. Lantas Khidir mengatakan bahwa dirinya tidak
akan kuat mengikuti tetapi Musa memaksa dan berfikir bahwa dirinya akan sanggup
dan kuat saat mengiktuinya. Di dalam sebuah perjalanan saat menyeberang lautan,
tiba-tiba Khidir melubangi perahu yang ditumpangi oleh mereka sehingga membuat
Musa protes atas apa yang di lakukan oleh Khidir sampai Khidir mengatakan bahwa
engkau tidak akan kuat mengikuti perjalananya. sehingga Musa meminta maaf atas
nya. setelah sampai di darat, tiba-tiba mereka bertemu seorang anak kecil
kemudian Khidir membunuhnya dan sontak membuat Musa geram atas apa yang di lakukan
Khidir, untuk kesekian kalinya Khidir mengatakan bahwa engkau tidak akan
sanggup mengikuti perjalanannya hingga Musa kembali meminta maaf dan berjanji tidak akan protes lagi. Kemudian
mereka tiba di suatu tempat yang rumahnya hamper roboh, dan di ajaklah Musa
oleh Khidir untuk memperbaikinya dan Musa pun kembali terheran-heran atas apa
yang di lakukan Khidir. Dan dari situlah Khidir menjelaskan satu persatu atas
apa yang terjadi kepadanya, kenapa dia melubangi kapal yang di tumpanginya
karena di saat menyeberang lautan ada sekelompok penjaga istana yang selalu
merampas kapal-kapal yang lewat sehingga dengan melubangi kapal tersebut
penjaga tersebut tidak perlu untuk merampasnya karena di anggap kapal rusak.
Kemudian kenapa dia membunuh seorang anak kecil yang di temuinya, karena Allah
telah mengabarkan kepada nya bahwa kelak anak tersebut akan tumbuh menjadi anak
yang durhaka kepada kedua orang tuanya sementara orang tua anak tersebut adalah
orang-orang sholeh Allah ingin mengganti anak tersebut dengan seorang anak yang
lebih baik darinya sehingga orang tuanya terbebas dari kesalahan-kesalahan anak
tersebut. Kemudian tatkala mereka singgah di suatu tempat dan menemukan rumah
yang akan roboh dan berusaha untuk memperbaikinya maka Khidir menjelaskan bahwa
rumah tersebut adalah milik anak Yatim dan di dalamnya terdapat banyak harta
peninggalan orang tua si yatim tersebut, Allah ingin mereka memperbaiki rumah
tersebut sehingga anak yatim tersebut dan harta nya selamat dari orang-orang
yang ingin berbuat jahat kepadanya.
Dari penjelasan
Khidir tentang kejadian-kejadian yang mereka lalui membuat Musa bertaubat
kepada Allah, bahwa sikap sombong bukanlah sikap yang baik bagi seorang makhluq
walaupun telah mengalahkan seorang raja sekalipun.
Sebuah riwayat
yang lain tentang keutamaan orang yang berilmu seperti 7000 derajat dari pada
orang beribadah, karena sekali lagi bahwa sebanyak apapun ibadah seseorang jika
dilakukan tanpa menggunakan ilmu maka baginya hanya lelah dan letih. Setiap
manusia wajib menuntut ilmu karena denganya manusia bisa selamat atau celaka.
Ilmu yang wajib di cari ada 3:
1.
Ilmu
Tauhid, yaitu ilmu yang berisi tentang pokok-pokok agama, dasar-dasar agama.
Seperti rukun Islam, rukun Iman dan hal-hal pokok lainya dalam agama.
2.
Ilmu
Syariat, yaitu ilmu tentang hukum-hukum Islam (Fiqih), mazhab-mazhab dalam
Islam seperti mazhab Syafi’I, mazhab Maliki, mazhab Hambali, mazhab Hanafi,
Mazhab Ja’fari, mazhab Zaidi, mazhab Tasdiqi, dan mazhab Ad-Dzahabi. Kedelapan
mazhab ini sudah di nyatakan sah bagi ulama’ dunia yang jika seseorang
mengikutinya maka dia haram untuk di kafirkan bahkan di sesatkan. Menurut
ulama-ulama dunia pengamalan ilmu Tasawuf juga merupakan sah untuk di ikuti
karena tetap bersumber kepada Al-Qur’an dan Hadits.
3.
Ilmu
Sirr (Tasawuf), ilmu batin yaitu untuk mengetahui penyakit-penyakit hati yang
di alami manusia. Karena dengan memahami ilmu ini, manusia akan terhindar dari
penyakit sombong, riya, ujub, dengki dan penyakit-penyakit hati lainya. Dan
ketika manusia sudah terbebas dari penyakit-penyakit hati maka dengan mudah
Allah akan membuka hijab yang selama ini menyelimutinya. Semoga Allah tetap
melindungi kita dari penyakit-penyakit hati yang selalu mengintai kita. Amin.
Tasawuf di bagi menjadi 2 :
a.
Tasawuf
amali
Yaitu tasawuf yang langsung kepada praktek,
mengikuti sebuah Tarekat tertentu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah
melalui bimbingan seorang Mursyid
b.
Tasawuf
Nazari
Yaitu tasawuf yang di kemas secara teori dalam
bentuk pemahaman tentang segala hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan. Ini
biasanya banyak di kaji di dalam dunia-dunia akademisi karena membutuhkan
sebuah pemahaman yang betul-betul mendalam.
Latihan soal
1.
Apa yang
kalian ketahui tentang ilmu?
2.
Apakah
yang menjadi perbedaan utama antara ilmu dalam pandangan Barat dan Islam?
3.
Berdasarkan
dari sumber-sumber nya, ilmu di bagi menjadi 2. Sebutkan dan jelaskan
masing-masing pembagian tersebut?
4.
Orang
yang berilmu ibarat 7000 derajat lebih mulia dari pada orang ahli ibadah,
jelaskan maksudnya?
5.
Jelaskan
perbedaan Tasawuf Amali dan Tasawuf Nazari?
Referensi
Imam Ghazali, Mukhtasar Ihya’
Ulumuddin, Pustaka Amani Jakarta
Imam Ghazali, Raudhah (Taman
Jiwa Kaum Sufi) Risalah Gusti. Surabaya.
Internet
Tidak ada komentar:
Posting Komentar